Rabu, 11 Mei 2011

[BUDAYA] >> Pelestari Wayang Golek Lenong Betawi

arrumtamsQ, Jakarta - Yang punya wayang golek tak hanya masyarat Sunda, tapi juga Betawi. Tizar Purbaya adalah orang yang getol memperkenalkan, sekaligus melestarikan, kebudayaan ini. Dari segi bentuk, wayang golek Betai tak jauh beda dengan wayang golek Sunda. Keistimewaannya adalah dari sisi cerita dan tokoh, yang dibawakan ala lenong Betawi.

Tizar, pencipta kesenian

Cerita ‘Beningnya Hati Seekor Macan’ tengah disiapkan Tizar Purbaya untuk pertunjukan di Museum Fatahillah, Juni mendatang. Inspirasinya datang dari banyaknya kasus penebangan hutan secara ilegal.

“Di mana macan masuk kampung makanin ternak, segala macam, macan itu disalahin padahal macan itu tidak salah karena habitatnya yang dirusak manusia. Begitu ada macan masuk kampung, orang-orang yang berburu macan datang. Mau ambil kulit, taring dan lainnya.“

Karena cerita ini disiapkan untuk pentas wayang golek lenong Betawi, Tizar punya beberapa persiapan. Salah satunya adalah memodifikasi bentuk wayang golek, sehingga alis, mata dan mulut bisa bergerak.

“Tembakan, merokok, itu sudah ada. Teknik-teknik macam begitu cuma ada di wayang golek lenong Betawi. Karena kita lihat kebutuhan ceritanya. Ada cerita mandor Jun yang tangannya sempat buntung dalam perkelahian. Makanya kita bikin bagaimana tangan itu bisa lepas dan keluar darah.”

Semula Tizar adalah dalang wayang golek Sunda. Berhubung Tizar adalah keturunan Betawi, ia pun mulai memasukkan cerita dan tokoh ala cerita rakyat Betawi dan memadukannya dengan wayang golek ini. Pakem wayang golek Sunda pun banyak yang ditinggalkan, kata asisten Tizar, sekaligus anaknya, Ricky Purbaya. “Kalau Sunda suluknya pakai lagu semua. Bahasanya bahasa Sunda dulu. Makanya saya di wayang golek lenong ini bikinnya yang saya bisa. Tidak ada kakawin. Adanya pantun. Kalau mau berantem gaya lenong. Makanya ini wayang golek lenong Betawi. Karena adaptasinya dari lenong. Nah uda itu tidak ada kakawin, suluk. Jadi semau gue.”

Karena ini adalah perkawinan antara wayang golek Sunda dengan cerita dan gaya bertutur ala Betawi, Tizar menyebut percampuran ini sebagai wayang golek lenong Betawi. Untuk memperkuat unsur lokal, Tizar selalu menggunakan lagu asli Betawi. Misalnya lagu ‘Jali-jali’ untuk adegan perang.

Salah satu pemain alat musik tradisional Betawi, Sanan, mengatakan, lagu yang dimainkan hanya lagu tradisional. “Kalau diterapkan lagu-lagu sekarang tidak bisa. Karena bukan jalurnya, bukan alirannya. Unsur Betawinya juga hilang. Karena itu diterapkan dalam musik gambang kromong. Gambang kromong kan musik Betawi. Kalau diterapkan musik sekarang sepertinya tidak kena.”

Yang paling unik dari wayang golek ciptaan Tizar adalah kemampuan boneka-boneka wayang itu menampilkan adegan yang tak ada di wayang lain. Misalnya, alis dan bibir yang bisa digerakkan.

Salah satu karyawan Tizar, Ujang Yakub memperlihatkan kayu yang biasa dipakai untuk membuat wayang golek Betawi ini. Mereka biasanya menggunakan kayu albasia atau sengon, yang mudah diukir. Untuk mengerjakan wayang golek bentuk tokoh Si Pitung, Ujang membutuhkan waktu 3 hari. “Ya tekniknya kita harus belah dulu, kita bolongin dalamnya, kita buang isinya. Dikopongin dulu dalamnya lalu kita pasang-pasang untuk bahan teknik. Baru kita bikin posisinya. Misalnya mata sama alis gerak. Ada juga bibir sama mata. Ada juga bibir sama kuping. Bikin dua hari, satu hari teknik. Jadi tiga harilah.”

Tizar tak hanya membawakan cerita-cerita khas Betawi dalam berbagai pentasnya. Ia juga kerap mengolah peristiwa aktual menjadi pertunjukan yang menarik. Anak Tizar, Ricky Purbaya, menirukan salah satu pentas wayang golek lenong Betawi ayahnya, yang membawakan cerita soal Nurdin Halid yang berkeras menolak mundur sebagai Ketua Umum PSSI. “ “Dasar kau Nurdin racun. Ude ditolak ga mau mundur. Kau bukan orang yang santun. Disuru turun ko ngelantur. Banyak orang berdemoyang mendukungmu untuk mundur. Hey, jangan basa-basi cuma bikin keki, kamu kaya banci. Hey, cuma kamu ketum PSSI yang bekas mantan napi..”

Sudah 10 tahun Tizar bergelut di bidang wayang golek lenong Betawi. Dari mana Tizar datang dengan ide membuat wayang ini? (tams/kbr68h)

Kamis, 05 Mei 2011

Pojok Sajak >> Rintik Hujan Yang Menggelitik

Tik...Tik...Tik... Bunyi Hujan

Ini bukanlah sebuah anggapan tentang isi kepalamu tentang sebuah syair hujan. Sebuah kawanan air yang membasahi dan membasuhi hampir tiap kegelisahan warga kota. Beriringan, berduyun - duyun bahkan bergerombol menjahiti tiap pori- pori di ubun - ubun. Sudah pastinya kuyup; karena komplotan cair itu membumbui setiap keringat yang belum sempat diseka.

Tik... Tik... Tik... Bunyi Hujan

Ini bukanlah cerita tentang sekumpulan air dengan paramiliternya yang tertuang dari tandon - tandon hitam di atas sana; dan di bawah sini teduhan - teduhan menjadi tempat bernaung dari segala kegundahan. Semua meneduh, semua menadah bahkan mungkin menuduh serta mempertanyakan kehadiran rintik - rintiknya di waktu yang sebagian orang menganggap tidak tepat

Tik... Tik... Tik... Bunyi Hujan

Ini bukanlah kegelisahan dari sebuah pertanyaan kapan turun hujan ini mengakhiri kerjanya. Sudah pastinya hujan tak tahu waktu, karena sudah menjadi kepastiannya mereka tak memiliki arloji berjarum; hujan juga tidak tahu tempat, karena sudah pastinya mereka tak tahu dimana mereka dilahirkan. Mereka bertahan dan bergerombol dalam siklus; hingga lantas mengapa manusia menyambutnya dengan ketus?

Tik...Tik..Tik.. Rintik Hujan

Dan ini bukanlah akhir dari kesemuaan; karena kesemauan bukan ditentukan oleh titik hujan. Segeralah bergegas, bangun dan melangkahlah dari kediaman; ambil tamengmu dan sambutlah tiap tandonnya. Karena semua pasti tahu tentang ragamu yang tak 'anti air'.

Tik... Tik... Tik... Diantara rintik kakimu menukik; Badai 'belum' pasti berlalu.....

#JakartaBecek 16: 20 04May2011 (tams)