Rabu, 21 September 2011

FILM: Inilah Film Indonesia Pertama Yang Tembus Bioskop AS

JAKARTA, LP - Sukses memenangkan Festival Film Toronto 2011, film The Raid (Serbuan Maut) rencananya akan diputar di bioskop Amerika Serikat dan 10 negara dunia lainnya, seperti Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Australia dan lainnya.

Produser film The Raid Ario Sagantoro yang dihubungi media, Rabu (21/9/2011), sempat tidak percaya film yang dibintangi Iko Uwais itu mendapat sambutan penonton. Bahkan sampai berhasil memikat Sony Pictures.

"Sebenarnya film ini juga ikut di festival Cannes, Prancis. Cuma saat itu finishing-nya belum selesai. Kita cuma kirim adegan-adegannya dan ternyata menarik distributor Sony Pictures," urainya.

Diceritakan lelaki yang akrab disapa Toro itu, kemenangan The Raid di festival Toronto diraih melalui kategori The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award dan diumumkan pada Minggu 18 September 2011.

"Jadi film kita ini menjadi opening film Midnight Madness weekend. Dan setelah diumumkan pemenangnya, The Raid menjadi film pilihan penonton yang paling banyak ditonton. Itu apresisinya luar biasa. Banyak diperbincangkan media luar negeri," tuturnya bangga.

Film ini, diungkapkan Toro, sangat berbeda dari film action Amerika pada umumnya. The Raid unggul karena memamerkan keindahan koreografi silat yang dibuat sesempurna mungkin.

"Tidak ada fight cut cepat, benar-benar fight bebas. Karena kita ingin intensitas yang kita bangun begitu agresif. Mulai dari opening 100 menit tidak ada nafas buat penonton karena film ini fight-nya hidup atau mati. Kalau film Merantau kan kalah atau atau menang," tandasnya. (tams/ okz)

FEATURE: Perjalanan Mudik - Sambung Menyambung Menjadi Satu


Mudik merupakan tradisi wajib hampir bagi seluruh perantau yang memiliki kampung halaman. Mudik diambil dari kata “Udik” yang berarti kampung, atau orang Jawa biasa menyebut mudik sebagai mulih ning udik yang berarti pulang ke kampung halaman. Tradisi mudik dilakukan orang saat hari – hari besar, khususnya Lebaran atau Idul Fitri. Tidak semua orang yang memiliki kampung halaman menjalankan tradisi tersebut, banyak di antara mereka harus mengubur impiannya untuk pulang ke kampung halamannya karena suat tugas atau kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.

Sama halnya dengan saya yang merelakan Lebaran terutama pada saat Sholat Id yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Demi tugas kampus untuk menyelesaikan skripsi dan tugas lainnya, saya menunda kepulangan saya menjadi hari Kamis (01/09/2011), atau Lebaran hari ketiga saya. Sebuah kebingungan bagi saya yang statusnya sebagai anak kos karena sulitnya mencari tempat untuk makan, sebab wilayah kos saya yang berada di bilangan Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan sulit untuk mencari tempat makan saat Lebaran. Oleh karena itu saya memutuskan untuk pulang sehari sebelum rencana kepulangan saya pada hari Jum’at.

