Selasa, 10 Juli 2012

SEJARAH - Coretan Dinding Pada Bungker Peninggalan Belanda di Cisauk

Sebuah rumah indis bergaya Eropa-China akhir abad ke-19 telah bersaksi atas retasan masa sebuah desa pada awal berdirinya Republik ini. 

John Verbeek berusaha membaca pesan dari pensil yang tertulis di dinding kamar yang pengap dan lembap. Menurutnya, banyak informasi yang didapatkan di kamar ini seputar aktivitas militer Belanda pada awal 1949 di Cisauk. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)

 

Jakarta, LP - Keringat membasahi wajah John Verbeek tatkala dia mengarahkan lampu senternya ke segala penjuru kamar yang kini dijadikan sebagai gudang nan lembap dan gelap itu. Lampu senternya tertuju pada coretan-coretan dari pensil di dinding bercat putih itu. Sambil menyeka keringat di dahi, dia tertegun pada sebuah infografis militer yang ditulis dengan rapi dan masih terlihat jelas: “Sinds 22-1-49 Buitgemaakte wapens en munite door I.V.D.-3-2 R.V.A, Tjisaoek.”
Verbeek, lelaki lima puluhan tahun yang selalu bersemangat ini adalah pemerhati bangunan pertahanan militer asal Den Haag, Belanda. Setidaknya lima ratus lokasi di Indonesia telah dia datangi untuk mendata sejarah tinggalan militer masa Hindia Belanda dan Jepang itu. Berdasar informasi dan arsip perpustakaan di Belanda, setiap tahun dia pergi menjelajah ke pelosok daerah di Indonesia.
“Tulisan ini dibuat pada awal 1949,” ungkap Verbeek sambil menunjuk judul tulisan dinding berbahasa Belanda, “ini menerangkan senjata dan amunisi yang berhasil dirampas oleh Resimen Artileri Medan Belanda dari tangan Republik.” Di bawah tulisan itu terdapat semacam kolom infografis yang menunjukkan senarai logistik militer seperti karbin, stengun atau senapan otomatis, revolver, tekidanto atau granat Jepang, mortir berbagai ukuran, granat tangan, dan peluru. Semuanya senjata-senjata dan amunisi itu dibuat ikonnya dengan rapi. “Tampaknya kamar ini digunakan sebagai pos komando militer.”
Tidak berlebihan apabila kamar pengap ini seolah mengantarkan Verbeek ke lorong waktu awal berdirinya Republik ini. Selagi mengamati keadaan kamar, dia menunjuk sederet lubang-lubang di dinding. “Ini adalah bekas tembakan!” ujarnya seraya menginvestigasi. “Nah, arahnya dari sebelah sana,” ungkapnya sambil mengarahkan senter ke jendela. Sejatinya apakah yang telah terjadi di kamar ini enam puluh tiga tahun lalu?
Tempat perlindungan bawah tanah di Cisauk ini tampaknya merupakan tinggalan militer Belanda. Fungsinya melindungi penghuni dari serangan udara. Ruangannya cukup untuk menampung duapuluh orang. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Verbeek masih memeriksa dinding itu dengan saksama. Dia membuka kaca matanya, lalu mendekatkan pengelihatannya  ke coretan-coretan pensil lainnya. Lelaki ini mencoba menafsirkan apa saja yang telah ditulis tentara-tentara Belanda pada beberapa minggu setelah Agresi Militer II meletus. “Broodrantsoen!” ungkapnya pada sebuah tulisan berarti “Jatah Roti” itu.
Dari logistik ini bisa diketahui siapa saja yang terlibat dalam operasi militer di Cisauk ini. Sebuah senarai di bawahnya menjelaskan bahwa mereka tentara-tentara dari kesatuan KL (Koninklijke Landmacht atau Tentara Kerajaan) dan KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia-Belanda), serta dua kesatuan lainnya yang belum teridentifikasi.
John Verbeek berusaha membaca pesan dari pensil yang tertulis di dinding kamar yang pengap dan lembap. Menurutnya, banyak informasi yang didapatkan di kamar ini seputar aktivitas militer Belanda pada awal 1949 di Cisauk.
Dia beralih ke dinding dekat jendela yang selamat dari berondongan tembakan. Pendaran lampu senternya menerangi sebuah tulisan ”Slotten” yang tampaknya menunjuk pada orang-orang kunci tokoh Republik.

