Senin, 06 Juni 2011

Pojok Sajak >> Mati Kuyup Di antara Dongeng Cabul Yang Cebol

Keramaian itu beranak pinak, bukan di depan mata; tapi terselip di balik ketiak. Akupun terhimpit di antara lalu lalang semut di ruang sempit.

Matahari tak pandang bulu, menyoroti langkah mahluk penyendawa di antara rasanya yg ingin tahu. Sesekali Tuhan mengedip padaku, di antara langkahku yang terbentar pada mighrab sajadah lusuh & kaku. Lantas mana komat-kamit doa yang terpanjat?

Ooo, aku lupa belum cebok, belum sikat gigi, belum cuci muka & raga. Lantas kemana air tobat itu; di kamar mandiku hanya tersisa satu gayung saja.

Ya, sepertinya aku butuh tukang ledeng yg berotak ulama, bukan ulama berotak tukang ledeng. Agar pastinya bukan hanya 'becek' tapi berilmu.

Pungkasan, oh pungkasan. Dimana awal cerita ini, aku ingin segera mengakhiri di antara lirikan mata yang mematai.

Lekaslah purnatugaskan wahai tukang ledeng. Ingin aku cebokkan dan basuhkan, agar aku bisa menikmati candu tiap tetesnya.

Basahi lalu sujudkan dan di antara hikayat paripurna hidup aku berhenti menekan 'QWERTY' di antara dongeng cabul yang pernah kudengar dalam hati.

(tams)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar