Selasa, 25 Oktober 2011

SEJARAH - Sekilas Tentang Waffen SS


Waffen-SS (Waffenϟϟ) adalah suatu produk akhir masyarakat yang sakit dan penuh kekecewaan, yang berselisih dengan diri sendiri dan dengan dunia. Masyarakat itu sendiri lahir akibat kekalahan dalam Perang Dunia Pertama serta dampak Malaise yang menyakitkan; itulah masyarakat yang, walaupun di mulut memuliakan demokrasi, sebetulnya merindukan dan mendambakan kepemimpinan yang kuat. Yang didapat masyarakat itu adalah Adolf Hitler dan Partai Buruh Sosialis Nasional Jerman (NSDAP—Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei). Sekali pun demikian, mereka adalah pasukan elit yang termasuk paling bersemangat dan ulet dalam Perang Dunia II, ujung tombak keperkasaan Nazi Jerman. Agresif dalam menyerang sekaligus gigih dalam bertahan, anggota pasukan ini yang gugur selama perang melampaui pasukan regular Jerman. Sebagai buah hati Hitler, Waffen-SS menjadi pemakai awal mesin-mesin perang terbaik Jerman, tentu dengan harapan memberi hasil yang sepadan. Sejarah mencatat bahwa harapan itu tidak berlebihan. Mulai dari medan nan hijau di Prancis, padang salju di Russia, sampai di jalan-jalan di Berlin yang berantakan, Waffen-SS tampil memukau baik bagi lawan maupun kawan. Buku ini membahas dari berbagai segi sosok pasukan elit produk masyarakat Jerman pada akhir dasawarsa 1930-an. Mulai dari sejarah kelahiran, rekrutmen, pelatihan, sampai prestasi baik dan kekejaman pasukan ini diulas dalam penuturan yang populer. (tams)

SPORT - Teriakan Bahasa Jawa Menyeruak Di Lintasan Terakhir Simoncelli

Mbakyu aku tak metu sek yo. Tunggu neng kene wae yo.

KALAU teriakan itu muncul di lingkungan masyarakat pedesaan di Jawa Tengah atau Jawa Timur, sepertinya wajar saja. Tapi itu menjadi tak lazim karena terjadi di press room tempat penyelenggaraan Shell Advance Malaysian Motorcycle Grand Prix di Sepang, Malaysia (sirkuit yang menjadi lintasan terakhir bagi Marco Simoncelli).

Teriakan itu mengundang tawa jurnalis yang berada di tempat itu yang rata-rata dari Eropa ataupun Jepang meski mungkin tidak tahu artinya. Salah satu wartawan Tribunnews Eko Sutriyanto jadi satu-satunya jurnalis asal Indonesia saat itu yang kebetulan sedang meliput kematian Simoncelli di Sirkuit MotoGP sepang, Malaysia.

Teriakan bahasa Jawa ngoko (kasar) itu belakangan diucapkan Lilik, perempuan yang asli warga Bandung terhadap teman sekerjanya Anik, yang asli Lumajang Jawa Timur.

Mendengar teriakan sesama asal Indonesia, Eko mendekati Anik yang tengah menyapu lantai di ruangan pressroom yang berukuran 20X20 meter itu. Dengan bahasa Jawa ngoko, Anik pun membeberkan tentang dirinya yang mungkin menjadi potret pahlawan devisa Indonesia.


Beberapa petugas mengevakuasi Marco simoncelli (reuters)




Wanita asal Lumajang Jawa Timur ini beralasan susahnya mencari pekerjaan di Indonesia sebagai alasan untuk tetap kerja di Malaysia. Kalau bisa memilih bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik berada di Indonesia.

"Mana bisa saya bisa kerja mas, lha wong saya tidak berpendidikan. Kalau mengandalkan suami. Tidak bisa cukup. Makanya kami kerja untuk mencukupi kebutuhan anak di kampung," ucapnya.

Diakuinya sebulan terakhir ini bekerja di Sepang setelah setahun menjalani kehidupan di kampung halaman. Puas bersama dengan anak, ia pun kembali ke Malaysia.

Lalu bagaimana dengan penghasilan?

"Di sini sistem gajinya tetap kok. Sebulan 700 ringgit. Kerja dari jam 07.00 sampai jam 17.00 sore. Kalau ada event biasanya mendapatkan tambahan 200 ringgit. Istilahnya uang lemburnya," ungkapnya.