Tulisan nama-nama itu sudah kabur, nyaris tak terlihat lagi. Namun, dia mencoba membacanya. Dari delapan nama hanya lima yang masih terbaca: Djaja, Hammam, Oedjang, Moechlis, M. Ishak, dan Soehada. Seluruh nama tadi bertanda coret dan dibelakangnya bertanda silang, kecuali Oedjang yang hanya diberi tanda tanya.
Siapa orang-orang itu masih misteri. Menurut Verbeek, mungkin kita bisa saja mengecek nama-nama ini di Taman Makam Pahlawan Seribu di Serpong. “Saya yakin nama-nama ini bukan pengkhianat Republik,” ungkap Verbeek.” Tidak mungkin nama para kolaborator ditulis di dinding.”
Kamar yang berada dalam sebuah rumah bergaya Eropa-China tak terawat itu terletak di pinggiran jalan berdebu Cisauk-Serpong, Tangerang Selatan. Lokasinya sangat strategis untuk markas komando militer karena tak jauh dari Stasiun Cisauk, bantaran barat Sungai Cisadane. Beranda depan yang awalnya terbuka, kini telah menjelma sebagai tempat usaha jahit yang dimiliki penyewa rumah itu. Meskipun demikian, empat pilar anggun dan lantai bercorak dekoratifnya masih diabadikan—entah sampai kapan—sebagai penanda zaman.
Sebelum senja meluntur, Verbeek telah berencana melakukan observasi ke dalam tempat perlindungan dari serangan udara di bawah tanah atau bungker. Letaknya di halaman samping rumah, lubang masuknya tepat di bawah jendela kamar tadi. Untuk memasuki ruangan perlindungan bawah tanah, dia harus melewati pintu utama yang hanya cukup satu orang. Lalu meniti beberapa anak tangga sampai ke dasar. Beberapa kelelawar yang merasa terganggu itu berputar-putar di dalam ruangan karena tamu tak diundang.
John Verbeek bersiap memasuki tempat perlindungan bawah tanah. Kemungkinan tempat ini digunakan militer Belanda pada akhir 1940-an. (Mahandis Y. Thamrin/NGI)
Sembari berjongkok memeragakan bagaimana biasanya orang-orang itu berlindung, dia berkata. “Ruangan ini cukup untuk duapuluh orang!” Ternyata ruangan dalam cukup lega dengan panjang sekitar enam meter. Langit-langitnya berbentuk lengkung setinggi dua meter sehingga orang bisa berdiri di dalamnya. Tempat perlindungan ini mempunyai jalan pintu keluar yang kini tembus di tempat parkir sebuah Klenteng Kwan Im Hud Cow. Tampaknya, saat rumah ini masih dihuni sebagai markas komando militer, halaman sampingnya masih berupa kebun.

Lalu mengapa Belanda masih melakukan operasi militernya di Cisauk pada 1949?
Awal 1948 telah disetujui perjanjian Indonesia dan Belanda di atas kapal USS Renville. Perjanjian itu menyatakan bahwa Belanda hanya mengakui sebagian wilayah Republik, yaitu Sumatera, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Artinya terdapat garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan Belanda. Sebagai konsekuensi garis demarkasi tersebut, tentara Republik harus ditarik mundur ke wilayah Republik.
Perselisihan mengenai wilayah-wilayah yang terbagi dalam demarkasi ini baru berakhir 27 Desember 1949. Bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat―tidak termasuk Nederlands Nieuw-Guinea. “Dalam garis demarkasi itu, Cisauk merupakan wilayah yang dikuasi Belanda,” pungkas Verbeek. (tams/ngi/*)

Senin, 09 Juli 2012

SOSBUD - Kamus Kedokteran Menggunakan Bahasa Jawa

Kamus ini berisi kosakata bahasa Jawa (dari bagian kepala hingga kaki) yang dihubungkan dengan istilah kedokteraan.

Naskah kuno dengan aksara Jawa Kuno. Pelestarian naskah kuno seperti ini mengalami tantangan dalam hal pemeliharaan dan kepedulian. Kisah mengenai naskah kuno Nusantara bisa disimak dalam NGI Januari 2012. (Hafidz Novalsyah/NGI)

  Jakarta, LP  - Untuk melestarikan bahasa daerah sebagai salah satu hasil kebudayaan Indonesia, kamus kedokteraan bahasa Jawa pun diciptakan. Kamus kedokteraan berbahasa unik ini diharapkan bisa mempermudah komunikasi antara dokter dan pasien bila berhadapan dengan pasien yang berasal dari provinsi Jawa.

Inovasi kamus kedokteraan Jawa ini digagas oleh empat mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang berhasil menjadi finalis Pekan Ilmiah Nasional (Pimmas) 2012 di bulan Juli. Mariana Ulfa, Birrul Qodriyah, Mutik Sri Pitajeng, dan Nurul Abdul Aziz, inilah mereka.
“Bahasa Jawa sangat menarik untuk dipelajari, memiliki tingkatan bahasa seperti bahasa ngoko, krama alus, serta krama inggil. Dengan kekayaan bahasa yang dimilikinya, perlu adanya pelestarian agar tidak punah di masa mendatang,” papar Mutik di Yogyakarta, Kamis (5/7).
Ide penuangan bahasa Jawa ini dipicu atas keluhan dokter khususnya dari luar negeri yang tidak paham bila berkomunikasi dengan pasien Jawa. Padahal, komunikasi yang baik sangat dibutuhkan untuk proses penyembuhan pasien.
“Kamus ini akan sangat dibutuhkan karena banyak orang Jawa tersebar di tanah air. Dengan kamus ini, dokter bisa mendapatkan dengan detail apa yang dikeluhkan pasien,” katanya.
Mutik menceritakan, kamus ini berisi kosakata bahasa Jawa (dari bagian kepala hingga kaki) yang dihubungkan dengan istilah kedokteraan. Tak hanya itu, percakapan bahasa Jawa juga tercantum di dalamnya. Saat ini sudah ada 200 kosakata yang dituliskan dan diterjemahkan dalam bahasa Latin dan Inggris (selain bahasa Indonesia).
“Kamus ini sudah diujicobakan dan banyak mendapat respon dari para dokter di beberapa rumah sakit di Yogyakarta. Kamus ini menolong mereka dalam berkomunikasi dengan pasien yang menggunakan bahasa Jawa,” tambahnya.
Ia menambahkan, kamus ini akan diproduksi massal ke seluruh Indonesia karena ini adalah kamus kedokteraan pertama dengan menggunakan bahasa Jawa. (tams/ngi)

INTERNASIONAL - Lima Situs Bersejarah Dunia Dalam Kondisi 'Bahaya'



UNESCO menyatakan dari 5 situs ini, situs yang berada di Mali dianggap kondisinya paling riskan. 

