Minggu, 25 Januari 2015

SEJARAH - Relawan Asing Nazi Dari Legiun Arab 'Freies Arabien'


Lambang Divisi Korps Afrika Jerman
Jakarta, LP - Sama di cerita sebelumnya yang menceritakan tentang tentara Nazi Jerman Reich yang tak selamanya berwajah Eropa. Setelah sebelumnya bercerita tentang Legiun Turki, India, kini kita bergeser sedikit ke Jazirah Arab. 

Sebuah legiun yang tergabung dalam tubuh Heer Wehrmacht (Angkatan Darat Jerman Reich), Legiun Arab Free Arabian Legion (جيش بلاد العرب الحرة), adalah unit militer Jerman Nazi terbentuk dari relawan Arab dari Timur Tengah dan Afrika Utara selama Perang Dunia II.

Divisi ini diciptakan oleh Amin al-Husseini dan Rashid Ali ketika mereka menyarankan pembentukan pasukan sukarelawan Arab, yang diadopsi oleh Adolf Hitler pada tahun 1941. Unit didasarkan pada kekuatan yang lebih kecil, diperintahkan oleh Hellmuth Felmy, terutama untuk membantu pemberontakan terhadap Nazi di Irak yang ditekan oleh Inggris. Unit pertama kali menetap di Suriah dan termasuk beberapa ekspatriat Irak, dan Suriah Arab. Setelah penaklukan Suriah oleh pasukan Inggris dan Free-Perancis (LFP), unit dipindahkan ke Sounion di Yunani. Beberapa dari divisi ini adalah pasukan Arab dan Muslim yang berada di tanah Eropa pada saat itu, sebagai tawanan perang, atau sebagai relawan.

Nazi berencana menggunakan legiun dalam menaklukkan Kaukasus, yang sat itu dikuasai pemerintah Irak di sana, dan digunakan sebagai kekuatan baru, sebagai cara untuk menaklukkan Irak, walaupun tidak semuanya dilakukan.

 
Grand Mufti Yerusalem, Amin al-Husseini, Imam Besar Palestina (axishistory)

Dalam Operasi Torch, Sekutu Inggris mengambil Tunisia, yang telah diatur oleh Vichy France. Selama pertempuran perintah Jerman menyerukan Tunisia Arab untuk bergabung dengan legiun ini.

Setelah kematian komandannya, Legiun dibawa keluar dari depan, dan pada November 1943 Legiun Arab yang pernah bertugas di Peloponnese, sebagai bagian dari Divisi Infanteri ke-41 dan berpartisipasi dalam penyerangan ke Yunani.

Lambang Legiun Arab Freies Arabien.

Legiun Arab juga terkenal dengan nama divisi Sonderverband 287 diaktifkan pada tahun 1941, bermarkas di Yunani di dekat ibukota Athena, dan bertugas untuk mengorganisasi para sukarelawan Arab pro-Axis yang berasal dari Timur Tengah, kebanyakan adalah keturunan Palestina yang setia dengan Mufti Jerusalem yang bersimpati dengan Hitler, Amin al-Husseini. Selain itu, ada juga warga Irak yang mendukung El-Galiani (apakah suatu ‘kebetulan’ bila kini kedua negara tersebut diperangi oleh Israel dan Amerika?). Unit sukarelawan ini mencapai jumlah tiga batalion. Satu batalion dikirim ke front Tunisia, sementara dua lainnya bertempur melawan para partisan, pertama di pegunungan Kaukasus dan kemudian di Yugoslavia.


“North-African Legion” (Legiun Afrika Utara) yang tergabung dalam Deutsche Afrika Korps dibentuk dari para umat muslim yang tinggal di Prancis dan digunakan untuk operasi anti-partisan (gerilya).

"Deutsche-Arabische Infanterie-Bataillon 845" (Batalion Infanteri Jerman-Arab 845) dibentuk sebagai bagian dari Divisi Infanteri Jerman ke-715 dan bermarkas di Selatan Prancis.

Dari semua itu, unit sukarelawan Arab terbesar dibentuk di Tunisia, dan dikenal dengan nama “Deutsche-Arabische Lehr Abteilung" (Batalion Latih Jerman-Arab) dengan kekuatan lima batalion (satu batalion diambil dari Sonderverband 287. sudah baca yang di atas?) di bawah 5.panzer-armeè Jerman. Para personilnya diambil dari unit Phalange Africaine dan rekrutan lokal, dan digunakan sebagian besar untuk kepentingan pengamanan front-front pinggiran dan juga untuk menjaga instalasi-instalasi penting.


Album Foto Freies Arabien:
Legiun Arab Nazi. (axishistory)
 
Legiun Arab Tunisia dalam Das Afrika Korps. (axishistory)

Tentara kulit hitam Afrika dalam tubuh Das Afrika Korps. (axishistory)
Relawan Legiun Arab. (axishistory)
Seorang tentara Legiun Arab, tertera di badge lengan lambang Freies Arabien. (axishistory)
Rekruitmen tentara Freies Arabien. (axishistory)
Contoh tunic atau seragam Legiun Arab Nazi. (leka)
Upacara militer Legiun Arab Tunisia. (axishistory)
Grand Mufti Yerusalem, Amin al-Husseini dalam percakapan dengan relawan Islam dari seluruh tentara Muslim Nazi. Pada kesempatan Idul Adha, hari besar umat Muslim di Berlin menjadi perayaan tiap-tiap Muslim di Jerman di mana Grand Mufti Yerusalem, meresmikan "Islam Central Institute". Grand Mufti dalam percakapan dengan relawan Islam yang juga menghadiri upacara tersebut, pada 19 Desember 1942. (bundesarchiv)
Seorang tentara Legiun Arab dengan sentanya Kr98K yang merupakan senjata khas Jerman sedang berjaga di Yunani. (bundesarchiv)

Latihan militer tentara multi-negara (diantaranya banyak divisi Legiun Arab), yang dilatih Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) untuk Legiun Arab itu sendiri (Sonderverband 287) atau 'Jerman-Arab Yonif 845'(Deutsch-Arabische Infanterie-Bataillon 845) pada tahun 1943. Foto diambil oleh Propagandakompanien der Wehrmacht - Heer und Luftwaffe Kriegsberichter (Fotografer bagian propaganda AD dan AU Jerman Reich), Helmuth Pirath. (bundesarchiv)
Beberapa perwira AU Jerman dalam latihan untuk Legiun Arab (Sonderverband 287) atau 'Jerman-Arab Yonif 845'(Deutsch-Arabische Infanterie-Bataillon 845) pada tahun 1943. Foto diambil oleh Propagandakompanien der Wehrmacht - Heer und Luftwaffe Kriegsberichter (Fotografer bagian propaganda AD dan AU Jerman Reich), Helmuth Pirath. (bundesarchiv)
Para Legiun Arab, jalan berbaris dalam latihan militer tentara multi-negara (diantaranya banyak divisi Legiun Arab), yang dilatih Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) untuk Legiun Arab itu sendiri (Sonderverband 287) atau 'Jerman-Arab Yonif 845'(Deutsch-Arabische Infanterie-Bataillon 845) pada tahun 1943. Foto diambil oleh Propagandakompanien der Wehrmacht - Heer und Luftwaffe Kriegsberichter (Fotografer bagian propaganda AD dan AU Jerman Reich), Helmuth Pirath. (bundesarchiv)
Seorang tentara kulit hitam Afrika, dalam Legiun Arab Divisi Deutsche Afrika Korps duduk di atas bangku sebuah dokar yang ditarik keledai sambil tertawa di sekitar Griechenland (Yunani), pada 23 September 1943. Foto diambil oleh Propagandakompanien der Wehrmacht - Heer und Luftwaffe Kriegsberichter (Fotografer bagian propaganda AD dan AU Jerman Reich), Schlickum. (bundesarchiv)
Seorang tentara memberikan Stielhandgranaten (granat stik) di sekitar terowongan kereta api di Griechenland (Yunani) pada 23 September 1943. Foto diambil oleh Propagandakompanien der Wehrmacht - Heer und Luftwaffe Kriegsberichter (Fotografer bagian propaganda AD dan AU Jerman Reich), Schlickum. (bundesarchiv)








(tams/axishistory/alifrafikkhan)


Jumat, 23 Januari 2015

SEJARAH - Legiun Relawan Asing Nazi Dari India (Freies Indien)


Buku Yang Menceritakan Legiun India
Jakarta, LP - Mungkin banyak diantara kita masih bertanya-tanya dan bahkan tidak percaya, bahwa ada divisi orang-orang India dalam tubuh Nazi Jerman. Inilah bukti multi-rasialisme dalam tubuh Jerman Reich, salah satunya divisi Freies Indien atau bisa disebut Legiun India.

Legiun India memiliki unit sendiri, The Infanterie-Regiment 950 (Indische), atau Legion Freies Indien, dibentuk pada 26 Agustus 1942 dari relawan India berperang untuk Inggris dalam divisi British 3rd (Indian) Motorised Brigade,unit lainnya akhirnya ditangkap di Afrika Utara. Hal ini juga harus dicatat bahwa tidak semua relawan, kebanyakan dari mereka merupakan tawanan perang Jerman. Orang-orang India ini direkrut dengan bantuan Subhas Chandra Bose, mantan presiden Kongres Nasional India, yang melarikan diri dari India oleh pengawasan Inggris.

Divisi ini memiliki cerita panjang, pada April 1943, dipindahkan ke Beverloo, Belgia, yang melekat pada 16. Luftwaffen-Feld-Division (Angkatan Udara Jerman). Sejumlah besar orang-orang dari unit ke-3, batalyon 1, menolak untuk mengikuti perintah dan pergi ke Belanda. Hingga akhirnya 47 dari mereka menjalani dakwaan di pengadilan militer dan dikirim kembali ke POW-kamp (kamp tawanan militer).
Pada Agustus 1943 divisi ini dikirim ke Bordeaux, Perancis, dan bergabung pada 344. Infanterie-Division (Divisi Infanteri Jerman). Ketika divisi yang dikirim ke Prancis utara, Legiun India tetap dan bergabung pada pada 159. Infanterie-Division.


Lambang Badge Divisi Legiun India. (axishistory)
Pada 21 Januari 1943, divisi yang disponsori Azad Hind Fauj (Tentara Nasional India), seorang "tentara" yang akan tumbuh untuk memasukkan 3 divisi dengan total 33.000 orang. Bose telah meninggalkan Jerman pada Februari 1943 di U-180 dari Kiel dan bertemu dengan kapal selam Jepang I-29 dekat Madagaskar, mencapai Jepang menduduki Sumatera pada tanggal 6 Mei. Dia kemudian melakukan perjalanan ke Tokyo yang ia terlibat dengan rencana Jepang. Dia terluka dalam kecelakaan pesawat setelah lepas landas dari Taipei, Formosa (sekarang Taiwan), 18 Agustus 1945.

Unit ke-9, satu yang paling dapat diandalkan, dikirim ke Italia pada musim semi tahun 1944 di mana mereka melawan
British 5th Corps (Inggris) dan  the Polish 2nd Corps (Polandia) sebelum ditarik dari depan yang akan digunakan dalam operasi anti-partisan. Divisi ini menyerah kepada pasukan Sekutu pada bulan April 1945, di Italia.

Setelah pendaratan Sekutu di Normandia kegiatan partisan, Angkatan Françaises de l'Intérieur (FFI), mulai meningkat dan sekutu mampu memukul mundur Legiun India, legiun ini juga kehilangan orang-orang baik melalui pertempuran dan desersi.
Divisi ini akhirnya dipindahkan ke unit Waffen-SS (Unit elit tempur Nazi) pada bulan Agustus 1944 dan telah ditransfer berganti nama dengan Divisi Indische Freiwilligen Legion der Waffen-SS (Divisi Relawan India Waffen-SS) dengan lambang harimau India di patch kerah mereka.

Lambang Patch divisi pada kerah seragam.
Tak hanya Jerman, sekutu Nazi yaitu Italia juga merekrut India untuk pasukan mereka, mereka bertugas di Battaglione Azad Hindostan dari Raggruppamento Centri Militari.

Daerah operasi:

Jerman (Agustus 1942 - Apr 1943)
Belanda (Apr 1943 - Sep 1943)
Perancis (Sep 1943 - Agustus 1944)

Unit Tempur:
I. Bataillon
II. Bataillon
III. Bataillon
13. Infanteriegeschütz

Kompanie
14. Panzerjäger Kompanie
15. Pionier Kompanie
Sonderkompanie
 

Album Foto Legiun India :
Seorang perwira India menggunakan seragam Wehrmacht Jerman (youtube)
 
Legiun India dengan seragam tropis di front Afrika. (askold)

 
Foto dari PK-Aufnahme Kreigsberichter (fotografer perang Jerman) Werner, menceritakan seorang shikh dalam pertempuran di Eropa. (Bundesarchiv)

 
Prajurit Legiun India (Freies Indien) dalam upacara di Berlin pada November 1943. (Bundesarchiv)

 
Erwin Rommel sebagai jenderal tertinggi Oberkommando Der Wehrmacht (Panglima tertinggi AD Jerman sedang menginspeksi pasukan Legiun India. (Bundesrachiv)

 
Seorang anggota Legiun India (lihat lambang badge lengan kanan). (axishistory)

 
Tentara Legiun India dengan menggunakan senapan MG-34 berperang di garis Atlantik di Bordeuax, Perancis. Fotografer oleh PK-Aufnahme Kreigsberichter (fotografer perang Jerman) Wette. (Bundesarchiv)

 
Prajurit Legiun India, perhatikan lencana lengan dengan warna bendera India dan lambang harimau dan teks "Freies Indien". (axishistory)

 
Seorang sikh yang ditransfer ke elit tempur Nazi, Divisi Indische Freiwilligen Legion der Waffen-SS (Divisi Relawan India Waffen-SS). Perhatikan kerahnya yang berlambang harimau India. (axishistory)



(tams/axishistory) 

SEJARAH - Foto Ekspresi Relawan Asia (Osttruppen) Dalam Tubuh Nazi Jerman

Jakarta, LP - Banyak yang menyangka seluruh tentara Nazi Jerman pasti memeliki mata biru, blonde, hidung mancung dan yang pasti berwajah ke-Eropaan (arya). Tapi inilah wajah tentara Jerman Reich yang orang bilang rasis, tetapi faktanya multi-rasialisme:
Wajah Asia Timur yang menggunakan seragam Heer Wehrmacht Jerman. (WWIIArchives)
Wajah-wajah Asia timur yang menggunakan seragam Wehrmacht Jerman, jika kita lihat foto ini ada kemungkinan ini terjadi di Normandia saat mereka tertangkap oleh sekutu. (axishistory)
Pria di sebelah kiri merupakan relawan (freiwilligen) dalam tubuh Heer Wehrmacht Jerman. Bersama teman Eropanya dia sedang diinterograsi tentara sekutu di Normandia. (corbis)
Dilihat dari wajah dan seragam, kemungkinan ini relawan dari Turki dan sekitaran Kaukasus 'Osttruppen'. (axishistory)
Wajah-wajah Tibet menjadi bagian PD II dalam tubuh Nazi Jerman (axishistory)
Wajah Asia Timur yang menggunakan seragam Heer Wehrmacht Jerman. (axishistory)
Relawan asing Heer Wehrmacht dari Thailand bernama Wicha Thitawat
Kenangan Wicha Thitawat diterbitkan pada tahun 1948, diterbitkan dengan perubahan dalam 50-an dan 70-an dan baru-baru ini ditemukan kembali oleh masyarakat umum. Khon Thay nay kong thap nasi - kisah orang Thailand di tentara Nazi - adalah buku ganda menarik: OrangThailand terjebak dalam perang Eropa dan menyinggung banyak kepastian tentang posisi negara ini selama Perang Dunia Kedua. Thailand bersekutu dengan Jepang selama perang, fakta tak diragukan, dan dipandang rendah oleh sebagian besar historiografi korektif dibuat pada periode sesudah Perang Dunia II. Fasisme Thailand berkuasa ketika perang pecah dan mengambil keuntungan dari runtuhnya tiba-tiba metropolitan Perancis. Setelah gencatan senjata 1940, harta Perancis di Indochina menjadi subyek peningkatan klaim nasionalis Bangkok. Rezim Marsekal Phibun Songkhram menuntut kembalinya wilayah yang terintegrasi dalam protektorat Perancis Laos dan Kamboja, sebelumnya milik Sion. Antara Oktober 1940 dan Mei 1941, Thailand telah mengembangkan perang perbatasan yang intens melawan tentara kolonial Perancis, namun gagal mencapai tujuannya. Mediasi konflik itu dikenakan pada kedua belah pihak Jepang, yang telah didirikan di Indocina. Vichy Perancis menerima pendudukan de facto dari Vietnam dan meminta dukungan kepada Jepang untuk menenangkan serangan Thailand.






(tams)

SEJARAH - Legiun Relawan Asing Nazi Dari Turki (Turkistanische Legion)




Lambang Badge Divisi Waffen-SS & Wehrmacht untuk divisi Turkistanische Legion (gunturk)

Jakarta, LP - Legiun Turkistan (Jerman: Turkistanische Legion) adalah nama untuk unit militer terdiri dari "freiwillige" (relawan). Bangsa Turki yang berjuang di Angkatan Darat Jerman selama Perang Dunia II. Sebagian besar pasukan ini berasal dari tawanan perang Tentara Merah Rusia, yang memilih untuk berjuang untuk Nazi dengan harapan mendirikan sebuah negara merdeka di Asia Tengah setelah perang.

Batalyon dari Legiun Turkistani merupakan bagian dari Divisi Infanteri 162 dan pernah berperang di Yugoslavia dan Italia.

Meskipun orang-orang Turki telah dianggap awalnya sebagai "ras rendah", sikap ini secara resmi sudah berubah di musim gugur 1941. Ketika Nazi berusaha untuk memanfaatkan sentimen anti-Rusia pada Bangsa Turkistan di Rusia untuk kepentingan politik. Yang pertama "Legiun Turkistan" dimobilisasi pada Mei 1942, awalnya terdiri dari hanya satu batalyon tetapi telah diperluas untuk 16 batalyon dan 16.000 tentara di tahun 1943. Di bawah perintah Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman), unit-unit ini dikerahkan secara eksklusif di bagian depan Barat, mengisolasi mereka dari Tentara Merah, di front perang Perancis dan Italia utara.

Sebagian besar Legiun Turkistan akhirnya dipenjarakan oleh pasukan Inggris dan dipulangkan ke Rusia, di mana mereka akan menghadapi kamp Gulag atau hukuman penjara dari pemerintah Soviet karena telah berperang bersama pasukan Axis.

Baymirza Hayit, orang terkemuka Turki yang pernah bergabung di Ober Kommando Der wehrmacht Jerman. (aksiyon)


Anggota terkemuka dari legiun termasuk Baymirza Hayit, yang setelah perang, menetap di Jerman Barat dan menjadi sejarawan sejarah Asia Tengah dan Turkistan


ALBUM DIVISI TURKISTANISCHE LEGION

Relawan Turkistani menerima instruksi dari perwira Jerman (Perancis, 1944). (Bundesarchiv)

Inspeksi tentara Legiun Turkistan oleh seorang perwira Jerman berpangkat Hauptmann (Kapten). (Bundesarchiv)





Relawan Legiun Turkistan di Perancis:

Relawan Turkistan bermain kartu dengan perwira Jerman:

Seorang relawan Turkistan di front timur Rusia dalam operasi anti-partisan:


Relawan Turkistan bermain catur dengan perwira Jerman:
(tams/ berbagai sumber)

Sabtu, 21 Juni 2014

SEJARAH - Kisah 'Mistis' Dan Runut Sejarah di Makam Nazi Bogor

Jakarta, LP - Sejarah memang membuat kita selalu penasaran, apalagi sejarah yang sifatnya 'anti-mainstream' atau penuh kontroversi. Salah satunya sejarah tentang Nazi Jerman yang mana (dunia) menganggap pemerintahan yang terkenal dengan pemimpinnya Adolf Hitler, yang dianggap oleh dunia sebagai pemimpin yang kejam. Tetapi, secara fakta historis Nazi Jerman tidak sekejam seperti pemikiran barat pada umumnya.

Kali ini saya tidak membahas keseluruhan fakta sejarah Nazi di dunia, ada fakta unik menarik yang mungkin oleh sebagian orang tidak terpikirkan sampai situ. Di kesempatan ini saya ingin mencari fakta pergerakan Nazi di Indonesia, pasti sebagian kalian akan bertanya apa kehadirannya disini. Dimulai dengan perjalanan saya pada situs peninggalan Nazi Jerman di Bogor. Sebelumnya saya mengetahui kabar keberadaannya dari beberapa rekan yang tergabung dalam forum yang berisi penggiat sejarah Nazi Jerman (reenactor), selain itu beberapa tulisan artikel atau berita media nasional yang mengabarkan keberadaan situs peninggalan sejarah Nazi Jerman di Indonesia, salah satunya berada di Bogor, Jawa Barat.
Ki-ka: Miftha, Kohang dan dan yang memegang Eisernes Kreuz II Klasse adalah saya sendiri Hauptsturmführer Tama. (pribadi)
Kohang menjadi rider, saya menjadi navigator (pribadi)
 