Kamis siang saya terbangun, setelah semalaman saya begadang dan berkumpul bersama teman – teman. Dan seperti biasa ritual bangun tidur adalah membuka jendela dan saya menyaksikan kondisi sekitar tempat kos saya yang tak seperti biasa. Tak ada derit pintu terbuka di setiap pintu kamar dan tak ada derap langkah kaki di depan kamar saya. Siang sudah menjelang sore, namun saya lupa menegosiasikan isi perut saya hingga terdengar menderit. Setelah mandi saya keluar mencari makan, dan di antara barisan bangunan yang mengatasnamakan rumah makan, hanya satu yang bertuliskan “RM Padang Sabana” yang masih mempersilahkan masuk. Setelah saya makan, tiba – tiba ponsel saya berbunyi dan ada panggilan dari teman saya yang bernama Catur. Kebetulan saat itu dia sedang melaksanakan tugas liputan dan menawari saya untuk melakukan perjalanan ke Bandung. “Tam, gue lagi ngambil kasus 338 nih, abis itu gue mau packing ke Bandung. Kau ikut ya?” Sontak saya kaget mendengar ajakannya. Saya juga mempertanyakan alasan kenapa saya harus ikut ke Bandung, sementara saya harus mudik ke Kebumen, Jawa Tengah. Usut diusut ternyata si Catur ini mendapat cuti liputan hingga hari Minggu dan ingin melakukan perjalanan ke Bandung, Lebakjero hingga ke Jogja. “Tam, kita ke Bandung terus ke Lebakjero motret perkampungan, abis itu ke tempatmu terus ke Jogja deh,” tukasnya dalam rencana perjalanan yang ia inginkan. Spontan saya mengamini niatnya, dan bersiap pulang ke kamar kos untuk mempersiapkan peralatan mudik saya.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan tak berapa lama Catur menjemput saya. Sore itu saya nampak seperti pasukan Easy Company di film ‘Band of Brothers’ yang akan dikirim ke Normandia, dengan tas punggung menggunung dan tas tergantung di badan. Setelah selesai berkemas saya dibawa Catur ke kediamannya untuk mengambil barang bawaannya.

Rencana perjalanan awal adalah menggunakan Kereta Api (KA), Serayu kelas Ekonomi trayek Jakarta Kota hingga Kroya dengan jadwal pemberangkatan pukul 20.30 WIB. Sekira habis Maghrib kami menuju Stasiun Jatinegara untuk menaiki KA. Commuter menuju Stasiun Jakarta Kota. Setengah jam sebelum keberangkatan kami kehabisan tiket, padahal Idul Fitri sudah berselang beberapa hari. Peraturan PT. KA Indonesia yang baru membuat beberapa pemudik masih tertahan di beberapa stasiun yang berada di Jakarta terutama untuk kelas Ekonomi. Tahun lalu ada prinsip bagi pemudik yaitu ‘yang penting badan kebawa’, maksudnya para pemudik tak mempedulikan kenyamanan, keselamatan dalam transportasi mudiknya. Sungguh sangat miris, tak peduli mau berdesak – desakkan, naik di depan lokomotif atau sambungan gerbong, bagi pemudik yang penting mereka sampai tujuan. Namun tidak dengan mudik tahun 2011 kali ini, pemerintah melalui Dinas Perhubungan bersama PT. KAI menerapkan peraturan baru yaitu maksimal penumpang kelas Eksekutif seratus persen, kelas Bisnis 120 %, kelas Ekonomi 150 %. Jadi tak ada lagi istilah berjubel – jubel naik kereta api terutama kelas Ekonomi. Imbasnya banyak calon pemudik berebut mendapatkan tiket bahkan mereka rela menidurkan dirinya bahkan keluarganya di emperan stasiun untuk mengantri tiket esok harinya. Karena selain itu, PT KAI juga menindak tegas bagi penumpang yang kedapatan tak memiliki tiket, baik itu penumpang sipil atau militer.