 

Masjid Djinguereber Timbuktu, Mali. (LP/thinkstockphoto)

 

JAKARTA, LP - UNESCO baru-baru ini mengumumkan daftar lima situs dunia dalam bahaya atau memprihatinkan. Aksi perusakan dan penjarahan menjadi "penyakit' yang kerap terjadi. Tapi, kondisi ini sulit dicegah dan sering luput dari perhatian.
Daftar ini dibuat sebagai peringatan awal dan kekhawatiran akan kondisi terkini dari situs-situs tersebut. "Daftar Situs dalam Bahaya merupakan usaha untuk menarik perhatian terhadap masalah yang dialami situs tertentu untuk meningkatkan manajemen mereka," kata juru bicara UNESCO Roni Amelan.
Demi memberikan perhatian terhadap kondisi situs, seringkali bantuan internasional dan berbagai ahli dilibatkan. Diharapakan adanya sebuah upaya pelestarian terhadap keberadaan situs-situs tersebut. Berikut adalah Daftar 5 Situs Warisan Dunia dalam Bahaya versi UNESCO:
1. Masjid Djinguereber Timbuktu, Mali
Situs ini dibangun pada akhir abad ke-5 sebagai desa dengan pasar yang sederhana. Namun, Timbuktu berubah menjadi pusat intektual dan spiritual yang penting di bawah dinasti Askia hingga menjelang akhir abad ke-15. Sekarang, muncul keprihatinan internasional terhadap penjarahan dan pengrusakan yang sering terjadi pada situs bersejarah ini.
Insiden terakhir terjadi ketika kelompok bersenjata MLNA dan Ansar Dine melakukan perusakan dan penjarahan terhadap situs ini. Bulan Juni lalu, Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova mengungkapkan kekecewaannya atas laporan yang menyatakan bahwa tiga kuburan suci di Timbuktu telah dihancurkan.
"Tidak ada pembenaran untuk kehancuran tersebut. Saya meminta pada semua pihak yang terlibat konflik untuk segera menghentikan tindakan yang mengerikan itu," kata Bokova.
2. Gereja Bethlehem, Palestina
Gereja Bethlehem, yang dipercaya umat Kristen sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus, baru saja dinobatkan UNESCO masuk kedalam Daftar Warisan Dunia. Namun, di waktu yang sama pula Gereja Bethlehem masuk dalam Daftar Warisan Budaya Dunia dalam Bahaya pada tahun ini karena kekhawatiran akan kebocoran air yang terjadi. Gereja Bethlehem masuk menjadi situs Warisan Dunia pertama bagi Palestina setelah tahun lalu mendapatkan keanggotan penuh dari UNESCO. Namun, masuknya Bethlehem sebagai warisan dunia masih sedikit kontroversial, mengingat Israel dan Amerika Serikat masih menentang keanggotannya.
3. Liverpool Maritime Mercantile, Inggris
Liverpool menjadi salah satu pusat utama perdagangan dunia di abad 18 dan 19 dan memainkan peran penting dalam pertumbuhan dari Kerajaan Inggris. Inilah yang membuat Liverpool Maritime Mercantile City masuk dalam Situs Warisan Dunia pada tahun 2004.
Tapi adanya usulan pembangunan Liverpool Waters mengancam cakrawala dan profil dari Liverpool Maritime Mercantile City. Inilah yang membuat situs tersebut masuk dalam daftar lokasi Situs Warisan Dunia dalam Kondisi Bahaya.
4. Portobelo, Panama
Benteng Kolonial di Portobelo dan San Lorenzo pernah menjadi salah satu contoh terbaik arsitekur militer Panama pada abad 17 dan abad 18. Menjadikannya masuk sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1980.

Benteng Portobelo, Panama (LP/thinkstockphoto)
Ironisnya, benteng ini terlihat hanya dari gambar reruntuhan dan meriam berkarat. Menunjukkan pertanda jelas bahwa situs ini telah dilalaikan. Komite Warisan Dunia meminta Panama untuk melakukan peninjauan dan melakukan renovasi terhadap situs benteng kolonial bersejarah ini.




5. Makam Askia, Mali
Makam ini dibangun pada tahun 1485 yang digunakan untuk pemakaman Toure, yaitu raja kuno dari Kekaisaran Songhai. Ini merupakan situs kedua dari Mali yang masuk kedalam Daftar Situs Warisan Dunia dalam Bahaya. Kelompok bersenjata yang saat ini menduduki komplek pemakaman ini dikhawatirkan akan melakukan aksi perusakan.

Makam Askia, Mali (LP/ Thinkstockphoto)


UNESCO menyatakan dari lima Situs Warisan Dunia dalam Bahaya yang dirilis tahun ini, situs yang berada di Mali dianggap dalam kondisi paling ringkih.
Negara yang terletak di Afrika Barat ini sedang mengalami konflik. Persatuan Bangsa-banga (PBB) sampai turun tangan dengan berusaha membantu warga negara Mali meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran di bagian utara negeri itu.
"Peristiwa yang terjadi di Mali bertentangan dengan semangat kerja yang dilakukan oleh UNESCO dan oleh Komite Warisan Dunia," kata Amelan. (tams/ ngi)

Jumat, 06 Juli 2012

JAGAD UNIK - Tas Tertua di Dunia Berhiaskan Gigi Anjing


Bersamaan dengan proyek penemuan tas ini, ditemukan pula makam seorang wanita yang dikuburkan dengan setengah kilogram emas.

Tas berhiaskan ratusan gigi anjing yang ditemukan di Jerman. Hiasan seperti ini diperkirakan jadi hal umum saat Zaman Batu dan dianggap sebagai sesuatu yang modis. (Klaus Bentele, LDA Halle)
Jakarta, LP - Tas tertua di dunia ditemukan di Jerman dengan pujian pada si pemilik yang dianggap memiliki cita rasa tinggi pada Zaman Batu. Hiasan yang ditemukan pada tas tersebut bukan manik-manik atau batu berwarna. Melainkan gigi anjing.
Mesin penggali di sebuah situs dekat Leipzig menemukan lebih dari ratusan gigi anjing tersusun secara berdekatan dalam sebuah kuburan yang tertanggal antara 2500 hingga 2200 Sebelum Masehi. Gigi anjing ini ditemukan dalam penggalian situs profen, yang menurut rencana akan dijadikan tambang batu bara pada tahun 2015 mendatang.
Memang para arkeolog tidak menemukan tas ini dalam kondisi utuh karena sudah terkubur selama ribuan tahun. Akan tetapi gigi anjing yang diduga sebagai hiasan pada tas tersebut masih tersisa dan tersusun dengan rapi. Arkeolog Susanne Friederich mengungkapkan bahwa gigi anjing tersebut merupakan hiasan untuk tutup luar dari tas.
"Selama bertahun-tahun kulit atau kainnya telah hilang yang tertinggal hanyalah gigi. Dan kesemuanya tersusun ke arah yang sama, sehingga terlihat seperti tutup tas yang modern," kata Friederich, dari The Sachsen-Anhalt State Archaeology and Preservation Office.
Sejauh ini proyek penggalian yang sama telah menemukan berbagai bukti adanya pemukiman ketika Zaman Batu dan Zaman Perunggu. Bukti-bukti yang ditemukan antara lain lebih dari 300 kuburan, ratusan peralatan dari batu, tombak, keramik, dan kalung. Bahkan ditemukan makam seorang wanita yang dikuburkan dengan setengah kilogram emas pada tahun 50 Sebelum Masehi.
Di antara semua temuan itu, menurut Friederich, penemuan dompet atau tas ini merupakan sesuatu yang istimewa. Karena baru pertama kali ditemukan model tas seperti ini. "Ini pertama kalinya kami dapat menunjukkan bukti langsung tas yang model seperti ini," kata dia.
Hiasan yang berasal dari gigi anjing dan serigala nampaknya sudah umum pada Zaman Batu. Hal ini terbukti dari hasil penggalian kerap kali ditemukan gigi anjing dan serigala pada hiasan rambut dan kalung, baik untuk laki-laki dan perempuan. "Sepertinya sudah sangat modis pada waktu itu," kata Harald Staueble, arkeolog senior di Kantor Arkeologi Saxon, Jerman. (tams/ngi)

Selasa, 26 Juni 2012

OPINI - Kenapa 'Ambon Ungaran' Galak Pada Wartawan (Duka Peliput Jatuhnya Fokker 27)



Tulisan ini hanya keluh kesah yang berdasarkan kenyataan yang berlandaskan hukum. Sangat miris mendengar cerita para jurnalis yang kala itu meliput tragedi kecelakaan Fokker 27 yang jatuh pada Kamis (21/6/2012), di Kompleks Perumahan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

'Ambon Ungaran' atau Angkatan Udara milik TNI nampak sekali menghalangi tugas jurnalistik yang sesungguhnya telah dilindungi Undang-Undang, seperti yang terjadi pada rekan-rekan jurnalis TV, cetak maupun online. Mulai dari perampasan kaset, memory card, intimidasi bahkan kekerasan fisik.

Gambar lokasi kejadian diambil fotografer dari jarak jauh. Hal ini menandakan wartawan dibatasi aksesnya untuk mengambil gambar. (LP/Republika)
Beberapa kali saya mendengar cerita dari beberapa rekan jurnalis, salah satunya jurnalis TV yang bernama Eko. Dia menuturkan, bagaimana tidak seorang jurnalis yang meliput jatuhnya Fokker 27 harus memutar otaknya agar bisa mendapatkan gambar atau data. Saat mereka tiba di lokasi kejadian, mereka disambut dengan pengusiran Provost, dengan pongah Provostpun mengatakan pada wartawan, "Ini peraturan, tidak boleh diliput," tegasnya. Tak habis akal para jurnalis ini mencari jalan lain yaitu dengan mencari semak-semak bahkan masuk ke sawah dekat area tol agar bisa mendapatkan gambar puing-puing Fokker 27, sesampai di sana ternyata wartawan juga bertemu warga Pemukiman TNI AU, dan warga melaporkan ke Provost dan terjadilah adu mulut antara wartawan dan Provost. Bahkan rekan wartawan juga mendapat kabar bahwa angkot menuju perumahan tersebut dirazia oleh Provost, takut jikalau dimasuki waratwan. Lantas begitu antipatikah sekumpulan abdi negara ini pada pekerja media?

Namun dari beberapa wartawan ada yang mengelabui para anggota dengan berbagai cara yang unik, seperti Zugro salah satu wartawan TV, dengan sigap ia menjawab saat Provost mencegat dan menanyakan dia hendak kemana. "Saya kernet truk deko, saya buru-buru nih," ucap Zugro dengan logat Batak yang disengaja pada Provost tersebut. Sesampai di dalam ia langsung mengambil gambar dengan Blackberrynya, hampir saja ia ketahuan oleh petugas lain yang menjaga tempat kejadian perkara di Komplek Rajawali, Perumahan TNI AU, Halim PK. Spontan Zugro langsung berpura-pura mengatur truk yang sedang lewat.

