Rabu, 21 September 2011

FEATURE: Perjalanan Mudik - Sambung Menyambung Menjadi Satu


Mudik merupakan tradisi wajib hampir bagi seluruh perantau yang memiliki kampung halaman. Mudik diambil dari kata “Udik” yang berarti kampung, atau orang Jawa biasa menyebut mudik sebagai mulih ning udik yang berarti pulang ke kampung halaman. Tradisi mudik dilakukan orang saat hari – hari besar, khususnya Lebaran atau Idul Fitri. Tidak semua orang yang memiliki kampung halaman menjalankan tradisi tersebut, banyak di antara mereka harus mengubur impiannya untuk pulang ke kampung halamannya karena suat tugas atau kewajiban yang tak bisa ditinggalkan.

Sama halnya dengan saya yang merelakan Lebaran terutama pada saat Sholat Id yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Demi tugas kampus untuk menyelesaikan skripsi dan tugas lainnya, saya menunda kepulangan saya menjadi hari Kamis (01/09/2011), atau Lebaran hari ketiga saya. Sebuah kebingungan bagi saya yang statusnya sebagai anak kos karena sulitnya mencari tempat untuk makan, sebab wilayah kos saya yang berada di bilangan Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan sulit untuk mencari tempat makan saat Lebaran. Oleh karena itu saya memutuskan untuk pulang sehari sebelum rencana kepulangan saya pada hari Jum’at.

Kamis siang saya terbangun, setelah semalaman saya begadang dan berkumpul bersama teman – teman. Dan seperti biasa ritual bangun tidur adalah membuka jendela dan saya menyaksikan kondisi sekitar tempat kos saya yang tak seperti biasa. Tak ada derit pintu terbuka di setiap pintu kamar dan tak ada derap langkah kaki di depan kamar saya. Siang sudah menjelang sore, namun saya lupa menegosiasikan isi perut saya hingga terdengar menderit. Setelah mandi saya keluar mencari makan, dan di antara barisan bangunan yang mengatasnamakan rumah makan, hanya satu yang bertuliskan “RM Padang Sabana” yang masih mempersilahkan masuk. Setelah saya makan, tiba – tiba ponsel saya berbunyi dan ada panggilan dari teman saya yang bernama Catur. Kebetulan saat itu dia sedang melaksanakan tugas liputan dan menawari saya untuk melakukan perjalanan ke Bandung. “Tam, gue lagi ngambil kasus 338 nih, abis itu gue mau packing ke Bandung. Kau ikut ya?” Sontak saya kaget mendengar ajakannya. Saya juga mempertanyakan alasan kenapa saya harus ikut ke Bandung, sementara saya harus mudik ke Kebumen, Jawa Tengah. Usut diusut ternyata si Catur ini mendapat cuti liputan hingga hari Minggu dan ingin melakukan perjalanan ke Bandung, Lebakjero hingga ke Jogja. “Tam, kita ke Bandung terus ke Lebakjero motret perkampungan, abis itu ke tempatmu terus ke Jogja deh,” tukasnya dalam rencana perjalanan yang ia inginkan. Spontan saya mengamini niatnya, dan bersiap pulang ke kamar kos untuk mempersiapkan peralatan mudik saya.

Waktu menunjukkan pukul lima sore, dan tak berapa lama Catur menjemput saya. Sore itu saya nampak seperti pasukan Easy Company di film ‘Band of Brothers’ yang akan dikirim ke Normandia, dengan tas punggung menggunung dan tas tergantung di badan. Setelah selesai berkemas saya dibawa Catur ke kediamannya untuk mengambil barang bawaannya.