Kala itu Jum'at (06/06), bersamaan dengan momentum serangan pendaratan sekutu di Normandia terhadap Nazi, yang sering disebut 'Peristiwa D-Day', tanggal 06 Juni 1944. Saya bersama rekan-rekan lain yang ingin mengetahui sejarah Nazi Jerman di Indonesia, menyambangi sebuah situs bersejarah makam tentara Jerman (Deutscher Soldatenfriedhof) di Bogor. Saya bersama Rifki "Kohang"Rismadhan, ketua komunitas motor 'Denouvoers' (pecinta Yamaha Nouvo Depok), yang kebetulan hobi melakukan turing. Ada juga beberapa rekan pecinta mistis yang kebetulan juga menyukai tempat-tempat bersejarah, seperti Taufan Casidy dari Forum Supranatural Kaskus (Forsup Kaskus), dan salah satu diantaranya mantan peserta uji nyali pada stasiun TV swasta nasional yang juga menjabat sebagai ketua Ekspedisi Mistis (Xmist), Miftha Giyanti Putri, dan beberapa rekan lain. Kehadiran saya dan rekan-rekan lain bukan untuk melakukan uji nyali, tetapi hanya sebatas mengulik sejarah tentang beberapa perwira dan beberapa kru Kriegsmarine (Angkatan Laut) Nazi Jerman yang dimakamkan di Bogor.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, saya bersama tim lain berangkat dari Jakarta selepas sholat Jum'at menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang terbilang lancar, dan tiba di perempatan Gerbang Tol Ciawi, kita beristirahat di sebuah minimarket di sekitar Gadog, Bogor.
Papan penunjuk makam dekat minimarket Gadog, Bogor, Jawa Barat (pribadi)
 

Tak jauh dari minimarket, di sampingnya ada jalan masuk dengan sebuah papan penunjuk yang bertuliskan 'Situs Makam Jerman 4km', gundah hati terobati dengan membaca papan tersebut yang ditambah dengan tanda panah di papan tersebut. Kami melanjutkan perjalanan dengan mengikuti arah panah yang sesuai dengan petunjuk di papan tersebut. Beberapa kali saya bertanya pada warga tentang lokasi makam Nazi Jerman tersebut, karena ternyata jarak yang kami tempuh melebihi papan yang dimaksud dan jaraknya lebih dari 4 km (sekitar 7 km). Dengan jalan yang menanjak dan berliku, saya bersama tim sampai di makam tersebut. Makam yang berlokasi di daerah Arca, Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Sekitar 20 menit kami melaju dari papan petunjuk sebelumnya. Sangat wajar jika hanya sebagian orang yang tahu keberadaan situs bersejarah tersebut, karena daerahnya yang cukup tinggi dan dikelilingi pepohonan yang tinggi, bisa dibilang lokasinya terpencil. Selain itu jalur ke pemakaman ini juga adalah akses jalur masuk menuju Gunung Pangrango.

Suasana Perkampungan Sukaresmi, Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Akses jalan menuju komplek makam. (pribadi)
 
Senang rasanya, karena berhasil menemukan makam, saya pun bersama tim langsung masuk. Hal pertama yang dilihat adalah sebuah tugu bertuliskan ‘Deutscher Soldatenfriedhof, Tugu Peringatan Untuk Menghormati Prajurit Jerman yang Telah Gugur’. Di depannya, berjejer rapi makam dengan nisan salib (Ritterkreuz) sebanyak 10 nisan.

Sesampai area pemakaman, saya sempatkan berpose dan menghampiri batu nisan satu persatu. Lain hal dengan Miftha dan Taufan yang menurut mereka, mereka sedang berinteraksi dengan mahluk asthral di sekitar makam. Saya lanjutkan memperhatikan tiap nisan, dua buah nisan di bagian depan hanya bertuliskan 'Unbekannt' yang berarti tidak diketahui. Di belakang dua makam tersebut ada delapan, jajaran batu nisan yang terbagi dua dengan dibatasi jalan selebar satu meter. Di sebelah kiri (jika kita menghadap tugu peringatan), ada tiga batu nisan, di sebelah kanan ada lima batu nisan. Sayang sekali tidak ada petunjuk lengkap tentang 10 jasad yang terkubur dalam makam tersebut.
Tugu peringatan dari Kedubes Jerman.
 

Rasa penasaran semakin bertambah, saya dan tim mencoba mencari juru kunci makam tersebut. Namun kami tidak beruntung, karena orang yang saya maksud tidak berada di rumahnya. Bagi saya tak masalah, karena menurut beberapa informasi, juru kunci yang biasa dipanggil 'Bu Nyai' ini juga tak mengetahui asal-usul 10 orang perwira Nazi Jerman tersebut.

Penelusuran jejak sejarah tak hanya sampai sebatas nama-nama yang tercantum di batu nisan tersebut. Beberapa data artikel, konsultasi dengan beberapa rekan 'Indonesische Das Reich' atau penggiat sejarah (Reenactor) dan entusiasme militer Nazi Jerman, beberapa data Bundesarchiv (kearsipan Jerman) & Volksbund (semacam data sejarah Jerman), dan beberapa forum asing yang membantu saya memperoleh informasi tentang 10 perwira yang gugur tersebut.

Hal Menarik di Makam Nazi Jerman


Masuk ke ujung makam, ada tugu peringatan yang bertuliskan 'Deutsch-Ostasiatische Kreuzergeschwader 1914', tugu ini diperingati juga untuk mengenang para 'Deutsch-Ostasiatische Kreuzergeschwader' (Skuadron Penjelajah Asia Timur Jerman), skuadron ini dipimpin oleh Vizeadmiral Maximilian Reichsgraf von Spee yang hancur dalam Pertempuran di Kepulauan Falkland/ Malvinas pada tanggal 8 Desember 1914. Di papan nama bagian bawah tertuliskan 'ERRICHTET VON EMIL UND THEODOR HELFFERICH 1926'. Dalam catatan Alif Rafik Khan (penggiat sejarah Nazi Jerman) menuliskan, tanah tempat dibangunnya makam tentara Jerman ini mulanya adalah milik dua orang Jerman bersaudara, yaitu Emil dan Theodor Hellferich. Mereka membeli tanah seluas 900 hektar di situ dan kemudian dan membangun pabrik dengan keuntungan dari perkebunan teh. Pabrik teh yang dibangun di sini dilengkapi dengan kabel pengangkut untuk membawa daun teh dari perkebunan ke pabrik.
 