Jika dirupiahkan penghasilan yang diperoleh antara Rp 1,9 juta-2,5 juta. Toh, hasil hitungan besar, bukan berarti mampu mencukupi kebutuhan yang layak.

"Walaupun suamiku juga kerja di proyek di sini masih pas-pasan untuk makan dan kebutuhan anak di Indonesia. Tidak bisa mendapatkan tabungan yang lebih," ungkapnya.

Adakah keinginan pulang kampung? "Selalu ada. Kalau bisa dengan mudah dapat pekerjaan ya pilih di Indonesia. Tapi di sana susah cari kerjaan buat saya yang pendidikannya rendah," ungkapnya.

Pun demikian dengan Lilik. Wanita kurus tinggi berusia sekitar 20-tahunan itu memutuskan merantau untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada perasaan takut bagi keduanya untuk bekerja di tengah pasang surut hubungan Indonesia-Malayasia ini. "Kalau berangkatnya resmi tidak masalah. Yang sering bermasalah yang ilegal," ungkapnya. (tams/ tribun)

Selasa, 18 Oktober 2011

Internasional - Komandan Tentara Korsel Memeluk Islam Setelah Tugas di Iraq

Jakarta, LP - Komandan militer dari Korea Selatan (Korsel), bersama 37 anggotanya memeluk agama Islam. Kapten San Jin-Gu adalah salah satu komandan Brigade-11SF, pasukan pengaman PBB dari Korea Selatan yg ditugaskan di Iraq.

Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Iraq Utara. Ketika bertugas di wilayah tersebut, beliau sering mengamati orang-orang Muslim bersolat berjamaah di Masjid. Kebetulan markas pasukannya berada dekat dengan masjid. Dia sangat hairan dengan gerakan-gerakan solat tersebut.

Oleh kerana ingin tahu, beliau mencuba meniru seluruh gerakan solat dan mempraktikkan di biliknya secara sendirian. Ketika mempraktikan itulah dia merasakan ada ketenangan dan perasaan damai yang hadir dalam hatinya.

Itulah sebabnya, pergerakan solat tersebut kemudiannya dijadikan program meditasi dalam pasukan yg dipimpinnya (disamping Yoga), dan ternyata sebahagian besar anggota-anggotanya setelah melakukan gerakan2 solat tersebut, mereka merasakan perasaan yg sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai.

Sejak itu Kapten San berinisiatif mempelajari Islam untuk mengenalnya lebih dalam lagi, dan akhirnya dia memutuskan untuk memeluk Islam. Ketika niatnya ingin memeluk Islam disampaikan kepada anggota-anggotanya, beliau berkata : "Aku telah menemukan cahaya kehidupan yg sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya tersebut, dan cahaya itu adalah Islam".

Tanpa di duga, secara spontan 37 anggota bawahan yang dipimpin olehya mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandan mereka - juga untuk memeluk Islam. (tams/tribun)

Jagad Unik - Demi Sperma Geng Wanita Ini Perkosa Pria

Jakarta, LP - Tiga perempuan Zimbabwe, Afrika, yang dituduh telah mengoperasikan jaringan yang menculik dan memerkosa sejumlah pria yang diberi tumpangan demi mendapatkan sperma mengklaim bahwa mereka hanya pekerja seks komersial (PSK) biasa.

Sophie Nhokwara (26 tahun), adiknya Netsai (24 tahun), dan Rosemary Chakwizira (28 tahun), hadir di pengadilan di Harare, Zimbabwe, Jumat (14/10/2011), untuk menghadapi tuduhan telah melakukan penyerangan secara seksual. Bersama Thulani Ngwenya (24 tahun), yang diduga pacar salah satu perempuan itu, mereka dituduh mengoperasikan sebuah jaringan yang ingin mendapatkan sperma dengan target orang-orang mereka beri tumpangan di kendaraan mereka.


Sophie Nhokwara dari Zimbabwe yang dituduh telah menculik dan memerkosa sejumlah sejumlah pria di negara itu tengah berfoto dengan mobil Chevrolet Aveo merah miliknya.(Radio Nehanda Zimbabwe)



Mereka didakwa terkait tiga insiden. Namun sudah lebih banyak korban yang melapor setelah ada penyelidikan polisi terhadap serangkaian penculikan dan serangan seks. Laporan dari Zimbabwe menggambarkan tren yang mengkhawatirkan tentang lelaki yang ditawari tumpangan, tapi kemudian yang dibius dan dibawa ke tempat-tempat terpencil oleh para penyerang perempuan. Para pria tersebut kemudian dipaksa untuk melakukan hubungan seks dengan para perempuan itu, kadang-kadang tanpa pengaman (kondom) dan di bawah todongan senjata, sebelum para perempuan pemerkosa itu mengumpulkan sperma mereka, lalu korban diturunkan di pinggir jalan. Ada dugaan, praktek pengumpulan sperma dengan modus penculikan dan pemerkosaan itu terkait ritual ilmu hitam.

Menurut laporan Radio Nehanda Zimbabwe, ketiga perempuan tersebut membantah tuduhan itu. Ketiganya menyatakan, mereka hanya pekerja seks biasa.

Sebanyak 17 terduga korban telah diidentifikasi sejauh ini termasuk seorang tentara dan seorang polisi. Kedua korban terakhir itu mengalami kekerasan seksual berupa dipaksa berhubungan seks dan tanpa menggunakan kondom.

Keempat tersangka tampil di depan hakim Harare, Kudakwashe Jarabini, selama hampir satu jam, Jumat, untuk mendengar tiga dakwaan yang dibacakan atas mereka. Dituduhkan, pada 3 Maret lalu keempat orang itu mengangkut seorang pria 19-tahun di Budiriro, Harare, ketika orang itu dalam perjalanan menuju ke kota tersebut. Di sepanjang jalan, menurut dakwaan itu, para perempuan diduga menyemprotkan remaja itu dengan bahan kimia yang membuatnya merasa pusing sebelum membawa dia ke sebuah semak-semak. Di sana, anak muda itu dipaksa untuk minum ramuan perasang hasrat seksual dan dipaksa untuk melakukan hubungan seks dengan ketiga perempuan itu dengan menggunakan kondom.

Berdasarkan dakwaan kedua, keempat orang itu dituduh telah mengangkut seorang prajurit yang tidak mengenakan seragam di Norton pada 22 Agustus sebelum membawanya ke jalan berdebu terpencil. Para jaksa mengklaim, salah satu dari mereka membawa pistol dan mengancam akan menembak tentara itu jika ia menolak untuk berhubungan seks tanpa kondom dengan mereka.

Tuduhan ketiga menyatakan, pada 14 September keempat orang itu mendekati seorang polisi yang tidak berseragam di Chinhoyi. Mereka bertanya tentang arah jalan. Yang selanjutnya terjadi, mereka mengikat polisi itu di dalam mobil. Geng itu diduga telah menyemproti dia dengan zat yang tidak diketahui sebelum memaksanya berhubungan seks tanpa kondom dengan mereka, lalu membuang dia dari kendaraan.

Dakwaan itu juga menyebutkan bahwa dengan menggunakan mobil yang berbeda, geng tersebut menyasar 14 pria lain dengan taktik serupa.

Mereka ditangkap setelah para detektif di Gweru, menyita 33 kondom bekas dari kendaraan mereka menyusul laporan tentang serangan terhadap para pria yang mendapat tumpangan di kota itu. Kepala polisi Midlands, Asisten Komisaris Senior Charles Makono, mengatakan, ketiga perempuan itu dicurigai setelah mereka bertanya kepada petugas apakah mereka bisa mengambil sebuah kantong kondom dari mobil mereka, yang baru saja terlibat kecelakaan. Chakwizira dan Nhokwaras bersaudara yang berasal dari Mkoba 4, Gweru, langsung ditangkap bersama teman pria mereka yang bertindak sebagai sopir. Si pria juga menghadapi tuduhan pembunuhan setelah kecelakaan fatal di mana ia menabrak pejalan kaki hingga tewas.

Radio Nehanda Zimbabwe sebelumnya melaporkan, stasiun polisi di Gweru dikepung massa yang marah yang ingin melihat trio yang ditangkap itu. Seorang warga lokal di Gweru, yang berada di luar kantor polisi itu, pekan lalu, mengatakan, ketiga perempuan tersebut dikenal di kota itu dan secara teratur mengujungi klub malam di sana.

Harry Muhammad Misi kepada Radio Nehanda Zimbabwe mengatakan, "Kami sangat terkejut dengan apa yang terjadi dalam masyarakat kami, di mana laki-laki sekarang diperkosa perempuan. Tampaknya dunia telah terbalik sekarang. Namun, bagaimana mereka bisa hidup dengan tindakan seperti itu? Pada kasus ini, biarkan hukum bekerja. Kami biasa minum bersama mereka di Uptown Night Club, dan kami tidak tahu bahwa mereka berada di belakang kasus tersebut."

Polisi telah meminta para korban untuk datang ke kantor polisi guna membantu mengidentifikasi penyerang mereka. Polisi juga berharap bisa mencocokkan bekas sperma yang ada di kondom-kondom itu dengan sejumlah korban melalui tes DNA. Sidang atas kasus itu masih akan berlanjut.(tams/ dailymail)

Jumat, 14 Oktober 2011

INTERNASIONAL - Masyarakat Jerman Rela Antre Demi Kopi Luwak

Jakarta, LP - Pada tanggal 8 sampai 10 September lalu diadakan pameran kopi di Koeln Messe di Jerman. Pameran tersebut diadakan oleh pemerintah Jerman dan dinamakan Coffeena. Pameran tersebut diikuti oleh berbagai perusahaan kopi dari seluruh dunia, mulai dari para pengusaha kopi traditional, roaster dan trader dari berbagai negara di Eropa dan juga perusahaan pembuat mesin mesin kopi yang kebanyakan dari Italia.

Untuk pameran kali ini, Indonesia Trade Promotion Center Hamburg mengkoordinir stand Indonesia. Pada kesempatan ini pengusaha Indonesia diwakili oleh perusahan kopi yang sudah lama bermain di business kopi dan juga pemda Indonesia, antara lain PT. Taman Delta Indonesia (exporter coffee bean), Fortunium (produsen kopi Luwak), Tapis Luwak, Pemda Jawa Barat (diwakili oleh Paris van Java), dan Pemda Enrekang- Sulawesi Selatan.

Para pengunjung yang kebanyakan masyarakat Eropa sangat menikmati kopi dari Indonesia. Karena di pameran tersebut PT. Fortunium dan Tapisluwak memberikan free drink untuk para peserta. Kopi yang diberikan adalah kopi yang sangat eksotik dan kopi sangat mahal yaitu kopi luwak. Para pengunjung sampai antri untuk mencoba kopi tersebut. Karena selain kopi luwak terkenal sangat mahal (1.000 Euro/Kg) dan juga sangat jarang tersedia di Eropa.

Kopi Enrekang yang telah menjadi kopi terenak menurut cupping test tahun 2009, juga sangat diminati oleh para trader. Pemda Enrekang sangat lihai dalam mengemas pameran kali ini, yaitu dengan mengangkat tema tentang kehidupan petani. Karena perkebunan kopi Enrekang masih dikelolah secara traditional oleh petani petani kecil. Dan kebun kopi sudah menjadi tumpuan hidup mereka secara turun menurun.

Strategi ini sangat pas untuk pedagang di Jerman, karena sudah menjadi topik di mana mana bahwa para pengusaha juga harus ikut memperhatikan kehidupan petani, tidak semata mata berorientasi pada business dan profit semata. Hal in dibuktikan dengan banyaknya pengusaha jerman yang tertarik untuk membeli langsung dari pemda Enrekang tanpa melalui trader. Karena dengan melalukan kontak langsung antara petani dan pengusaha, maka nasib petani dapat diperhatikan langsung oleh pengusaha, termasuk memberikan suntikan modal dan bimbingan teknis agar petani kopi dapat meningkatkan dan mempertahankan mutu kopi yang dihasilkan.

Masyarakat Jerman dan Eropa memang sangat gemar memimum kopi, kopi sudah menjadi bagian hidup dari semua orang, baik pria maupun wanita. Menurut data survey tahun 2008 komsumsi kopi perkapita untuk orang jerman adalah 6.4 Kg !! artinya setiap orang jerman meminum kopi 6.4 kg per tahun, bandingkan dengan konsumsi kopi Indonesia yang Cuma 0.5 Kg per kapita.

Untuk konsumpi kopi Jerman, ada lelucon yang mengatakan bahwa ekonomi dan pembangunan jerman akan hancur kalau tidak ada suplai kopi. Karena para karyawan dan masyarakat umum tidak dapat bekerja tanpa kopi.

Namun untuk memasuki pasar Jerman memang sangat susah, diperlukan strategi dan pendekatan khusus. Apalagi pasar jerman sudah mulai masyarakat certification (Fair Trade, Organic, dll). Untuk certification ini, sebaiknya pemerintah melalui pemda pemda, memberikan bantuan dan pengarahan. Karena petani kopi Indonesia kebanyakan masih skala kecil dan pengelolaan kopi masih traditional. Sedangkan certification berarti standar dan pengawasan mutu yang ketat. (tam/ tribun)