Lain hal dengan Moko wartawan media online, setibanya di tempat kejadian ia langsung bermuka sedih dan berteriak pada petugas yang menghampirinya, "keluarga saya ada disana Pak," katanya, stelah lolos ia langsung mengeluarkan ponsel dan mengabadikan gambar. Ada juga yang berpura-pura menelepon dengan ekspresi sedih, namun tangan yang satu mengabadikan gambar.

Gambar lokasi kejadian diambil fotografer dari jarak jauh. Hal ini menandakan wartawan dibatasi aksesnya untuk mengambil gambar. (LP/Republika)
Tidak hanya di tempat kejadian, wartawan juga tak diijinkan memasuki RSAU dr Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma. Salah satu rekan wartawan online bernama Aji, berpura-pura menangis saat hendak menuju ke ruang IGD yang dijaga Provost, ia lalu berteriak, "Mama saya meninggal di dalam Pak," ucapnya. Akhirnya iapun boleh masuk namun sesampai di dalam ia juga tak mampu berbuat banyak, ia pun tak berani mengambil gambar karena banya k Provost yang menjaga. Dan masih banyak kejadian unik lainnya.

Perusakan Kaset Oleh Aparat

Stif salah satu wartawan TV saat di lokasi kejadian di Komplek AU tersebut sedang melaporkan kejadian via telepon sempat dimaki aparat dan mengusirnya.

Sejumlah wartawan dari media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Anti Kekerasan, berunjuk rasa di sekitar Bundaran HI Jakarta Pusat, Rabu (30/5/2012). Mereka memprotes tindak kekerasan terhadap sejumlah jurnalis oleh oknum Marinir di Padang, Sumatera Barat. (LP/tribunnews)
Oleh karenanya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam keras kekerasan serta perampasan kaset dan ID card, yang dilakukan aparat TNI AU terhadap jurnalis yang sedang meliput berita pada Kamis (21/6/2012), di Kompleks Perumahan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kasus ini menimpa Urip Arpan (Kontributor Televisi Berita Satu), Dhika (Jurnalis Kompas TV), dan Reza (Fotografer Harian Kompas), saat akan mengambil gambar reruntuhan pesawat Fokker 27 yang jatuh di Kompleks Perumahan Rajawali, Halim Perdanakusuma.
Menurut Urip Arpan, peristiwa ini bermula saat ia  hendak mengabadikan lokasi pesawat Fokker 27 milik TNI-AU yang jatuh di daerah Halim.
Tiba-tiba, lehernya ditarik oleh salah seorang provost TNI-AU. Secara mengejutkan, provost tersebut juga mengeluarkan kata-kata ancaman bernada intimidasi, "Saya ambil kameranya, apa kasetnya yang dikeluarkan."   
Akhirnya, Urip menuruti keinginan provost tersebut. Lantas, kaset dirusak dengan cara menarik pita seluloid keluar dari selongsong.
Tak terima dengan perlakuan itu, Urip kemudian menanyakannya, "Kenapa seperti itu, Pak?".
"Ini peraturan, tidak boleh diliput,", jawab sang provost TNI-AU.
Tak habis akal, Urip kemudian berpindah ke lokasi lain. Kali ini ia hanya menggunakan kamera BlackBerry untuk mengambil gambar.
Namun lagi-lagi, saat sedang melakukan tugas jurnalistik, ia dilarang oleh seorang anggota TNI-AU berpangkat mayor. Saat itu, ID card-nya yang dirampas.
"Kamu dari wartawan mana?". Secara spontan Urip menjawab, "Berita Satu TV, Pak."
Urip kemudian mengeluarkan surat tugas. Seusai membaca surat, baru lah sang mayor mengetahui informasi mengenai Televisi Berita Satu.
Setelah itu, meski hanya menggunakan BlackBerry, Urip tetap tidak diizinkan mengambil gambar. Atas perlakuan yang dialaminya, Urip kemudian mengadukan kasusnya kepada pejabat penerangan TNI AU. Namun tidak ada tanggapan.
Belakangan diketahui, bukan hanya Urip yang mengalami perampasan kaset, seorang fotografer Harian Kompas  dan Jurnalis Kompas TV juga mengalami hal serupa.
Secara paksa, memory card yang mereka gunakan untuk menyimpan gambar juga dirampas aparat TNI AU.
Tindakan aparat TNI AU ini merupakan bentuk pelanggaran UU Pers No 40/1999 pasal 4 ayat (2) yang berbunyi, "Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelanggaran penyiaran."
Pelanggaran pasal ini diancam dengan hukuman penjara dua tahun atau denda Rp 500 juta, seperti tercantum pada pasal 18 ayat (1) yang berbunyi, (1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja dan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Sejak Januari hingga Juni, sedikitnya telah terjadi 20 kasus kekerasan terhadap jurnalis.
Kekerasan terhadap jurnalis terus berulang, karena sejumlah pihak tidak paham atas tugas penting yang diemban oleh jurnalis.

Atas kejadian ini, AJI Jakarta mendesak panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara untuk menindak para pelaku kekerasan terhadap jurnalis.
"AJI Jakarta menuntut para pelaku diadili sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, demi mendorong kesadaran setiap warga negara, bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi oleh hukum," ujar Ketua AJI Jakarta Umar Idris, lewat rilis yang diterima, Sabtu (23/6/2012). (tams/tribun)

LINGKUNGAN - Monyet Daun di Kawasan Gunung Slamet Terancam Punah

Beralihnya ahli fungsi lahan dari hutan menjadi non hutan menjadi ancaman bagi habitat monyet daun

 

Monyet daun perak, spesies ini ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Populasinya yang makin menipis menjadikannya masuk dalam daftar endangered IUCN (LP/Thinkstockphoto).

Jakarta, LP -  Rekrekan atau monyet daun (Presbytis fredericae) salah satu primata endemik pemakan daun di kawasan Gunung Slamet habitatnya kian terancam. Terbatasnya luas hutan pegunungan, perkembangan pembangunan yang meningkat di bidang pemukiman, perkebunan, dan pertanian di Pulau Jawa menyebabkan terancamnya habitat monyet daun.

Di pulau Jawa, tempat hidup primata ini kian hanya terbatas pada daerah hutan yang terisolasi seperti Gunung Slamet, Gunung Cupu - Simembut, Gunung Dieng dan Gunung Lawu. Berdasarkan penelitian Abdi Fitri, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, habitat yang digunakan oleh rekrekan di Gunung Slamet adalah seluas 33.230 hektare.
Di Gunung Slamet, rekrekan paling banyak ditemukan di daerah tingkat lereng yang curam. Paling banyak ditemukan pada lereng dengan sudut kemiringan 35-40 derajat sebanyak 28 kelompok dan 131 individu. Sedangkan pada lereng 25-35 derajat ditemukan sembilankelompok dan 43 individu.
Menurut Abdi, kelerengan dapat membantu rekrekan terhindar dari predator dan dapat memiliki pandangan yang lebih luas. Bahkan rekrekan banyak ditemukan pada ketinggian habitat di atas 600 meter dari permukaan laut. “Ketinggian 1.100-1.300 mdpl merupakan ketinggian dimana rekrekan paling banyak ditemukan, karena pada ketinggian itu ditemukan pakan yang bervariasi,” kata Abdi Fitria, dalam ujian promosi doktor di Fakultas Kehutanan UGM, Sabtu (23/6).
Ia melanjutkan, kondisi hutan di area Gunung Slamet yang telah mengalami alih fungsi dari lahan dari hutan menjadi non hutan, serta keberadaan hutan primer dengan kanopi dan tutupan yang luas sangat mempengaruhi keberadaan dan penyebaran primata ini. “Ditemukan delapan kelompok dengan 68 individu di daerah hutan primer,” katanya.
Hutan primer di Gunung Slamet menjadi penting bagi rekrekan karena ketersediaan pakan alami yang spesifik. Pakan ini memungkinkan rekrekan untuk dapat berkembang biak dan memperbanyak keturunan. “Semakin luasnya pembukaan lahan, akan semakin mendesak habitat rekrekan dan akan mengarah pada penurunan jumlah populasi rekrekan,” ujarnya.
Dari hasil penelitian Abdi Fitri, rekrekan merupakan golongan primata yang memiliki sistem sosial dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Tidak pernah ditemukan adanya sistem berpindah antar anggota kelompok rekrekan, khususnya individu betina.
Bahkan yang lebih unik lagi, individu jantan dan betina yang telah dewasa akan meninggalkan kelompoknya dengan perlahan dan membentuk kelompok sendiri. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kompetisi makan antar pejantan dan sebagai upaya memperoleh kehidupan berupa sumber pakan yang lebih berkualitas.
Abdi mengusulkan, perlu adanya peningkatan sosial ekonomi dan partisipasi masyarakat dalam usaha perlindungan dan pelestarian hutan melalui program ekowisata dan eduwisata. Namun yang tidak kalah penting, ujar Abdi, perlu dilakukan peningkatan status kawasan dan kegiatan pembinaan habitat sehingga ekosistem Gunung Slamet tetap lestari. (tams/NGI)

Senin, 25 Juni 2012

REGIONAL - Aneh, Bus & Truk Tersesat di Hutan Tanpa Lecet dan Jejak Ban

Jakarta, LP - Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Bus itu mengangkut 33 penumpang.

Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah.

Bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk Beton Jaya Mix, tepatnya di Desa.Kedungbacin Kec.Todanan Kab.Blora tiba-tiba berada di hutan (tribun/LP)


Awalnya, bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura, tepatnya di jalur Juwana-Rembang, Kamis (22/6/2012) dini hari.

Karena lalu lintas macet, sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa. Entah bagaimana, bus tersebut mendadak masuk ke kawasan hutan jati Gadogan di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Ceritanya, ketika menempuh jalan pintas itu, di perbukitan yang dipenuhi pohon jati, bus berjumpa dengan truk beton.

Sopir berusaha mendahului truk namun kernet meminta sopir membiarkan truk duluan mendaki. Truk akhirnya bisa mendaki, disusul bus.

Pendakian bus tidak mulus. Ban belakang selip, lalu berjalan mundur. Kemudian terdengar suara benturan.

Kernet dan sopir turun dari bus coba melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, mesin mobil mati. Sopir dan kernet kaget bukan main karena menyadari posisi mobil tidak lagi di jalan tapi di tengah-tengah hutan jati.

Waktu itu pukul 02.30 dini hari. Kernet membangunkan 33 orang penumpang bus.

Sekitar pukul 06.30 WIB, kru mencoba mencari pemukiman warga dan meminta bantuan. Warga lalu melapor kepada lurah setempat.

Setelah sekitar lima jam di tengah hutan jati itu, pertolongan datang. Mobil patroli bersusah payah masuk ke TKP. Maklumlah, lokasi bus itu rupanya hanya jalan setapak.

Agar bisa keluar, sebagian pohon ditebang dan jalanan diratakan. Pada pukul 18.35, barulah bus itu mencapai jalan desa.