Kakak tertua dari dua bersaudara ini adalah Karl Helfferich, yaitu mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman-Austria. Karena itulah kedua orang saudaranya kemudian membangun sebuah monumen untuk memperingati Deutsch-Östasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) yang dipimpin oleh Admiral Graf Spee yang ditenggelamkan oleh tentara Britania. Di monumen tersebut ditulis kata-kata dalam bahasa Jerman yang berbunyi: "Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich."
Denah Makam. (alifrafikkhan)
 

Menengok sebelah kanan tugu peringatan terpajang sebuah Patung Budha, dan sebelah kiri ada patung Ganesha dan Kala. Banyak orang bertanya-tanya dan berpikiran bahwa tentara Nazi yang ada di makam ini beragama Budha. Hal ini tidak ada kaitannya dengan kedua patung tersebut, konon patung ini dibeli oleh dua bersaudara Helfferich dari pengrajin pinggir jalan setelah mengunjungi Candi Prambanan serta Borobudur di Yogyakarta dan terpesona olehnya.
Ornamen Patung Budha . (Pribadi)
 

Penelusuran Sejarah dan Aroma Mistis

Hawa yang lembab tetapi sejuk serta kontur wilayah yang dingin, dan lokasi yang jauh dari pemukiman warga membuat tempat ini jarang diketahui atau dikunjungi orang banyak.
U-195 Flotille

Kru U-195. (df)
Menurut keterangan seorang warga sekaligus merupakan teman kuliah saya yang bernama Puji 'Gawil', mengatakan bahwa tiap tahun minggu kedua bulan November, yang merupakan Hari Peringatan (Commemoration Day) di Jerman, banyak orang Jerman dari 'Botschaft der Bundesrepublik Deutschland' (Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia) dan beberapa keturunan Jerman disini yang mempunyai kebiasaan untuk berziarah ke Cikopo dan mengadakan upacara untuk mengenang korban perang. "Tiap bulan November selalu ada kunjungan dari Kedubes Jerman," kata Gawil yang merupakan warga Megamendung.


Miftha dan nisan milik Leutnant zur See. W. Martens. (pribadi)

 
















Setelah saya memperhatikan tugu peringatan dan beberapa patung yang ada disitu, saya beserta rekan-rekan lain mulai menelisik nisan yang ada satu per satu. Langkah saya dan Miftha, terhenti di nisan yang bertuliskan 'Leutnant z.s W. Martens, (*) - , Oktober 1945' yang berarti yang bersangkutan lahir tidak diketahui dan meninggal pada Oktober 1945 (tanggal tidak diketahui). Ada yang menarik disini, tiba-tiba Miftha mendekati nisan dan memperhatikannya. Saya masih memperhatikan Miftha yang sehari-harinya adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan dan sekaligus ketua ekspedisi mistis, wanita yang memiliki pengalaman supranatural dan pernah menjadi peserta acara uji nyali di salah satu TV swasta nasional mencoba 'berdiam diri' di makam milik Martens. Tiba-tiba, Miftha berkata bahwa nisan tersebut berbau anyir seperti ada yang gosong, "Saya melihat sosok tinggi hitam, serba hitam hingga ke kulitnya. Kasihan badannya gosong," kata Miftha seorang mahasiswi angkatan 2010 ini. Saya tersenyum kecil mendengar ucapannya, seketika badan saya merinding. Namun saya mencoba mengulik sejarahnya secara data sejarah yang ada, yang Miftha-pun juga belum tahu. Saya mencoba melihat artikel dari biografi singkatnya di Volksbund, axis history, Uboatwaffe, Bundesarchiv dan beberapa referensi dari teman-teman pecinta sejarah, namun hasilnya tak sesuai seperti yang diinginkan. Ada data dari forum militer yang menyebutkan bahwa Leutnant zur See. W. Martens yang mempunyai nama lengkap Wolf-Dieter Martens meninggal karena kecelakaan kereta api yang terbakar di antara Batavia (Jakarta) menuju Buitenzorg (Bogor). Martens yang pernah bertugas di U-465, U-421 dan U-596 (dengan tak ada keterangan lahir/meninggalnya), tapi tak satu pun kapal selam yang diawakinya tercatat pernah berlayar ke Indonesia. Kemungkinan, dia bukanlah awak U-boat dan "hanya" perwira atau staff Kriegsmarine biasa.
Sebelah kanan nisan milik ObGefr (Obergefreiter) Willi Petschow. (pribadi)
Lanjut ke makam selanjutnya milik ObGefr (Obergefreiter) Willi Petschow. Lahir di Hamburg tanggal 31 Desember 1912 dan meninggal setelah menderita penyakit di Perkebunan Cikopo/Bogor tanggal 28 September 1945. Pangkat lengkapnya adalah Matrosen-Obergefreiter/ Bootsmann.


Nisan Oberleutnant zur See Willi Schlummer. (pribadi)
Di barisan ke lima, nisan paling ujung ada Oberleutnant zur See Willi Schlummer. Terbunuh oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia di rumah orang-orang Jerman di Bogor tanggal 12 Oktober 1945 bersama dengan Wilhelm Jens, karena mereka diduga merupakan tentara Belanda oleh Indonesia. Di nisan ini, Taufan salah satu anggota Forsup Kaskus berdiri sejenak. Menurut Taufan, Schlummer adalah orang periang dan jago memainkan gitar, Schlummer juga sangat disenangi rekan-rekan tentara lainnya karena sifatnya yang humoris, "Saya merasakan dari nisannya (Schlummer), orang ini jago main gitar, suka bawa tembang lawas. Dia juga suka menghibur teman-temannya," kata Taufan.
Data Oberleutnant zur See Willi Schlummer. (Dokomentenforum)

Dari pengakuan Taufan, saya mencoba menelisik secara data sejarah dari yang bersangkutan (Schlummer). Tanggal lahirnya tidak diketahui dan Volksbund pun tidak memuat data kehidupan Schlummer yang seperti itu. Di lain waktu penelusuran di sebuah forum dokumenter Jerman, saya mendapatkan foto Schlummer.