Rencana perjalanan awal adalah menggunakan Kereta Api (KA), Serayu kelas Ekonomi trayek Jakarta Kota hingga Kroya dengan jadwal pemberangkatan pukul 20.30 WIB. Sekira habis Maghrib kami menuju Stasiun Jatinegara untuk menaiki KA. Commuter menuju Stasiun Jakarta Kota. Setengah jam sebelum keberangkatan kami kehabisan tiket, padahal Idul Fitri sudah berselang beberapa hari. Peraturan PT. KA Indonesia yang baru membuat beberapa pemudik masih tertahan di beberapa stasiun yang berada di Jakarta terutama untuk kelas Ekonomi. Tahun lalu ada prinsip bagi pemudik yaitu ‘yang penting badan kebawa’, maksudnya para pemudik tak mempedulikan kenyamanan, keselamatan dalam transportasi mudiknya. Sungguh sangat miris, tak peduli mau berdesak – desakkan, naik di depan lokomotif atau sambungan gerbong, bagi pemudik yang penting mereka sampai tujuan. Namun tidak dengan mudik tahun 2011 kali ini, pemerintah melalui Dinas Perhubungan bersama PT. KAI menerapkan peraturan baru yaitu maksimal penumpang kelas Eksekutif seratus persen, kelas Bisnis 120 %, kelas Ekonomi 150 %. Jadi tak ada lagi istilah berjubel – jubel naik kereta api terutama kelas Ekonomi. Imbasnya banyak calon pemudik berebut mendapatkan tiket bahkan mereka rela menidurkan dirinya bahkan keluarganya di emperan stasiun untuk mengantri tiket esok harinya. Karena selain itu, PT KAI juga menindak tegas bagi penumpang yang kedapatan tak memiliki tiket, baik itu penumpang sipil atau militer.

Kami berduapun hampir putus asa dan merencanakan untuk kembali ke rumah Catur. Namun sungguh sangat memalukan jika kita sudah membawa barang banyak tiba – tiba tak jadi berangkat. Sebatang rokok habis terbakar akhirnya kami memutuskan kembali ke Stasiun Jatinegara dan menanyakan tiket KA. Argo Parahyangan dengan pemberangkatan pukul 20.45 WIB. Kami tiba di Stasiun Jatinegara pukul 20.30 WIB, langsung saja saya memberi komando pada Catur untuk membeli tiket, dan saya menunggu di lobi stasiun. Akhirnya Catur kembali dengan tampang kecut, jawaban yang sama didapati, “Tiket habis,” katanya. Suara mesin disel lokomotif terdengar dari lobi stasiun seiring seorang pria memberi informasi di pengeras suara, “Perhatikan dari arah barat segera masuk di jalur satu KA. Argo Parahyangan tujuan Bandung,” nada sang informan stasiun. Antara niat dan tidak niat saya datangi loket kembali untuk memastikan tiket dan ternyata masih tersisa dua tempat duduk untuk kelas Eksekutif. Setelah transaksi selesai, dengan kocar – kacir kami lari menuju pintu peron. Sesampai peron kami mencari gerbong yang dimaksud sesuai dengan tiket, dan saat di dalam kami temui petugas keamanan, TNI/ Polri bersama kondektur sedang menyidak gerbong yang kami tumpangi dari penumpang liar. Setelah barang – barang dinaikkan ke bagasi akhirnya kami menikmati perjalanan yang cukup melelahkan dan berakhir dengan kursi yang bisa direbahkan dengan hembusan air conditoning, dan senyum pramugari yang cantik meski ada lelah pula di wajahnya.

Sesuai jadwal tiba pukul 23.46 WIB kami sudah tiba di Stasiun Bandung, dan kami merencanakan untuk melanjutkan perjalanan di Stasiun Kiaracondong menggunakan KA. Ekonomi menuju Lebakjero. Keluar dari Stasiun Bandung beberapa sopir taksi menghampiri kami dengan senyum yang terkesan tawar menawar. Sudah tak ada angkot, dan mau tidak mau kami harus naik taksi untuk menuju Stasiun Kiaracondong. Jaraknya tak seberapa, kata teman saya yang berdomisili di Bandung, jarak antara Stasiun Bandung ke Kiaracondong sekitar dua kilometer. Namun alangkah terkejutnya saat pertanyaan berapa ongkos tersebut ke salah satu sopir taksi, dan ia jawab dengan vonis harga yang mahal. Jarak dua kilometer harus kami bayar senilai Rp. 50.000. Heeeemm, ternyata di Bandung ini saya tak menemukan taksi berargo dan yang ada hanya taksi argo tembak. Setelah tawar menawar harga pas, akhirnya sopir taksi mengalah dengan tarif kesepakatan bersama yaitu Rp. 30.000 untuk jarak dua kilometer. Dan hati – hati beberapa sopir taksi tidak menepati janji, katanya kami mau di antar hingga halaman stasiun, tetapi hanya sampai pintu masuk. Alasannya mereka ogah merogoh kocek lagi untuk membayar parkir, padahal tarif kesepakatan kami diantar hingga pelataran.

Suasana di Stasiun Kiaracondong hampir mirip dengan Stasiun Jakarta Kota. Hamparan jasad yang tak sadar sudah terhampar di depan loket yang sudah tutup. Sejumlah pengumuman tentang tiket kereta yang sudah habis terjual terpampang di dinding loket. Dan mau tidak mau kamipun turut menghamparkan diri di pintu masuk stasiun. Menemani malam, bijih hitam yang diracik sempurna dalam gelas menemani daun kering yang tersulut menggantikan dinginnya kota Bandung. Satu jam berselang, temanku Catur tak sanggup menahan serangan letih dan kantuk yang sudah memborbardir ubun – ubunnya hingga telapak kakinya. Waktu telah melewati pukul dua dini hari, suasana dingin semakin terasa meski tak sedingin belantara hutan Bastogne. Sepertinya saya lupa cara untuk tidur, bahkan saya cemburu pada mereka yang bisa lelap dan nyenyak. Ada beberapa juga yang terjaga, mereka usir kantuk dengan mengobrol, ada yang mendengarkan musik di ponsel mereka dan ada pula membaca koran yang sudah basi berganti hari.

Waktu menjelang pagi, dan kamipun tetap tidak mendapatkan tiket KA yang kami maksud. Daripada kami mengulur waktu, kami putuskan untuk kembali ke Stasiun Bandung dengan menggunakan taksi dengan tarif yang sama. Sesampai di Stasiun Bandung, saya putuskan untuk membeli tiket pulang ke kampung halaman saya di Kebumen, Jawa Tengah. Berbeda dengan suasana di Stasiun Kiaracondong, di Stasiun Bandung tak ada antrian tiket, tak ada kehabisan tiket. Akhirnya saya membeli satu tiket kelas Bisnis, KA. Lodaya tujuan Bandung – Solo, dan Catur hendak berpisah melanjutkan misinya hunting foto ke Subang dengan menggunakan KA. Lokal.

Namun pikiran Catur berubah, akhir dia membeli tiket yang sama dengan saya dan berencana untuk ikut mudik dengan saya. Pukul delapan pagi KA kamipun meninggalkan Bandung. Dan ternyata jalur KA Bandung Selatan lebih menarik daripada jalur KA Purwokerto. Lewati gunung dan lembah sayapun tak mau rugi menggadangkan mata dan mengabadikan dengan kamera dekat pintu bordes kereta, walaupun semalaman saya belum tertidur. Jajaran besi panjang meliuk dan mengular di antara pematang sawah. Bocah – bocah kecil melambaikan tangan saat kereta melintasi menjadi suguhan seperti video berjalan. Udara pegunungan masih terasa menemani laju roda kereta yang terdengar sangat metronom. Saat KA melintasi Nagreg dengan jembatan yang eksotis dan pemandangan jurang beserta jalan raya terhampar di bawahnya, seperti terbang bersama helikopter tanpa pintu. Setelah turun gunung dan memasuki wilayah Tasikmalaya, KA kamipun berhenti silang dengan KA. Argo Wilis di Stasiun Banjar. Di pemberhentian itu, geliat ekonomi mulai memecah keheningan penumpang yang mulai kegerahan. Teriakan susu, kopi, air dalam kemasan bahkan makanan terdengar dari luar gerbong. Setelah KA meninggalkan Stasiun Banjar, kami kembali ke tempat duduk. Suasana pemandangan sudah tak begitu menarik, hanya bentaran sawah gersang yang luas seperti tanpa kehidupan. Selain itu sisa tenaga semalam karena belum tidur ditambah hembusan angin siang membuat saya menutup kelopak mata.

Waktu menunjukkan hampir jam satu siang dan posisi KA sudah mendekati Maos menuju Kroya, pertanda bahwa tujuanku untuk Kebumen sudah hampir sampai. Jarak Kroya ke Kebumen jika ditempuh dengan KA hanya setengah jam. Segera bangun dari tidur sesaat lalu membasuh wajah di toilet kereta. Pukul satu 13.30 WIB kereta kami tiba di Stasiun Kebumen. Dari puluhan tukang ojek menanti, akhirnya aku mengenali sosok yang menjemputku dan di sana sudah ada adik dan pamanku yang menjemput. Dari perjalanan itu, meski kami harus menyambung tapi kami punya satu tujuan yaitu jalan – jalan tambah pengalaman. Seperti gerbong kereta sambung menyambung menjadi satu rangkaian sebuah perjalanan. (tam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar