Selasa, 26 Juni 2012

OPINI - Kenapa 'Ambon Ungaran' Galak Pada Wartawan (Duka Peliput Jatuhnya Fokker 27)



Tulisan ini hanya keluh kesah yang berdasarkan kenyataan yang berlandaskan hukum. Sangat miris mendengar cerita para jurnalis yang kala itu meliput tragedi kecelakaan Fokker 27 yang jatuh pada Kamis (21/6/2012), di Kompleks Perumahan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.

'Ambon Ungaran' atau Angkatan Udara milik TNI nampak sekali menghalangi tugas jurnalistik yang sesungguhnya telah dilindungi Undang-Undang, seperti yang terjadi pada rekan-rekan jurnalis TV, cetak maupun online. Mulai dari perampasan kaset, memory card, intimidasi bahkan kekerasan fisik.

Gambar lokasi kejadian diambil fotografer dari jarak jauh. Hal ini menandakan wartawan dibatasi aksesnya untuk mengambil gambar. (LP/Republika)
Beberapa kali saya mendengar cerita dari beberapa rekan jurnalis, salah satunya jurnalis TV yang bernama Eko. Dia menuturkan, bagaimana tidak seorang jurnalis yang meliput jatuhnya Fokker 27 harus memutar otaknya agar bisa mendapatkan gambar atau data. Saat mereka tiba di lokasi kejadian, mereka disambut dengan pengusiran Provost, dengan pongah Provostpun mengatakan pada wartawan, "Ini peraturan, tidak boleh diliput," tegasnya. Tak habis akal para jurnalis ini mencari jalan lain yaitu dengan mencari semak-semak bahkan masuk ke sawah dekat area tol agar bisa mendapatkan gambar puing-puing Fokker 27, sesampai di sana ternyata wartawan juga bertemu warga Pemukiman TNI AU, dan warga melaporkan ke Provost dan terjadilah adu mulut antara wartawan dan Provost. Bahkan rekan wartawan juga mendapat kabar bahwa angkot menuju perumahan tersebut dirazia oleh Provost, takut jikalau dimasuki waratwan. Lantas begitu antipatikah sekumpulan abdi negara ini pada pekerja media?

Namun dari beberapa wartawan ada yang mengelabui para anggota dengan berbagai cara yang unik, seperti Zugro salah satu wartawan TV, dengan sigap ia menjawab saat Provost mencegat dan menanyakan dia hendak kemana. "Saya kernet truk deko, saya buru-buru nih," ucap Zugro dengan logat Batak yang disengaja pada Provost tersebut. Sesampai di dalam ia langsung mengambil gambar dengan Blackberrynya, hampir saja ia ketahuan oleh petugas lain yang menjaga tempat kejadian perkara di Komplek Rajawali, Perumahan TNI AU, Halim PK. Spontan Zugro langsung berpura-pura mengatur truk yang sedang lewat.

Lain hal dengan Moko wartawan media online, setibanya di tempat kejadian ia langsung bermuka sedih dan berteriak pada petugas yang menghampirinya, "keluarga saya ada disana Pak," katanya, stelah lolos ia langsung mengeluarkan ponsel dan mengabadikan gambar. Ada juga yang berpura-pura menelepon dengan ekspresi sedih, namun tangan yang satu mengabadikan gambar.

Gambar lokasi kejadian diambil fotografer dari jarak jauh. Hal ini menandakan wartawan dibatasi aksesnya untuk mengambil gambar. (LP/Republika)
Tidak hanya di tempat kejadian, wartawan juga tak diijinkan memasuki RSAU dr Esnawan Antariksa Halim Perdana Kusuma. Salah satu rekan wartawan online bernama Aji, berpura-pura menangis saat hendak menuju ke ruang IGD yang dijaga Provost, ia lalu berteriak, "Mama saya meninggal di dalam Pak," ucapnya. Akhirnya iapun boleh masuk namun sesampai di dalam ia juga tak mampu berbuat banyak, ia pun tak berani mengambil gambar karena banya k Provost yang menjaga. Dan masih banyak kejadian unik lainnya.

Perusakan Kaset Oleh Aparat

Stif salah satu wartawan TV saat di lokasi kejadian di Komplek AU tersebut sedang melaporkan kejadian via telepon sempat dimaki aparat dan mengusirnya.

Sejumlah wartawan dari media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Koalisi Jurnalis Anti Kekerasan, berunjuk rasa di sekitar Bundaran HI Jakarta Pusat, Rabu (30/5/2012). Mereka memprotes tindak kekerasan terhadap sejumlah jurnalis oleh oknum Marinir di Padang, Sumatera Barat. (LP/tribunnews)
Oleh karenanya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam keras kekerasan serta perampasan kaset dan ID card, yang dilakukan aparat TNI AU terhadap jurnalis yang sedang meliput berita pada Kamis (21/6/2012), di Kompleks Perumahan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Kasus ini menimpa Urip Arpan (Kontributor Televisi Berita Satu), Dhika (Jurnalis Kompas TV), dan Reza (Fotografer Harian Kompas), saat akan mengambil gambar reruntuhan pesawat Fokker 27 yang jatuh di Kompleks Perumahan Rajawali, Halim Perdanakusuma.
Menurut Urip Arpan, peristiwa ini bermula saat ia  hendak mengabadikan lokasi pesawat Fokker 27 milik TNI-AU yang jatuh di daerah Halim.
Tiba-tiba, lehernya ditarik oleh salah seorang provost TNI-AU. Secara mengejutkan, provost tersebut juga mengeluarkan kata-kata ancaman bernada intimidasi, "Saya ambil kameranya, apa kasetnya yang dikeluarkan."   
Akhirnya, Urip menuruti keinginan provost tersebut. Lantas, kaset dirusak dengan cara menarik pita seluloid keluar dari selongsong.
Tak terima dengan perlakuan itu, Urip kemudian menanyakannya, "Kenapa seperti itu, Pak?".
"Ini peraturan, tidak boleh diliput,", jawab sang provost TNI-AU.
Tak habis akal, Urip kemudian berpindah ke lokasi lain. Kali ini ia hanya menggunakan kamera BlackBerry untuk mengambil gambar.
Namun lagi-lagi, saat sedang melakukan tugas jurnalistik, ia dilarang oleh seorang anggota TNI-AU berpangkat mayor. Saat itu, ID card-nya yang dirampas.
"Kamu dari wartawan mana?". Secara spontan Urip menjawab, "Berita Satu TV, Pak."
Urip kemudian mengeluarkan surat tugas. Seusai membaca surat, baru lah sang mayor mengetahui informasi mengenai Televisi Berita Satu.
Setelah itu, meski hanya menggunakan BlackBerry, Urip tetap tidak diizinkan mengambil gambar. Atas perlakuan yang dialaminya, Urip kemudian mengadukan kasusnya kepada pejabat penerangan TNI AU. Namun tidak ada tanggapan.
Belakangan diketahui, bukan hanya Urip yang mengalami perampasan kaset, seorang fotografer Harian Kompas  dan Jurnalis Kompas TV juga mengalami hal serupa.
Secara paksa, memory card yang mereka gunakan untuk menyimpan gambar juga dirampas aparat TNI AU.
Tindakan aparat TNI AU ini merupakan bentuk pelanggaran UU Pers No 40/1999 pasal 4 ayat (2) yang berbunyi, "Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelanggaran penyiaran."
Pelanggaran pasal ini diancam dengan hukuman penjara dua tahun atau denda Rp 500 juta, seperti tercantum pada pasal 18 ayat (1) yang berbunyi, (1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja dan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia. Sejak Januari hingga Juni, sedikitnya telah terjadi 20 kasus kekerasan terhadap jurnalis.
Kekerasan terhadap jurnalis terus berulang, karena sejumlah pihak tidak paham atas tugas penting yang diemban oleh jurnalis.

Atas kejadian ini, AJI Jakarta mendesak panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara untuk menindak para pelaku kekerasan terhadap jurnalis.
"AJI Jakarta menuntut para pelaku diadili sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, demi mendorong kesadaran setiap warga negara, bahwa jurnalis adalah profesi yang dilindungi oleh hukum," ujar Ketua AJI Jakarta Umar Idris, lewat rilis yang diterima, Sabtu (23/6/2012). (tams/tribun)

LINGKUNGAN - Monyet Daun di Kawasan Gunung Slamet Terancam Punah

Beralihnya ahli fungsi lahan dari hutan menjadi non hutan menjadi ancaman bagi habitat monyet daun

 

Monyet daun perak, spesies ini ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Populasinya yang makin menipis menjadikannya masuk dalam daftar endangered IUCN (LP/Thinkstockphoto).

Jakarta, LP -  Rekrekan atau monyet daun (Presbytis fredericae) salah satu primata endemik pemakan daun di kawasan Gunung Slamet habitatnya kian terancam. Terbatasnya luas hutan pegunungan, perkembangan pembangunan yang meningkat di bidang pemukiman, perkebunan, dan pertanian di Pulau Jawa menyebabkan terancamnya habitat monyet daun.

Di pulau Jawa, tempat hidup primata ini kian hanya terbatas pada daerah hutan yang terisolasi seperti Gunung Slamet, Gunung Cupu - Simembut, Gunung Dieng dan Gunung Lawu. Berdasarkan penelitian Abdi Fitri, peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, habitat yang digunakan oleh rekrekan di Gunung Slamet adalah seluas 33.230 hektare.
Di Gunung Slamet, rekrekan paling banyak ditemukan di daerah tingkat lereng yang curam. Paling banyak ditemukan pada lereng dengan sudut kemiringan 35-40 derajat sebanyak 28 kelompok dan 131 individu. Sedangkan pada lereng 25-35 derajat ditemukan sembilankelompok dan 43 individu.
Menurut Abdi, kelerengan dapat membantu rekrekan terhindar dari predator dan dapat memiliki pandangan yang lebih luas. Bahkan rekrekan banyak ditemukan pada ketinggian habitat di atas 600 meter dari permukaan laut. “Ketinggian 1.100-1.300 mdpl merupakan ketinggian dimana rekrekan paling banyak ditemukan, karena pada ketinggian itu ditemukan pakan yang bervariasi,” kata Abdi Fitria, dalam ujian promosi doktor di Fakultas Kehutanan UGM, Sabtu (23/6).
Ia melanjutkan, kondisi hutan di area Gunung Slamet yang telah mengalami alih fungsi dari lahan dari hutan menjadi non hutan, serta keberadaan hutan primer dengan kanopi dan tutupan yang luas sangat mempengaruhi keberadaan dan penyebaran primata ini. “Ditemukan delapan kelompok dengan 68 individu di daerah hutan primer,” katanya.
Hutan primer di Gunung Slamet menjadi penting bagi rekrekan karena ketersediaan pakan alami yang spesifik. Pakan ini memungkinkan rekrekan untuk dapat berkembang biak dan memperbanyak keturunan. “Semakin luasnya pembukaan lahan, akan semakin mendesak habitat rekrekan dan akan mengarah pada penurunan jumlah populasi rekrekan,” ujarnya.
Dari hasil penelitian Abdi Fitri, rekrekan merupakan golongan primata yang memiliki sistem sosial dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Tidak pernah ditemukan adanya sistem berpindah antar anggota kelompok rekrekan, khususnya individu betina.
Bahkan yang lebih unik lagi, individu jantan dan betina yang telah dewasa akan meninggalkan kelompoknya dengan perlahan dan membentuk kelompok sendiri. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kompetisi makan antar pejantan dan sebagai upaya memperoleh kehidupan berupa sumber pakan yang lebih berkualitas.
Abdi mengusulkan, perlu adanya peningkatan sosial ekonomi dan partisipasi masyarakat dalam usaha perlindungan dan pelestarian hutan melalui program ekowisata dan eduwisata. Namun yang tidak kalah penting, ujar Abdi, perlu dilakukan peningkatan status kawasan dan kegiatan pembinaan habitat sehingga ekosistem Gunung Slamet tetap lestari. (tams/NGI)

Senin, 25 Juni 2012

REGIONAL - Aneh, Bus & Truk Tersesat di Hutan Tanpa Lecet dan Jejak Ban

Jakarta, LP - Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Bus itu mengangkut 33 penumpang.

Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah.

Bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk Beton Jaya Mix, tepatnya di Desa.Kedungbacin Kec.Todanan Kab.Blora tiba-tiba berada di hutan (tribun/LP)


Awalnya, bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura, tepatnya di jalur Juwana-Rembang, Kamis (22/6/2012) dini hari.

Karena lalu lintas macet, sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa. Entah bagaimana, bus tersebut mendadak masuk ke kawasan hutan jati Gadogan di Desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.

Ceritanya, ketika menempuh jalan pintas itu, di perbukitan yang dipenuhi pohon jati, bus berjumpa dengan truk beton.

Sopir berusaha mendahului truk namun kernet meminta sopir membiarkan truk duluan mendaki. Truk akhirnya bisa mendaki, disusul bus.

Pendakian bus tidak mulus. Ban belakang selip, lalu berjalan mundur. Kemudian terdengar suara benturan.

Kernet dan sopir turun dari bus coba melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, mesin mobil mati. Sopir dan kernet kaget bukan main karena menyadari posisi mobil tidak lagi di jalan tapi di tengah-tengah hutan jati.

Waktu itu pukul 02.30 dini hari. Kernet membangunkan 33 orang penumpang bus.

Sekitar pukul 06.30 WIB, kru mencoba mencari pemukiman warga dan meminta bantuan. Warga lalu melapor kepada lurah setempat.

Setelah sekitar lima jam di tengah hutan jati itu, pertolongan datang. Mobil patroli bersusah payah masuk ke TKP. Maklumlah, lokasi bus itu rupanya hanya jalan setapak.

Agar bisa keluar, sebagian pohon ditebang dan jalanan diratakan. Pada pukul 18.35, barulah bus itu mencapai jalan desa.

Anggota Sektor Pelayanan Masyarakat Polsek Todanan, Blora, Jawa Tengah, Briptu Suwignyo, yang dikonfirmasi, terheran-heran. Bodi bus dan truk tidak lecet terkena ranting pohon kalaulah kedua mobil itu menerabas hutan dan memaksa melewati jalan setapak di hutan jati itu.

"Ini memang kejadian aneh, tapi nyata. Wong, bus dan tronton itu lagi melaju di jalan raya, tiba- tiba ada di hutan. Dan, anehnya lagi, gak ada body bus maupun truk yang tergores. Padahal, kendaraan itu di antara rerimbunan pohon," tutur Briptu Suwignyo kepada Tribunnews.com, Minggu (24/6/2012).

Logikanya, kata Briptu Suwignyo body bus truk tergores ranting-ranting atau tumbuh-tumbuhan belukar apabila memang sengaja mengambil rute jalan setapak.

"Ranting pohon yang menjepit bus besar-besar. Untuk mengeluarkan bus dan tronton itu, kami bersama warga perlu membabati dan menguruk jalan, karena harus melalui persawahan," katanya.

Pihak PO Bus Pahala Kencana ketika dikonfirmasi mengenai kabar tersebut belum mau memberikan informasi detail. Mereka berjanji akan memberikan keterangan pada hari Senin(25/6/2012) besok.

"Besok saja mas, sekarang hari libur, enggak ada orang," kata seorang petugas saat dihubungi wartawan.

Fenomena Mesin Waktu Kerap Terjadi, Kasus Bus Pahala Kencana dan Truk Beton Yang Terheboh

Truk Beton Jaya Mix,juga ikut tersesat di dalam hutan (tribun/LP)


Peristiwa langka bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura yang pindah dalam sekejap ke hutan jati wilayah Blora, Jawa Tengah ternyata bukan pertama kali terjadi. Adalah Briptu Soewignyo yang sehari-hari berdinas di Sentra Pelayanan Masyarakat Polsek Todanan, Blora, Jawa Tengah, menyatakan tak heran lagi adanya peristiwa ganjil yang terjadi di kawasan Hutan Bonggan tersebut.

Rimba yang kerap disalahgunakan sekelompok orang yang bertujuan ingin kaya mendadak itu, beberapakali mencuatkan fenomena ganjil berbau mistis. Selama sembilan tahun terakhir, setidaknya telah empat kali ada kejadian ganjil.

"Yang paling heboh ya, bus Pahala Kencana dan dua truk tronton tiba-tiba ada di tengah hutan Bonggan kemarin," kata Briptu Soewignyo kepada wartawan, Minggu (24/6/2012).

Polisi yang telah menjadi kakek dari dua cucu ini mengungkapkan, kejadian aneh pertama terjadi sekitar sembilan tahun lalu. Grup kesenian ketoprak yang disewa warga untuk menghibur masyarakat dalam hajatan, malah tersesat di kawasan hutan.

"Ya warga di sini heboh, karena ditunggu-tunggu ketopraknya enggak datang. Tahu-tahu besoknya ramai, karena grup ketoprak itu ada di tengah hutan. Bingung juga karena mereka merasa main ketoprak di rumah yang punya hajatan," kisah Briptu Soewignyo.

Tiga tahun lalu, giliran penduduk setempat. Ketika mengendarai motor malam hari dekat kawasan hutan, juga tersesat di belantara.

"Dia enggak bisa pulang selama dua hari dua malam. Setelah diikhitiarkan, baru ketemu. Ternyata dia di tengah hutan. Ngakunya ya lagi naik motor saja di jalan," tutur Soewignyo.

Polisi yang 18 bulan lagi pensiun ini pun mengalami sendiri pengalaman unik seperti itu. Menurut cerita Soewignyo, saat ia mau pulang dari Mapolsek Todanan, hujan deras mengguyur wilayah Blora.
Sebelum menerobos guyuran hujan, ia mengenakan jas hujan dan helm. Setelah menempuh perjalanan beberapa kilometer menuju rumahnya di Kenduruan, Blora, ia melintas di kawasan hutan.

"Lampu utama motor saya tiba-tiba rusak, mau copot kacanya. Terus saya betuli sejenak, selanjutnya sambil jalan saya pegangi. Tapi, saya enfgak sampai-sampai rumah. Ternyata saya semalam suntuk ada di tengah hutan," ujar Briptu Soewignyo lalu tertawa.

"Itu pengalaman yang terlupakan, karena aneh. Saya merasa naik motor di jalan, ternyata ada orang yang melihat saya mengatakan, saya ada di tengah makam. Mereka mengira saya penjahat, karena malam kan enggak bisa melhat saya dengan jelas. Apalagi saya pakai mantel dan helm," jelasnya.

Paginya, Soewignyo baru menyadari berada di tengah makam, setelah ditegur orang.

"Sejak peristiwa itu, kalau saya melintas dekat kawasan itu, ya nyanyi-nyanyi saja sekerasnya. Dibilang takut berani tidak, takut pun tidak. Cuma ya repot, kalau kejadian yang saya alami terulang," kata ayah empat anak ini lalu tertawa lagi.

Kendati demikian, Briptu Soewignyo mengimbau agar masyarakat mengambil hikmahnya, bukannya terjebak klenik.

"Mari jadikan pelajaran peristiwa apapun, termasuk yang aneh tapi nyata seperti itu. Jangan sampai pikiran kosong, atau melamun saat di jalanan atau saat melakukan apa saja. Lebih penting lagi, jangan lupa salat. Saya yakin kalau iman kita kuat, Insya Allah tak akan mengalami hal-hal seperti itu. Itulah pelajaran yang saya petik," tutur Briptu Soewignyo.

Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah dalam waktu sekejap.

Awalnya bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura tepatnya di jalur Juwana-Rembang,Kamis(22/6/2012) dini hari. Karena situasi macet sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken, atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa, mendadak mereka masuk ke hutan Gadogan di desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Wilayah ini dikenal sebagai perbukitan hutan jati. Anehnya, saat mau mendahului truk beton yang berada di depannya, kernet mencoba menahan sopir, agar truk naik dulu ke jalan yang menanjak, setelah truk bisa naik, bus mencoba naik, namun ban belakang selip dan mundur, kemudian terdengar suara benturan, kernet seketika turun dan mencoba mengecek, setelah dicek dengan sopir, mesin seketika mati, saat sopir mengecek body bus, seketika kaget, karena dia melihat pohon jati dan setelah memutar dia berada di tengah-tengah hutan, dia mulai tersadar jam 02.30 WIB dini hari dan kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang.
Warga: Aneh, Tak Ada Jejak Ban dan Body Bus Mulus

Warga: Aneh, Tak Ada Jejak Ban dan Body Bus Mulus

Bus Pahala Kencana yang dalam sekejap berpindah tempat dari jalur pantura ke hutan jati gelap gulita (ist/LP)


Salah seorang saksi mata yang juga warga Blora, Jawa Tengah bernama Luckie Oktavian mengatakan tidak ada sama sekali jejak ban bus Pahala Kencana ataupun truk beton yang tiba-tiba berada di dalam hutan kawasan Todanan dalam waktu sekejap tersebut.

Menurut Luckie, semua yang menyaksikan kondisi bus dan kedua truk terheran-heran karena tidak terlihat bekas jejak ban.

"Kondisi bus juga mulus, tidak ada lecet-lecet karena bergesekan dengan batang dan ranting pohon di hutan jati Desa Kedung Bacin," kata Luckie kepada wartawan, Minggu(24/6/2012).

Luckie menuturkan, saat berada di lokasi petugas dari Polsek Todanan sudah berada di sana. Petugas langsung memotret ketiga kendaraan yang belum berhasil dievakuasi tersebut.

"Saya tiba di lokasi Kamis sore. Saya tiba, warga dan petugas sedang berusaha membuat jalan darurat dengan warga," ujar Luckie. Dia menambahkan, saat bus dan kedua truk akan dievakuasi, kondisi sudah sore, namun upaya evakuasi terus dilakukan.

Petugas juga mendatangkan staf mekanik Pahala Kencana di pool Kudus, Jawa Tengah, ke lokasi.

Kejadian aneh bin ajaib menimpa sebuah bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura dan truk beton Jaya Mix. Seperti masuk sebuah mesin waktu, kedua kendaraan besar tersebut secara tiba-tiba berada di sebuah hutan jati gelap gulita di kawasan Blora, Jawa Tengah dalam waktu sekejap.

Awalnya bus Pahala Kencana dan truk beton melintas di jalur pantura tepatnya di jalur Juwana-Rembang,Kamis(22/6/2012) dini hari. Karena situasi macet sang sopir mencoba mencari jalur alternatif. Akan tetapi sesampainya di jalur Jaken, atau Kabupaten Pati wilayah paling selatan, sopir merasa sudah berada di jalur pantura, namun justru mengarah ke Kabupaten Blora.

Ketika melintas, memang lajur yang dilalui adalah jalan desa, mendadak mereka masuk ke hutan Gadogan di desa Kedungbacin, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Wilayah ini dikenal sebagai perbukitan hutan jati. Anehnya, saat mau mendahului truk beton yang berada di depannya, kernet mencoba menahan sopir, agar truk naik dulu ke jalan yang menanjak, setelah truk bisa naik, bus mencoba naik, namun ban belakang selip dan mundur, kemudian terdengar suara benturan, kernet seketika turun dan mencoba mengecek, setelah dicek dengan sopir, mesin seketika mati, saat sopir mengecek body bus, seketika kaget, karena dia melihat pohon jati dan setelah memutar dia berada di tengah-tengah hutan, dia mulai tersadar jam 02.30 WIB dini hari dan kernet mencoba membangunkan penumpang yang berjumlah 33 orang.

Parapsikologi: Tak Ada Unsur Mistis, Sopir Hanya Kelelahan


Kejadian aneh dan ajaib yang menimpa bus Pahala Kencana tujuan Jakarta-Madura di kawasan pantura, diprediksi tidak ada sama sekali kaitannya dengan hal-hal yang berbau mistik.

"Tidak, kecil kemungkinan ada dunia lain, sopir sering begitu dia halusinasi, pikirnya ada jalan," kata Ahli Parapsikologi, Masrukhan kepada wartawan, Minggu(24/6/2012).

Masrukhan menjelaskan kejadian masuknya bus Pahala Kencana ke hutan jati di wilayah Blora, Jawa Tengah lebih disebabkan karena faktor kelelahan dan menumpuknya beban pikiran sang sopir, sehingga sering menghayal dan batinnya tidak tenang.

"Kelelahan, banyak masalah jadi sering menghayal, tidak jelas realitas, karena ketidaktenangan batin," ujarnya.

Selain itu lanjut Maslukhan sopir juga diduga telah diberi sugesti terhadap tempat-tempat angker oleh sesama pengemudi saat berkumpul.

"Sering itu sopir kalau bertemu saling bercerita, sering dibilangin, begitu, jadi semacam sugesti," jelasnya.

Peristiwa serupa bus Pahala Kencana kata Masrukhan memang kerap terjadi di lokasi pantai utara Jawa.

Fenomena tersebut dinamai halusinasi negatif, dimana ketika seorang sopir bus memikirkan sebuah jalan terbentang di hadapannya, tetapi nihil.

"Kalau dari para psikologi sopir halusinasi mungkin ada beban masalah pernah dengar daerah situ angker dia percaya, pertama kesitu, saat itu malam gelap," jelasnya.

Penyebab dari adanya halusinasi yang muncul tersebut bisa saja berasald ari obat-obatan atau sang sopir memang kelelahan usai mengemudikan mobil bus berbadan besar seperti Pahala Kencana.

Untuk itulah Masrukhan menyarankan agar diadakan penyuluhan kepada para sopir bus sebelum membawa armada bus melakukan perjalanan jauh. (tams/tribun)

Senin, 18 Juni 2012

INTERNASIONAL - Restoran Masakan Indonesia 'Nyelip' di Gang Negara Polandia

Jakarta, LP – Sebelum memasuki kawasan kota tua Poznan, di salah satu gang jalan yang cukup lebar, Anda akan menemukan sebuah restoran bercita rasa asli Indonesia. Restoran itu dinamakan Warung Bali. Awal melihat tempat ini, Tribun mengira ini adalah cabang dari Bali Cafe yang ada di ibukota Warsawa.

(tribun)

Ternyata bukan. Sama-sama menggunakan nama Bali, tapi dua rumah makan yang merepresentasikan masakan khas Indonesia di Polandia itu sangat berbeda. Sandy, koki Warung Bali yang ada di Poznan menjelaskan perbedaan tersebut.

"Bali Cafe yang ada di Warsawa menunya sudah bercampur dengan cita rasa masakan Eropa. Jika kami yang ada di sini, murni masakan khas Indonesia. Itu perbedaan yang mendasar. Pemilik restoran ini juga tidak sama, bahkan mungkin tidak kenal," kata Sandy dikutip dari Tribun.

Sandy yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, menjelaskan bahwa Warung Bali yang ada di Poznan didirikan oleh orang asli Polandia bernama Kuba, empat tahun lalu. Kuba tertarik mendirikan Warung Bali setelah hanya tiga bulan melancong ke Indonesia.

Penasaran tentang keaslian masakan Indonesia yang ada di Warung Bali, Tribun lalu melihat menu yang disajikan. Benar saja, di Warung Bali semua menunya khas Indonesia tanpa satupun terkontaminasi dengan cita rasa Eropa.

Di sini bisa ditemukan nasi campur Bali, sate kambing, soto Betawi, ayam semur, mie kuah dan goreng, dan banyak lagi masakan-maskan khas Indonesia. "Beberapa rempah-rempah dan bumbunya kami datangkan langsung dari Indonesia, sebagian lagi kiriman dari Jerman," kata Sandy.

Interior Warung Bali sangat khas Indonesia. Di dalamnya ada lukisan-lukisan berbau budaya Bali dengan memadukan ornamen Jawa dan Sunda. Alunan musik sayup-sayup khas Sunda membawa perasaan kembali berada di Indonesia. (tams/tribun)

Rabu, 13 Juni 2012

INTERNASIONAL - Mengungkap Kerasulan Muhammad Saw Melalui Misteri Injil Kuno

Jakarta, LP - Perhatian dunia tertuju ke Turki. Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan terungkapnya sebuah misteri yang terkandung dalam Injil berusia 1500 tahun yang tersimpan di Turki.

Sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan di Turki


Yang membuat heboh, Injil kuno itu mengungkap sebuah fakta yang mengguncang keimanan, terutama bagi umat Kristiani. Betapa tidak. Injil Barnabas itu mengajarkan ajaran yang berbeda dibanding doktrin Kristen dunia.

Ya, Injil Barnabas itu meyakini Yesus (Isa) sebagai utusan, bukan Tuhan. Menurut Huffingtonpost, Injil Barnabas pun meyakini adanya utusan (nabi) penerus risalah Isa, yang berasal keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi Muhammad SAW.

Barnabas dipercayai sebagai salah seorang murid Isa di Yerussalem. Barnabas yang bernama asli Yusuf, bersama para murid lainnya menyebarkan ajaran Isa. Barnabas adalah seorang Yahudi suku Lewi yang berasal dari Siprus. Dalam Wikipedia, Hajj Sayed berpendapat. terdapat pertikaian antara Paulus dan Barnabas dalam surat Galatia ketika keduanya menjalani misi dakwah menuju Syprus (45-49 M).

Ini yang mendukung perbedaan injil Barnabas dengan ajaran Paulus. Injil Barnabas ini berbeda dengan Kodeks Sinaiticus, karena menggunakan bahasa Aramik bukan Yunani kuno. Bahasa Aramik diyakini sebagai bahasa yang digunakan Nabi Isa atau Yesus. Berbeda dengan berbagai Injil lainnya, kitab Barnabas diyakini ditulis Barnabas selama berada di Siprus, setelah berpisah dari Paulus.

Di Siprus inilah pengikut Barnabas berkembang hingga lebih dari seribu tahun. Bila ditelusuri ada benang merah pengungkapan Injil Barnabas di Turki dengan tempat ajaran Barnabas yang berkembang di Siprus.

Ada sebuah biara di utara Siprus Turki yang disebut sebagai Biara Rasul St Barnabas, yang didirikan oleh pengikut setia sekte Barnabas. Dan di dalam biara inilah diyakini Barnabas dikuburkan hingga ia meninggal dunia. Pengikut sekte Barnabas inilah yang diyakini menulis ulang Injil Barnabas pada abad ke-5 masehi.

Sekitar 1980-an, biara ini telah dirampok oleh sekelompok orang. Mereka menggali lantai dan dinding biara selama malam hari. Tidak diketahui apa yang mereka incar. Diduga sekelompok orang itu telah mencuri sesuatu terkubur di dalam dinding.

Seorang wartawan Siprus mengklaim telah menemukan salinan Alkitab yang sangat kontroversial dari St Barnabas. Ia kemudian mencoba menyelidiki fakta itu. Tak lama kemudian, ia temukan tewas tertembak.

Sekitar 12 tahun lalu, polisi Turki dalam sebuah operasi menemukan sebuah Alkitab tua dari seorang warga siprus yang hijrah ke Turki. Ada beberapa rumor tentang kabar itu. Pihak polisi tak membenarkan dan menolak kabar itu.

Puncaknya, tiga hari lalu, sebuah Alkitab tersebut telah dipublikasikan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun disimpan pemerintah Turki. Saat ini Alkitab ini disimpan di museum negara Turki dan telah menjadi perhatian dunia termasuk dari Vatikan.

Paus Ingin Ungkap Injil Kuno

Paus Benediktus XVI telah membuat permintaan untuk mengungkap rahasia Alkitab kuno berusia 1500 tahun. Permintaan resmi itu telah disampaikan Vatikan kepada pemerintah Turki, senin (27/2).

Vatikan ingin mengungkap kontroversi Injil ini dengan ajaran dan dogma Kriten juga dibanding injil lain. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay telah mengkonfirmasi permintaan Vatikan ini.

Injil yang ditulis dengan tinta emas ini menggunakan bahasa Aramik, bahasa yang dipercayai digunakan Yesus. Alkitab berusia 1.500 tahun tersebut diduga, adalah Injil Barnabas dan bernilai lebih dari 20 juta dolar AS.