Kami berduapun hampir putus asa dan merencanakan untuk kembali ke rumah Catur. Namun sungguh sangat memalukan jika kita sudah membawa barang banyak tiba – tiba tak jadi berangkat. Sebatang rokok habis terbakar akhirnya kami memutuskan kembali ke Stasiun Jatinegara dan menanyakan tiket KA. Argo Parahyangan dengan pemberangkatan pukul 20.45 WIB. Kami tiba di Stasiun Jatinegara pukul 20.30 WIB, langsung saja saya memberi komando pada Catur untuk membeli tiket, dan saya menunggu di lobi stasiun. Akhirnya Catur kembali dengan tampang kecut, jawaban yang sama didapati, “Tiket habis,” katanya. Suara mesin disel lokomotif terdengar dari lobi stasiun seiring seorang pria memberi informasi di pengeras suara, “Perhatikan dari arah barat segera masuk di jalur satu KA. Argo Parahyangan tujuan Bandung,” nada sang informan stasiun. Antara niat dan tidak niat saya datangi loket kembali untuk memastikan tiket dan ternyata masih tersisa dua tempat duduk untuk kelas Eksekutif. Setelah transaksi selesai, dengan kocar – kacir kami lari menuju pintu peron. Sesampai peron kami mencari gerbong yang dimaksud sesuai dengan tiket, dan saat di dalam kami temui petugas keamanan, TNI/ Polri bersama kondektur sedang menyidak gerbong yang kami tumpangi dari penumpang liar. Setelah barang – barang dinaikkan ke bagasi akhirnya kami menikmati perjalanan yang cukup melelahkan dan berakhir dengan kursi yang bisa direbahkan dengan hembusan air conditoning, dan senyum pramugari yang cantik meski ada lelah pula di wajahnya.

Sesuai jadwal tiba pukul 23.46 WIB kami sudah tiba di Stasiun Bandung, dan kami merencanakan untuk melanjutkan perjalanan di Stasiun Kiaracondong menggunakan KA. Ekonomi menuju Lebakjero. Keluar dari Stasiun Bandung beberapa sopir taksi menghampiri kami dengan senyum yang terkesan tawar menawar. Sudah tak ada angkot, dan mau tidak mau kami harus naik taksi untuk menuju Stasiun Kiaracondong. Jaraknya tak seberapa, kata teman saya yang berdomisili di Bandung, jarak antara Stasiun Bandung ke Kiaracondong sekitar dua kilometer. Namun alangkah terkejutnya saat pertanyaan berapa ongkos tersebut ke salah satu sopir taksi, dan ia jawab dengan vonis harga yang mahal. Jarak dua kilometer harus kami bayar senilai Rp. 50.000. Heeeemm, ternyata di Bandung ini saya tak menemukan taksi berargo dan yang ada hanya taksi argo tembak. Setelah tawar menawar harga pas, akhirnya sopir taksi mengalah dengan tarif kesepakatan bersama yaitu Rp. 30.000 untuk jarak dua kilometer. Dan hati – hati beberapa sopir taksi tidak menepati janji, katanya kami mau di antar hingga halaman stasiun, tetapi hanya sampai pintu masuk. Alasannya mereka ogah merogoh kocek lagi untuk membayar parkir, padahal tarif kesepakatan kami diantar hingga pelataran.

Suasana di Stasiun Kiaracondong hampir mirip dengan Stasiun Jakarta Kota. Hamparan jasad yang tak sadar sudah terhampar di depan loket yang sudah tutup. Sejumlah pengumuman tentang tiket kereta yang sudah habis terjual terpampang di dinding loket. Dan mau tidak mau kamipun turut menghamparkan diri di pintu masuk stasiun. Menemani malam, bijih hitam yang diracik sempurna dalam gelas menemani daun kering yang tersulut menggantikan dinginnya kota Bandung. Satu jam berselang, temanku Catur tak sanggup menahan serangan letih dan kantuk yang sudah memborbardir ubun – ubunnya hingga telapak kakinya. Waktu telah melewati pukul dua dini hari, suasana dingin semakin terasa meski tak sedingin belantara hutan Bastogne. Sepertinya saya lupa cara untuk tidur, bahkan saya cemburu pada mereka yang bisa lelap dan nyenyak. Ada beberapa juga yang terjaga, mereka usir kantuk dengan mengobrol, ada yang mendengarkan musik di ponsel mereka dan ada pula membaca koran yang sudah basi berganti hari.

Waktu menjelang pagi, dan kamipun tetap tidak mendapatkan tiket KA yang kami maksud. Daripada kami mengulur waktu, kami putuskan untuk kembali ke Stasiun Bandung dengan menggunakan taksi dengan tarif yang sama. Sesampai di Stasiun Bandung, saya putuskan untuk membeli tiket pulang ke kampung halaman saya di Kebumen, Jawa Tengah. Berbeda dengan suasana di Stasiun Kiaracondong, di Stasiun Bandung tak ada antrian tiket, tak ada kehabisan tiket. Akhirnya saya membeli satu tiket kelas Bisnis, KA. Lodaya tujuan Bandung – Solo, dan Catur hendak berpisah melanjutkan misinya hunting foto ke Subang dengan menggunakan KA. Lokal.

Namun pikiran Catur berubah, akhir dia membeli tiket yang sama dengan saya dan berencana untuk ikut mudik dengan saya. Pukul delapan pagi KA kamipun meninggalkan Bandung. Dan ternyata jalur KA Bandung Selatan lebih menarik daripada jalur KA Purwokerto. Lewati gunung dan lembah sayapun tak mau rugi menggadangkan mata dan mengabadikan dengan kamera dekat pintu bordes kereta, walaupun semalaman saya belum tertidur. Jajaran besi panjang meliuk dan mengular di antara pematang sawah. Bocah – bocah kecil melambaikan tangan saat kereta melintasi menjadi suguhan seperti video berjalan. Udara pegunungan masih terasa menemani laju roda kereta yang terdengar sangat metronom. Saat KA melintasi Nagreg dengan jembatan yang eksotis dan pemandangan jurang beserta jalan raya terhampar di bawahnya, seperti terbang bersama helikopter tanpa pintu. Setelah turun gunung dan memasuki wilayah Tasikmalaya, KA kamipun berhenti silang dengan KA. Argo Wilis di Stasiun Banjar. Di pemberhentian itu, geliat ekonomi mulai memecah keheningan penumpang yang mulai kegerahan. Teriakan susu, kopi, air dalam kemasan bahkan makanan terdengar dari luar gerbong. Setelah KA meninggalkan Stasiun Banjar, kami kembali ke tempat duduk. Suasana pemandangan sudah tak begitu menarik, hanya bentaran sawah gersang yang luas seperti tanpa kehidupan. Selain itu sisa tenaga semalam karena belum tidur ditambah hembusan angin siang membuat saya menutup kelopak mata.

Waktu menunjukkan hampir jam satu siang dan posisi KA sudah mendekati Maos menuju Kroya, pertanda bahwa tujuanku untuk Kebumen sudah hampir sampai. Jarak Kroya ke Kebumen jika ditempuh dengan KA hanya setengah jam. Segera bangun dari tidur sesaat lalu membasuh wajah di toilet kereta. Pukul satu 13.30 WIB kereta kami tiba di Stasiun Kebumen. Dari puluhan tukang ojek menanti, akhirnya aku mengenali sosok yang menjemputku dan di sana sudah ada adik dan pamanku yang menjemput. Dari perjalanan itu, meski kami harus menyambung tapi kami punya satu tujuan yaitu jalan – jalan tambah pengalaman. Seperti gerbong kereta sambung menyambung menjadi satu rangkaian sebuah perjalanan. (tam)

Kamis, 01 September 2011

Nasional - Daftar Kampus Para Presiden RI


JAKARTA, (LP) - Seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi anak buahnya. Terutama para presiden Indonesia dengan segala usahanya untuk memajukan nusantara di tingkat dunia.
Segala tindakan dan upaya yang mereka lakukan demi kemajuan bangsa, tidak terlepas dari pendidikan yang mereka dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Kali ini, kamu akan diajak secara khusus untuk mengenal lebih dekat masa kuliah orang nomor satu di Indonesia ini.

1. Soekarno
Presiden pertama Indonesia ini meraih gelar Insinyur (Ir) dari Technische Hoge School yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1926 silam.

2. Soeharto
Pria yang menjabat sebagai presiden RI selama 31 tahun ini mengawali pendidikannya di SD Desa Puluhan ketika usianya delapan tahun. Kemudian, dia dipindahkan ke SD Pedes Yogyakarta.

Setelah lulus Sekolah Rendah (SR) selama empat tahun, ayah dari enam orang anak ini melanjutkan sekolah ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Namun, di usianya yang menginjak 14 tahun, dia melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah Yogyakrta.