Schiffszimmermann Eduard Onnen. (pribadi)
Secepat kilat, tiba-tiba Miftha duduk lama di sebuah nisan milik Schiffszimmermann Eduard Onnen, sontak Miftha berbicara pelan-pelan dan bertanya pada saya,"Ini siapa? Saya tertarik dengan yang di nisan ini. Sosoknya ganteng," tanya Miftha kepada saya. Lalu saya jelaskan sedikit tentang Onnen, pria yang Lahir di Bremerhaven tanggal 14 Desember 1906 dan meninggal tanggal 15 April 1945 adalah seorang Schiffszimmermann artinya tukang kayu kapal, yang tenaganya sewaktu-waktu dibutuhkan untuk memperbaiki kapal, jika tiba-tiba kapal rusak atau diserang musuh. Miftha masih belum puas dengan jawaban saya, dia meminta tolong untuk mencarikan data, berikut foto Onnen. Namun, dari hasil penelusuran di forum-forum internasional pecinta Nazi Jerman, Bundesarchiv hingga ke Volksbund, tidak ada data pasti dan foto dari 'sosok pria' yang diidam-idamkan Miftha. Menurut saya wajar, mungkin saja Eduard Onnen ini hanya sebatas pembantu sipil dalam tubuh Angkatan Laut Kriegsmarine Jerman, karena dilihat dari jabatannya 'Schiffszimmermann'.

Sementara Miftha masih menikmati 'interaksi'nya dengan nisan milik Schiffszimmermann Eduard Onnen, saya melangkahkan kaki ke nisan paling kiri dari barisan lima nisan tersebut (jika kita menghadap tugu). Saya jongkok mencatat data yang tertulis di nisan milik Oblt z.S. d.R. (Oberleutnant zur See der Reserve) Friedrich Steinfeldt. Tiba-tiba Taufan yang saat itu sedang berada di nisan milik Schlummer, "Tam, kalau orang itu yang kamu hampiri (Steinfeldt), orangnya galak, suka ngomel-ngomel ke yang lain. Banyak prajurit yang disini sering kena omelannya. Oiyaa kalau tidak salah dia meninggal karena penyakit di bagian perutnya, kaya malaria gitu," celetuk Taufan yang berusaha menerkanya. Saya terdiam sejenak menyaksikan nisan Steinfeldt, lalu saya mencoba mencari artikel baik dari forum internasional pecinta sejarah Jerman (axishistory), data arsip Jerman Bundesarchiv, Volksbund, dan bahkan referensi dari kawan sesama pecinta sejarah.
Oblt z.S. d.R. (Oberleutnant zur See der Reserve) Friedrich Steinfeldt. (pribadi)
 

Analisa sejarah yang saya simpulkan dari kuburan Oblt z.S. d.R. (Oberleutnant zur See der Reserve) Friedrich Steinfeldt adalah, dia Kommandant U-195. Lahir di Bad Doberan tanggal 15 Desember 1914 dan meninggal karena disentri di sebuah rumah sakit di Jakarta tanggal 30 November 1945, hal ini berbeda dengan analisa Taufan. Catatan resminya menyebutkan dia meninggal sehari sebelumnya, 29 November 1945, dan perbedaan tanggal ini kemungkinan karena adanya perbedaan waktu antara Indonesia dan Jerman yang memiliki selisih 7 jam (Jakarta GMT+7). Awal karir Steinfeldt bergabung dengan Kriegsmarine pada tahun 1940. Setelah menyelesaikan pelatihannya, dia bertugas di 38. Minensuch-Flotille dari bulan Desember 1941 s/d Juni 1942 ketika dia memulai pelatihan kapal selamnya. Steinfeldt lalu bergabung dengan U-371 (Kapitänleutnant Waldemar Mehl) sebagai 2WO (Perwira Pengawas Kedua) dari bulan November 1942 s/d Februari 1943. Dia meneruskan tugasnya di U-195 sebagai 1WO (Perwira Pengawas Pertama) selama 6 bulan sebelum ditransfer ke Sekolah Komandan U-boat di Neustadt, Jerman pada bulan Agustus 1943. Setelah menyelesaikan pelatihannya bulan Oktober 1943, dia diserahi jabatan sebagai komandan sebuah kapal selam bekas Italia, UIT-21, tanggal 14 Oktober 1943. Kapal ini, yang rencananya akan dijadikan sebagai kapal transport, namun kenyataanya tak pernah mendapat penugasan, dan akhirnya pada tanggal 16 April 1944 Steinfeldt mengambil-alih komando kapal lamanya, U-195, di Bordeaux, Prancis. Pada tanggal 24 Agustus 1944 dia memimpin U-195 dalam pelayaran menuju Samudera Indonesia yang berlangsung selama 119 hari! Dia berhasil berlabuh di Batavia (Jakarta), dan di akhir perang dia terpaksa menyerahkan kapalnya ke tangan sekutunya Jepang di Surabaya. Dan dari 'penerawangan' yang dilakukan oleh Taufan, saya mewajarkan jika Steinfeldt memiliki pribadi yang galak, karena dia merupakan komandan dari U-195 tersebut. Terkait meninggalnya, di catatan sejarah Steinfeldt meninggal karena disentri, sedang menurut Taufan yang akrab dipanggil Topan mengatakan malaria. Kita tidak tahu kematian sebenarnya, karena catatan sejarah mengatakan demikian dan kita juga belum pernah menjadi saksi langsung pada saat itu, Wallohua'lam...