Anggota Sektor Pelayanan Masyarakat Polsek Todanan, Blora, Jawa Tengah, Briptu Suwignyo, yang dikonfirmasi, terheran-heran. Bodi bus dan truk tidak lecet terkena ranting pohon kalaulah kedua mobil itu menerabas hutan dan memaksa melewati jalan setapak di hutan jati itu.

"Ini memang kejadian aneh, tapi nyata. Wong, bus dan tronton itu lagi melaju di jalan raya, tiba- tiba ada di hutan. Dan, anehnya lagi, gak ada body bus maupun truk yang tergores. Padahal, kendaraan itu di antara rerimbunan pohon," tutur Briptu Suwignyo kepada Tribunnews.com, Minggu (24/6/2012).

Logikanya, kata Briptu Suwignyo body bus truk tergores ranting-ranting atau tumbuh-tumbuhan belukar apabila memang sengaja mengambil rute jalan setapak.

"Ranting pohon yang menjepit bus besar-besar. Untuk mengeluarkan bus dan tronton itu, kami bersama warga perlu membabati dan menguruk jalan, karena harus melalui persawahan," katanya.

Pihak PO Bus Pahala Kencana ketika dikonfirmasi mengenai kabar tersebut belum mau memberikan informasi detail. Mereka berjanji akan memberikan keterangan pada hari Senin(25/6/2012) besok.

"Besok saja mas, sekarang hari libur, enggak ada orang," kata seorang petugas saat dihubungi wartawan.

Fenomena Mesin Waktu Kerap Terjadi, Kasus Bus Pahala Kencana dan Truk Beton Yang Terheboh

Truk Beton Jaya Mix,juga ikut tersesat di dalam hutan (tribun/LP)


Peristiwa langka bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura yang pindah dalam sekejap ke hutan jati wilayah Blora, Jawa Tengah ternyata bukan pertama kali terjadi. Adalah Briptu Soewignyo yang sehari-hari berdinas di Sentra Pelayanan Masyarakat Polsek Todanan, Blora, Jawa Tengah, menyatakan tak heran lagi adanya peristiwa ganjil yang terjadi di kawasan Hutan Bonggan tersebut.

Rimba yang kerap disalahgunakan sekelompok orang yang bertujuan ingin kaya mendadak itu, beberapakali mencuatkan fenomena ganjil berbau mistis. Selama sembilan tahun terakhir, setidaknya telah empat kali ada kejadian ganjil.

"Yang paling heboh ya, bus Pahala Kencana dan dua truk tronton tiba-tiba ada di tengah hutan Bonggan kemarin," kata Briptu Soewignyo kepada wartawan, Minggu (24/6/2012).

Polisi yang telah menjadi kakek dari dua cucu ini mengungkapkan, kejadian aneh pertama terjadi sekitar sembilan tahun lalu. Grup kesenian ketoprak yang disewa warga untuk menghibur masyarakat dalam hajatan, malah tersesat di kawasan hutan.

"Ya warga di sini heboh, karena ditunggu-tunggu ketopraknya enggak datang. Tahu-tahu besoknya ramai, karena grup ketoprak itu ada di tengah hutan. Bingung juga karena mereka merasa main ketoprak di rumah yang punya hajatan," kisah Briptu Soewignyo.

Tiga tahun lalu, giliran penduduk setempat. Ketika mengendarai motor malam hari dekat kawasan hutan, juga tersesat di belantara.

"Dia enggak bisa pulang selama dua hari dua malam. Setelah diikhitiarkan, baru ketemu. Ternyata dia di tengah hutan. Ngakunya ya lagi naik motor saja di jalan," tutur Soewignyo.

Polisi yang 18 bulan lagi pensiun ini pun mengalami sendiri pengalaman unik seperti itu. Menurut cerita Soewignyo, saat ia mau pulang dari Mapolsek Todanan, hujan deras mengguyur wilayah Blora.
Sebelum menerobos guyuran hujan, ia mengenakan jas hujan dan helm. Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer menuju rumahnya di Kenduruan, Blora, ia melintas di kawasan hutan.

"Lampu utama motor saya tiba-tiba rusak, mau copot kacanya. Terus saya betuli sejenak, selanjutnya sambil jalan saya pegangi. Tapi, saya enfgak sampai-sampai rumah. Ternyata saya semalam suntuk ada di tengah hutan," ujar Briptu Soewignyo lalu tertawa.

"Itu pengalaman yang terlupakan, karena aneh. Saya merasa naik motor di jalan, ternyata ada orang yang melihat saya mengatakan, saya ada di tengah makam. Mereka mengira saya penjahat, karena malam kan enggak bisa melhat saya dengan jelas. Apalagi saya pakai mantel dan helm," jelasnya.

Paginya, Soewignyo baru menyadari berada di tengah makam, setelah ditegur orang.

"Sejak peristiwa itu, kalau saya melintas dekat kawasan itu, ya nyanyi-nyanyi saja sekerasnya. Dibilang takut berani tidak, takut pun tidak. Cuma ya repot, kalau kejadian yang saya alami terulang," kata ayah empat anak ini lalu tertawa lagi.

Kendati demikian, Briptu Soewignyo mengimbau agar masyarakat mengambil hikmahnya, bukannya terjebak klenik.

"Mari jadikan pelajaran peristiwa apapun, termasuk yang aneh tapi nyata seperti itu. Jangan sampai pikiran kosong, atau melamun saat di jalanan atau saat melakukan apa saja. Lebih penting lagi, jangan lupa salat. Saya yakin kalau iman kita kuat, Insya Allah tak akan mengalami hal-hal seperti itu. Itulah pelajaran yang saya petik," tutur Briptu Soewignyo.

Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah dalam waktu sekejap.

Awalnya bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura tepatnya di jalur Juwana-Rembang,Kamis(22/6/2012) dini hari. Karena situasi macet sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken, atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa, mendadak mereka masuk ke hutan Gadogan di desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Wilayah ini dikenal sebagai perbukitan hutan jati. Anehnya, saat mau mendahului truk beton yang berada di depannya, kernet mencoba menahan sopir, agar truk naik dulu ke jalan yang menanjak, setelah truk bisa naik, bus mencoba naik, namun ban belakang selip dan mundur, kemudian terdengar suara benturan, kernet seketika turun dan mencoba mengecek, setelah dicek dengan sopir, mesin seketika mati, saat sopir mengecek body bus, seketika kaget, karena dia melihat pohon jati dan setelah memutar dia berada di tengah-tengah hutan, dia mulai tersadar jam 02.30 WIB dini hari dan kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang.
Warga: Aneh, Tak Ada Jejak Ban dan Body Bus Mulus

Warga: Aneh, Tak Ada Jejak Ban dan Body Bus Mulus

Bus Pahala Kencana yang dalam sekejap berpindah tempat dari jalur pantura ke hutan jati gelap gulita (ist/LP)


Salah seorang saksi mata yang juga warga Blora, Jawa Tengah bernama Luckie Oktavian mengatakan tidak ada sama sekali jejak ban bus Pahala Kencana ataupun truk beton yang tiba-tiba berada di dalam hutan kawasan Todanan dalam waktu sekejap tersebut.

Menurut Luckie, semua yang menyaksikan kondisi bus dan kedua truk terheran-heran karena tidak terlihat bekas jejak ban.

"Kondisi bus juga mulus, tidak ada lecet-lecet karena bergesekan dengan batang dan ranting pohon di hutan jati Desa Kedung Bacin," kata Luckie kepada wartawan, Minggu(24/6/2012).

Luckie menuturkan, saat berada di lokasi petugas dari Polsek Todanan sudah berada di sana. Petugas langsung memotret ketiga kendaraan yang belum berhasil dievakuasi tersebut.

"Saya tiba di lokasi Kamis sore. Saya tiba, warga dan petugas sedang berusaha membuat jalan darurat dengan warga," ujar Luckie. Dia menambahkan, saat bus dan kedua truk akan dievakuasi, kondisi sudah sore, namun upaya evakuasi terus dilakukan.

Petugas juga mendatangkan staf mekanik Pahala Kencana di pool Kudus, Jawa Tengah, ke lokasi.

Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah dalam waktu sekejap.

Awalnya bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura tepatnya di jalur Juwana-Rembang,Kamis(22/6/2012) dini hari. Karena situasi macet sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken, atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa, mendadak mereka masuk ke hutan Gadogan di desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Wilayah ini dikenal sebagai perbukitan hutan jati. Anehnya, saat mau mendahului truk beton yang berada di depannya, kernet mencoba menahan sopir, agar truk naik dulu ke jalan yang menanjak, setelah truk bisa naik, bus mencoba naik, namun ban belakang selip dan mundur, kemudian terdengar suara benturan, kernet seketika turun dan mencoba mengecek, setelah dicek dengan sopir, mesin seketika mati, saat sopir mengecek body bus, seketika kaget, karena dia melihat pohon jati dan setelah memutar dia berada di tengah-tengah hutan, dia mulai tersadar jam 02.30 WIB dini hari dan kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang.

Parapsikologi: Tak Ada Unsur Mistis, Sopir Hanya Kelelahan


Kejadian aneh dan ajaib yang menimpa bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura di kawasan pantura, diprediksi tidak ada sama sekali kaitannya dengan hal-hal yang berbau mistik.

"Tidak, kecil kemungkinan ada dunia lain, sopir sering begitu dia halusinasi, pikirnya ada jalan," kata Ahli Parapsikologi, Masrukhan kepada wartawan, Minggu(24/6/2012).

Masrukhan menjelaskan kejadian masuknya bus Pahala Kencana ke hutan jati di wilayah Blora, Jawa Tengah lebih disebabkan karena faktor kelelahan dan menumpuknya beban pikiran sang sopir, sehingga sering menghayal dan batinnya tidak tenang.

"Kelelahan, banyak masalah jadi sering menghayal, tidak jelas realitas, karena ketidaktenangan batin," ujarnya.

Selain itu lanjut Maslukhan sopir juga diduga telah diberi sugesti terhadap tempat-tempat angker oleh sesama pengemudi saat berkumpul.

"Sering itu sopir kalau bertemu saling bercerita, sering dibilangin, begitu, jadi semacam sugesti," jelasnya.

Peristiwa serupa bus Pahala Kencana kata Masrukhan memang kerap terjadi di lokasi pantai utara Jawa.

Fenomena tersebut dinamai halusinasi negatif, dimana ketika seorang sopir bus memikirkan sebuah jalan terbentang di hadapannya, tetapi nihil.

"Kalau dari para psikologi sopir halusinasi mungkin ada beban masalah pernah dengar daerah situ angker dia percaya, pertama kesitu, saat itu malam gelap," jelasnya.

Penyebab dari adanya halusinasi yang muncul tersebut bisa saja berasald ari obat-obatan atau sang sopir memang kelelahan usai mengemudikan mobil bus berbadan besar seperti Pahala Kencana.

Untuk itulah Masrukhan menyarankan agar diadakan penyuluhan kepada para sopir bus sebelum membawa armada bus melakukan perjalanan jauh. (tams/tribun)