Pria yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 tersebut tidak pernah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi lantaran orangtuanya tidak memiliki biaya. Lantas, pada 1940, Soeharto melanjutkan pendidikannya di bidang kemiliteran. Pria yang tutp usia pada 27 Januari 2008 ini pun resmi bergabung dengan TNI pada 5 Oktober 1945.

3. BJ Habibie
Presiden dengan masa jabatan tersingkat ini mengenyam pendidikan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, baru satu tahun menempuh pendidikan di kampus tersebut, dia melanjutkan pendidikannya ke Technische Hochschule, Jerman.

Pria kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini pun mendapatkan gelar Diploma dan Doktor dari institusi tersebut pada 1960 dan 1965.

Penerima penghargaan Theodore van Karman Award ini, mendalami kuliah bidang konstruksi pesawat terbang dan meraih predikat Summa Cum Laude. Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Ristek) ini pun dinobatkan sebagai Guru Besar (Gubes) di ITB pada 1967.

4. Abdurrahman Wahid
Pria kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940 ini mengawali pendidikan tingginya di Al-Azhar University, Kairo, Mesir melalui program beasiswa yang diberikan oleh Kementerian Agama RI pada 1964 hingga 1966.

Tidak puas dengan metode pendidikan yang diajarkan universitas Al-Azhar, Gus Dur sapaan akrab ayah empat orang putri ini kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Baghdad, Irak. Mahasiswa Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab ini, berhasil meraih gelar sarjana pada 1970.

Gusdur pun berniat melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Sayangnya, pendidikannya selama di Universitas Baghdad kurang diakui oleh Negara Tulip tersebut.

5. Megawati Soekarnoputri
Satu-satunya presiden wanita di Indonesia ini merupakan mahasiswi Universitas Padjajaran (Bandung) dalam bidang pertanian. Namun, karena kondisi politik saat itu tidak kondusif, maka keluarga presiden (Soekarno) harus diungsikan. Hal ini mengakibatkan pendidikan wanita kelahiran Yogyakarta, 23 Januari 1947 ini terpaksa terhenti.

Megawati pun kembali melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan Psikologi. Namun, pendidikannya kali ini pun juga tidak selesai.

6. Susilo Bambang Yudoyono (SBY)
Pria kelahiran Pacitan, 9 September 1949 ini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup panjang mulai dari dalam maupun luar nageri, yakni :

- Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
- American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
- Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
- Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
- On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
- Jungle Warfare School, Panama, 1983
- Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
- Kursus Komando Batalyon, 1985
- Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
- Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
- Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
- Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004 (tams/okz)

Kamis, 25 Agustus 2011

Pojok Kata - Namaku Kitab Yang Terlupakan


Aku telah menjadi saksi sejak kau lahir; Sebuah lembaran - lembaran Kalamulloh yang terajut sempurna.

Aku teringat dahulu saat kau timang aku, lalu kau pelajari aku.

Mungkin saat itu umurmu juga masih dini; Namun kau begitu bangga, saat kau mampu mengkhatam aku. Dan kau ceritakan pada orang tuamu, gurumu bahkan teman - temanmu, bahwa kau bisa mengenalku lebih dalam.

Hampir tiap malam kau baca aku, walau mungkin hanya beberapa potong & aku senang.

Kini engkau telah beranjak dewasa; yang penuh kesibukan seiring menyusutnya usiamu.

Mungkin kini aku hanya sebagai penghias rak - rak bukumu.

Atau mungkin terselip kertas- kertas tugasmu yang terkadang berlumur debu.

Saat kau pulang, peranti selulermu sudah kau genggam dah kau lintasi aku sambil lalu.

Hingar bingar TV, mesin bergambar yang siap kau ketik menggantikan merdu suaramu saat kau baca aku.

Akankah kau sempatkan waktu untuk menyentuh & membacaku dengan santun merdumu?

Jangan biarkan aku lusuh tak tersentuh.