Sejenak menghela nafas, saya melanjutkan langkah kaki ke tiga makam selanjutnya yang berada di sebelah kiri (jika kita menghadap tugu peringatan).
Kptlt (Kapitänleutnant) Hermann Tangermann. (pribadi)
 
Nisan yang berada di tepi jalan menghadap tugu tertulis milik Kptlt (Kapitänleutnant) Hermann Tangermann. Catatan sejarah mengatakan, Hermann lahir di Berne tanggal 11 Oktober 1910 dan tewas dalam sebuah kecelakaan kereta api antara Batavia (Jakarta) - Buitenzorg (Bogor), dalam perjalanannya tanggal 23 Agustus 1945. Dialah orang berpangkat tertinggi yang dikuburkan di Arca Domas, dan pangkatnya setingkat kapten bila di Angkatan Darat (Wehrmacht Heer). Dan di atas batu nisan Tangermann, saya sengaja letakkan penghargaan sebuah medali Eisernes Kreuz (Ritterkreuz) II Klasse.
 
Leutnant Ing. (Ingenieur) Wilhelm-August Jens. (pribadi)
Lanjut ke makam selanjutnya milik Leutnant Ing. (Ingenieur) Wilhelm-August Jens. Lahir di Hamburg tanggal 7 November 1907 dan terbunuh oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia di rumah orang-orang Jerman di Bogor tanggal 12 Oktober 1945, kemungkinan karena para pejuang menyangkanya sebagai orang Belanda. Sebelumnya Taufan memberi tahu saya, bahwa menurut penglihatannya dia melihat sosok pria jalan terlunta-lunta sambil memegang perut yang berdarah karena luka tusukan, "Saya sih melihat kasihan, dia berdiri jalan terseok sambil megang perut. Sepertinya dia tertusuk benda tajam," terka Taufan. Bagi saya yang hanya menganalisa dari beberapa catatan sejarah hanya mewajarkan hasil penelusuran yang dilakukan Taufan.

Memang pada akhir perang, terdapat 250 orang serdadu Jerman di Indonesia yang diangkut dengan kapal selam. Sementara itu, Perang Kemerdekaan berkecamuk antara Indonesia dan Belanda. Pada waktu itu sejumlah orang di antara mereka (serdadu-serdadu Jerman) tewas : tiga perwira dibunuh oleh orang Indonesia karena dianggap tentara Belanda, lima lainnya ada yang meninggal karena sakit dan ada pula yang tertembak dalam perjalanan kereta api dari Bandung ke Jakarta. Jadi, delapan orang Jerman tewas selama periode tersebut. Sisanya menyelamatkan diri di pulau Onrust, sebelum dipulangkan kembali ke Jerman tahun 1946. Sebagian tentara Jerman yang melarikan diri ke Bogor karena menghindari kejaran tentara Belanda, kala itu tentara Jerman akan bergabung dengan beberapa pejuang TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Indonesia di Bogor. (LEBIH JELASNYA BACA DISINI: HUBUNGAN NAZI DAN INDONESIA)
Daftar tentara di Soldatenfriedhof. (Dokomentenforum)
Oblt u.LI (Oberleutnant und Leiter Ingenieur) Dr. Heinz Haake

Lanjut ke makam paling ujung di sebelah kiri, nisan milik Oblt u.LI (Oberleutnant und Leiter Ingenieur) Dr. Heinz Haake dari U-196. Haake lahir tanggal 21 Januari 1914 dan meninggal tanggal 30 November 1944. Haake berada di U-196 yang diberitakan hilang bersama 65 orang awaknya saat berpatroli di Selat Sunda, kemungkinan besar karena kecelakaan saat menyelam dan bukannya karena serangan oleh musuh. Haake adalah seorang dokter Kriegsmarine sekaligus perwira teknik dan pangkat lengkapnya adalah OLt.ing.Dr.Med.MOAssArzt.D.R, yang sangat jelas menunjukkan dia adalah seorang dokter militer dari Angkatan Laut (Kriegsmarine) Jerman. 
Dua makam Unbekannt. (pribadi)
Lanjut ke bagian depan terdapat dua makan yang tidak memiliki nama. Oleh karenanya oleh serdadu Jerman diberi tulisan di nisannya, 'Unbekannt'. Kemungkinan mereka berdua ini adalah 'Grabmal des unbekannten Soldaten' (kuburan prajurit atau tentara yang tak dikenal). Sama seperti lainnya, mereka berdua adalah anggota U-Boat Kriegsmarine. Tidak ada catatan sejarah dari dua orang ini, mungkin saja mereka tewas karena kecelakaan kereta api yang terbakar dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Dan mungkin, dua orang ini badannya hancur lebur atau hangus karena kecelakaan tersebut, Wallohua'lam.
ki-ka: Taufan dan Miftha. (pribadi)
 

Sekira jam 17.00 saya bersama rekan lain bersiap pulang dari tempat yang rimbun dan sejuk ini. Taufan dan Miftha juga merasa menjadi pengalaman dan menambah wawasan baru tentang sejarah masa lalu. Dan hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia juga memiliki hubungan sejarah dengan Nazi Jerman.

Galeri Foto: 





 (tams)

Sumber:
- alifrafikkhan
- axishistory.com
- Bundesarchiv
- Volksbund
- Dokumentenforum.de
- Grup Enthusiasme Militer Jerman-reich Indonesia (EMJI)