Pemerintah Turki telah menyembunyikan injil ini selama 12 tahun terkahir. Buku itu ditemukan oleh polisi Turki dalam operasi anti-penyelundupan pada tahun 2000 dan terus dijaga selama 10 tahun.

Alkitab ini jauh berbeda dengan empat injil utama Kristen, Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Hal itu dikarenakan, Alkitab ini berisi prediksi kedatangan seorang nabi setelah Isa (Yesus). Dan dianggap inilah ajaran versi asli Injil.

Selain itu, adalah versi yang lebih konsisten dengan keyakinan Islam dari Kristen. Alkitab ini menolak dogma Tritunggal dan Penyaliban. Hal ini juga menggambarkan Yesus menolak Mesias dan mengklaim penerusnya berasal dari keturuan Ismael (Arab).

Pendeta Protestan, Ihsan Oznek membantah keaslian isi Alkitab ini, Dia mengatakan bahwa St. Barnabas hidup pada abad pertama dan merupakan salah satu rasul Yesus, yang berbeda dengan versi Injil ini yang berasal dari abad kelima. Namun menurut, Profesor Teologi, Omer Faruk Harman untuk membuktikan keaslian dan umur dari Alkitab ini adalah dibuktikan dengan scan secara ilmiah. (tams/ rep/dailymail)

Jumat, 08 Juni 2012

SEJARAH - SS-Brigadeführer (Brigadir Jenderal) Wilhelm Mohnke

Wilhelm Mohnke lahir di Lübeck, Jerman, pada tanggal 15 Maret 1911. Ayahnya adalah seorang pembuat lemari. Setelah ayahnya meninggal, Mohnke pergi bekerja di pabrik gelas dan porselin, di mana akhirnya mendapat posisi terdepan dalam usahanya. Mohnke bergabung NSDAP (Partai Nazi) pada tanggal 1 September 1931, dan bergabung di SS dua bulan kemudian. Dia diangkat ke Lübeck Standarte ke-4 di mana ia menjabat sampai Januari 1932. Dia kemudian dipindahkan ke unit yang sama dengan bersama Kurt Meyer, divisi 22 SS-Standarte di Schwerin. Pada tanggal 17 Maret Sepp Dietrich memilih Mohnke untuk menjadi bagian dari Garda Markas Berlin SS baru yang direformasi bersama dengan 117 laki-laki lain. Ini adalah kehormatan besar karena kompetisi untuk unit ini sangat besar. Elit militer satuan Leibstandarte Adolf Hitler tumbuh dari satuan pengawal markas ini. Selama Kampanye Polandia Mohnke memimpin 5 divisi LAH itu. Pada tanggal 21 September dia dianugerahi salib Iron Cross kelas 2, dan hanya sebulan kemudian, pada tanggal 8 November, ia menerima salib Iron Cross kelas 1.

Mohnke juga memimpin perusahaan selama 5 Kampanye di Barat dan pada tanggal 28 Maret setelah pemimpin batalion yang terluka, ia mengambil alih batalyon 2. Tentang waktu yang sama Mohnke dituduh membunuh 80 tawanan perang Inggris dari Divisi ke-48 di Wormhoudt. Mohnke tidak dibawa di pengadilan dengan tuduhan ini dan ketika kasus itu diangkat kembali pada tahun 1988, jaksa penuntut umum di Jerman menemukan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mengajukan tuntutan. Empat tahun kemudian nama Mohnke itu lagi-lagi berhubungan dengan kejahatan perang. Kali ini divisi pertama SS Panzer Division Leibstandarte Adolf Hitler dituduh melakukan pembunuhan massal diMalmedy. Mohnke juga sedang dituduh membunuh dari 35 tahanan perang Kanada oleh anggota Hitlerjugend di Fountenay le Pensel. Namun, tuduhan ini tidak memiliki cukup bukti.


Dia memimpin batalion kedua di Kampanye Balkan di mana pada 6 April 1941 kakinya luka serius dalam serangan udara di Yugoslavia. Petugas medis memutuskan untuk mengamputasi kaki, tapi Mohnke membatalkan keputusan ini. Namun demikian, lukanya sangat serius sehingga mereka terpaksa mengamputasi kaki. Selama masa pemulihan ia diberi Salib Emas Palang Jerman pada tanggal 26 Desember 1941. Karena keseriusan cedera, Mohnke tidak kembali
ke layanan sebelum awal 1942. Mohnke datang dengan ide untuk membentuk Panzerabeitlung LSSAH. Ralf Tiemann menjadi ajudan Mohnke dan penugasan resmi pertama adalah mencari pria untuk unit ini. Tiemann bertugas menyusun daftar yang akhirnya termasuk nama cukup untuk membentuk dua unit baru. Waktu yang sama seperti Dietrich Sepp baru menikah memperkenalkan istrinya, Mohnke memperlihatkan daftar yang telah berubah menjadi daftar transfer. Dietrich cukup terganggu pada saat itu dan dia akhirnya menyerah pada tekanan Mohnke dan menandatangani surat-surat. Dengan cara ini Leibstandarte Adolf Hitler Panzerwaffe seharusnya lahir. Karena perkembangan cepat perang ini tidak terjadi. Mohnke dipindahkan ke batalyon pengganti pada tanggal 16 Maret 1942.

Ia menjabat di sana sampai Divisi 12 SS Panzer Division Hitlerjugend dibentuk. Dia kemudian memimpin resimen kedua SS-Panzergrenadier (nama mantan adalah SS-Panzergrenadier resimen 26, ini diubah pada 30 Oktober ketika nama divisi seluruh diubah menjadi Panzer Division). Resimen Panzergrenadier SS-26 bertanggung jawab atas serangan utama dalam serangan sekutu 'pada tanggal 10 Juni sampai 20. Akibatnya, Mohnke menerima Salib Ritterkreuz pada 11 Juli 1944.

Hal ini diikuti dengan memecah dari Falaise dan mundur dan Mohnke adalah salah satu dari sedikit yang memimpin perlawanan terorganisir di tepi sungai Barat Seine. Dia memimpin Unit serangannya hingga 31 Agustus ketika ia dikirim kembali ke LSSAH untuk menggantikan Theodor Wisch yangterluka. Dia menjadi pemimpin ketiga dari LSSAH tersebut.

Mohnke dipimpin LSSAH melalui Wacht am Rhein dan ia menjadi SS-Brigadeführer pada tanggal 30 Januari. SS-Brigadeführer Wilhelm Mohnke harus menyerahkan posisinya di LSSAH segera setelah itu, karena ia terluka selama serangan udara. Kali ini telinganya terluka. Setelah sembuh, Mohnke diangkat ke posisi Komandan penjaga kedutaan. Di sana ia membentuk Mohnke Kampfgruppe. Ini terdiri sembilan batalyon, termasuk sisa bagian dari Grenadier ke-33 Divisi Waffen der "Charlemagne".

Meskipun dengan resistensi berani, SS-Brigadeführer Mohnke ditangkap oleh Tentara Merah saat dia memimpin dengan selamat untuk keluar dari bunker. Dia dipenjarakan hanya sampai 1949 ketika ia dipindahkan ke penjara Woikowo. Ia ditahan di penjara sampai 10 Oktober 1955. Setelah dibebaskan ia bekerja sebagai salesman dari truk kecil dan trailer.

Penghargaan:
Iron Cross kelas 2: September 21, 1939
Iron Cross Kelas 1: November 8, 1939
Wound Badge (Hitam): 10 Februari 1940
Infantry Assault Badge: Oktober 3, 1940
War Merit Cross with Swords: 3 Okt 1940
Wound Badge (Silver): September 15, 1941
German Cross Gold: 26 Desember 1941
Knight Cross: 11 Juli 1944

Jabatan sejak: 28 Juni 1933
SS-Sturmhauptführer: 1 Okt 1933
SS-Sturmbannführer: September 1, 1940
SS-Obersturmbannführer: 21 Juni 1943
SS-Standartenführer: 21 Juni 1944
SS-Oberführer: November 4, 1944
SS-Brigadeführer: 30 Januari 1945

Terluka: 5 April, 1941; 17 Juli 1944
(tams)

Jumat, 01 Juni 2012

SEJARAH - Divisi ke-13 Relawan Gunung Waffen SS Nazi Muslim Handschar (Divisi Pertama Kroasia)






  • 27th SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger Regiment (January 1944)
  • 28th SS-Freiwilligen-Gebirgsjäger Regiment



Jakarta, LP - Sejarah singkat lambang divisi ke-13 relawan gunung SS Muslim Handschar (13th Waffen Mountain Division of the SS Handschar (1st Croatian) berasal dari pedang Turki. Nama sebelumnya adalah BH - Bosnia Herzegovina.


Divisi ini dibentuk pada tanggal 1 Maret 1943. Staf awal datang dari SS ke-7 Divisi Prinz Eugen. Muslim Bosnia direkrut, pada awalnya mereka mengambil relawan, kemudian pria dimobilisasi. Sekitar 20.000 Bosnia dan beberapa ratus relawan Muslim Albania dikumpulkan ke dalam kamp pelatihan. Muslim yang memusuhi orang Kristen Serbia, dan itu sangat mudah untuk SS untuk menggunakannya dalam memerangi partisan Tito, yang kebanyakan Serbia. Dari Juli 1943 sampai Februari 1944 divisi ini adalah pelatihan di Perancis, di mana umat Islam mencoba untuk mengatur sebuah pemberontakan kecil melawan Jerman.

Pada musim semi tahun 1944 anti-partisan operasi dimulai di markas Brcko, dimana divisi ini berdiri dengan kekejaman yang luar biasa. Banyak pria dari divisi kepada Tentara Merah dan unit, yang telah kehilangan kepercayaan nya, dibawa kembali ke Jerman pada bulan Oktober 1944. Ada divisi itu direformasi dengan staf Volksdeutches baru ke SS RegimentGruppe 13 Divisi Gunung Handschar dan ke Kampfgruppe Hanke. Unit-unit dikirim ke pertempuran di Hungaria, di mana mereka bertempur di Selatan Budapest, di Drava dan dekat Danau Balaton. Pada 24 Maret 1945 3.770 pria dalam pertempuran dengan 10 meriam. Sisa anggota divisi menyerah kepada unit Inggris pada tanggal 12 Mei 1945 di Austria.
(Baca Juga: TENTARA MUSLIM NAZI)






Divisi Pemimpin:

SS-Oberführer Herbert von Obwurzer

SS-Brigadeführer Karl Gustav Sauberzweig
SS-Brigadeführer Desiderius Hampel





Lambang
:

Sebuah unit gunung simbol pada Handschar, lengan dan simbol malaikat di patch kerah.


5 orang dari divisi ini menerima Salib Besi Ritterkreuz . (tams/eestileegion)