Karena aku adalah penjagamu yang abadi sampai kau mati.

Bacalah aku, karena aku bisa menjadi penuntunmu di kala tak ada daya yang mampu menolongmu.

Bacalah aku, karena aku mampu menenangkan kegalauanmu.

Aku hanya bisa mengingatkan selagi aku belum terlalu lusuh.

Sebelum tutup usiamu; Hingga aku menjadi saksi bahwa kau pembaca setiaku,"Al-Qur'annul Kariim"

Ullifna T (Jakarta,07082011)

Rabu, 24 Agustus 2011

NUSANTARA - Lebah Terpanjang di Dunia Ada di Sulawesi

Jakarta, LP - Majalah ilmu pengetahuan NewScientist memberitakan kabar ditemukan jenis lebah di Sulawesi yang bisa dikategorikan sebagai salah satu lebah terpanjang di dunia. Panjangnya hampir empat sentimeter.

Menurut para peneliti, rahangnya begitu besar. Kaki depan lebah lebih panjang sehingga sulit untuk memahami cara mereka bisa berjalan.

Lynn Kimsey dari University of California menemukan serangga besar tersebut sewaktu ekspedisi terakhir ke Pegunungan Mekongga Sulawesi. Dia berencana menamakan lebah ini "Garuda" seperti tokoh mitologi Indonesia yang sebagian manusia sebagian elang.

Kimsey menyatakan, tawon ini kelihatannya bukan spesies umum. Ia hanya menemukan enam lebah dalam tiga tahun penyelidikan. ''Rencana menggali sebuah tambang nikel baru di Pegunungan Mekongga akan menjadi berita buruk bagi sang tawon,'' kata Kimsey.

Anehnya, mereka tidak dinobatkan sebagai lebah terbesar di dunia. Penghargaan ini diberikan kepada sejenis lebah beranama "tarantula elang" yang panjangnya mencapai lebih dari 6 cm. Seperti namanya, lebah ini sangat senang berburu tarantula. (tams/REP)

Rabu, 20 Juli 2011

Nasional -- Mistani Nenek Yang Tinggal di Gubuk Reot Bersama Tujuh Bebek

Jakarta, LP — Mistani (90), warga Dusun Soloh Timur, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, memaksanya tinggal di gubuk reot berukuran 3 x 2 meter. Nenek renta ini tidak tinggal sendiri, tetapi ditemani tujuh ekor bebek piaraannya.

Memang sungguh miris mengetahui keadaan Mistani yang hidup dibawah garis kemiskinan, apalagi jika dibandingkan dengan kasus - kasus yang sedang terjadi di negeri ini, yang mana beberapa elit parpol yang sibuk berkonflik.

Rumah tinggalnya sekaligus berfungsi sebagai kandang bebeknya. Bau amis menyeruak di dalam rumahnya. Sebab, kotoran bebek dan kotoran Mistani bercampur menjadi satu. Di rumah itu, memang tidak dilengkapi tempat mandi cuci dan kakus (MCK) yang memadai.

Berdasarkan penuturan Mistani, setelah suaminya, Sumo, dan anaknya, Asmo, meninggal dunia beberapa tahun silam, dirinya tinggal sebatang kara. Tak ada sanak familinya yang membantunya. "Suami dan anak saya menjadi sandaran satu-satunya. Namun, keduanya sudah meninggal," katanya, Rabu (20/7/2011), dengan nada terbata-bata.

Rumah yang ia tempati saat ini bukanlah miliknya, melainkan tempat tinggal yang dibuatkan oleh para tetangga Mistani. Munawar (45), tetangga Mistani, mengatakan, setelah ditinggal suaminya, Mistani tidak punya tempat tinggal sehingga masyarakat bertekad untuk membuatkan gubuk sederhana.

Selama tinggal di gubuk reot tersebut, kebutuhan makan Mistani hanya menunggu belas kasihan para tetangganya. Selama ini yang rajin memberi makan Mistani adalah Wati. "Saya tidak tega melihat dia karena sudah tua renta dan tidak bisa bekerja mencari nafkah lagi," tutur Wati.

Satu-satunya kekayaan Mistani adalah tujuh bebeknya. Untuk memenuhi pakan ketujuh bebeknya, Mistani selalu menyisihkan makanan dari hasil pemberian para tetangganya. "Kalau bebeknya bertelur saya jual," imbuhnya.

Melihat penderitaan Mistani, Pemerintah Daerah Pamekasan pun tergerak untuk membantunya. Mistani harusnya masih bisa bernapas lega. Pasalnya, kini ia memperoleh santunan uang sebesar Rp 2 juta. Santunan tersebut menurut Bupati Pamekasan Kholilurrahman untuk biaya hidup sehari-hari. "Sementara itu yang bisa kami bantu. Selanjutnya akan kami upayakan pembangunan tempat tinggal yang lebih layak sekaligus dengan biaya hidupnya," kata Bupati Kholil. (tams/ tribun)

Internasional -- Lima Bahasa di Dunia Yang Sulit Dipelajari

Jakarta, LP - Mempelajari bahasa asing memang bukan hal yang mudah. Ada huruf yang berbeda, susunan kata yang tidak biasa, sampai pengucapan kata yang asing di lidah.

Menurut penelitian, seseorang paling mudah mempelajari bahasa dengan susunan kata dan pengucapan yang mirip dengan bahasa sehari-harinya. Masing-masing bahasa mempunya tingkat kesulitan yang berbeda. Berikut lima bahasa yang paling sulit dipelajari seperti dikutip dari thirdage.

1. China
Bahasa China dianggap sulit dipelajari karena sangat menekankan pada intonasi. Penekanan intonasi yang berbeda bisa membuat arti kata yang diucapkan sangat berbeda. Tak hanya itu, ribuan huruf China yang sulit dan rumit membuat bahasa yang cukup populer di dunia tersebut makin susah untuk dipelajari.

2. Arab
Untuk orang Eropa, bahasa Arab memiliki kemiripan yang sangat sedikit dengan bahasa mereka. Membaca tulisan dalam bahasa Arab juga dianggap agak sulit karena pengucapan vokal yang agak berbeda dengan bahasa Inggris. Sama seperti bahasa Cina, huruf-huruf Arab juga menjadi salah satu kesulitan jika ingin cepat mempelajari bahasa ini. Perubahan bentuk huruf dalam kalimat yang berbeda ketika suatu huruf digabungkan juga membuat belajar bahasa Arab lebih menantang.

3. Jepang
Lagi-lagi bahasa dengan huruf yang rumit masuk dalam daftar ini. Jepang, seperti sudah banyak diketahui memiliki ribuan karakter dengan sifat yang berbeda. Selain ribuan karakter, ada tiga cara penulisan dan dua jenis daftar suku kata membuat orang harus memiliki ingatan yang kuat ketika mempelajari bahasa Jepang.

4. Korea
Struktur kata, pemahaman kalimat, dan konjugasi kata kerja yang berbeda membuat bahasa Korea bukan bahasa yang mudah diserap. Selain struktur penggunaan kata, huruf-huruf Korea yang tak kalah rumit juga membuat bahasa asal bintang K-Pop tersebut sulit dipelajari dengan cepat.

5. Hungaria
Bahasa Hungaria dianggap sulit dipelajari karena tidak memiliki kemiripan atau rumpun yang sama dengan bahasa apapun. Tidak seperti bahasa Indonesia yang memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Malaysia, bahasa Hungaria tidak mirip dengan bahasa apapun. Karena itu seseorang harus mulai dari nol untuk mempelajarinya.

Kesulitan lain ketika mempelajari bahasa Hungaria adalah bahasa ini memiliki sifat kata untuk penyebutan feminin, maskulin, dan netral gender. Selain itu, 7 konjugasi yang berbeda juga membuat bahasa negara yang terletak di benua Eropa tersebut makin rumit untuk segera dipahami. (tams/ detik)