Kamis, 01 September 2011

Nasional - Daftar Kampus Para Presiden RI


JAKARTA, (LP) - Seorang pemimpin dapat menjadi teladan bagi anak buahnya. Terutama para presiden Indonesia dengan segala usahanya untuk memajukan nusantara di tingkat dunia.
Segala tindakan dan upaya yang mereka lakukan demi kemajuan bangsa, tidak terlepas dari pendidikan yang mereka dapatkan sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Kali ini, kamu akan diajak secara khusus untuk mengenal lebih dekat masa kuliah orang nomor satu di Indonesia ini.

1. Soekarno
Presiden pertama Indonesia ini meraih gelar Insinyur (Ir) dari Technische Hoge School yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1926 silam.

2. Soeharto
Pria yang menjabat sebagai presiden RI selama 31 tahun ini mengawali pendidikannya di SD Desa Puluhan ketika usianya delapan tahun. Kemudian, dia dipindahkan ke SD Pedes Yogyakarta.

Setelah lulus Sekolah Rendah (SR) selama empat tahun, ayah dari enam orang anak ini melanjutkan sekolah ke sekolah lanjutan rendah di Wonogiri. Namun, di usianya yang menginjak 14 tahun, dia melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah Yogyakrta.

Pria yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 tersebut tidak pernah melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi lantaran orangtuanya tidak memiliki biaya. Lantas, pada 1940, Soeharto melanjutkan pendidikannya di bidang kemiliteran. Pria yang tutp usia pada 27 Januari 2008 ini pun resmi bergabung dengan TNI pada 5 Oktober 1945.

3. BJ Habibie
Presiden dengan masa jabatan tersingkat ini mengenyam pendidikan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, baru satu tahun menempuh pendidikan di kampus tersebut, dia melanjutkan pendidikannya ke Technische Hochschule, Jerman.

Pria kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini pun mendapatkan gelar Diploma dan Doktor dari institusi tersebut pada 1960 dan 1965.

Penerima penghargaan Theodore van Karman Award ini, mendalami kuliah bidang konstruksi pesawat terbang dan meraih predikat Summa Cum Laude. Mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Ristek) ini pun dinobatkan sebagai Guru Besar (Gubes) di ITB pada 1967.

4. Abdurrahman Wahid
Pria kelahiran Jombang, 4 Agustus 1940 ini mengawali pendidikan tingginya di Al-Azhar University, Kairo, Mesir melalui program beasiswa yang diberikan oleh Kementerian Agama RI pada 1964 hingga 1966.

Tidak puas dengan metode pendidikan yang diajarkan universitas Al-Azhar, Gus Dur sapaan akrab ayah empat orang putri ini kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Baghdad, Irak. Mahasiswa Fakultas Adab Jurusan Sastra Arab ini, berhasil meraih gelar sarjana pada 1970.

Gusdur pun berniat melanjutkan studinya ke Universitas Leiden, Belanda. Sayangnya, pendidikannya selama di Universitas Baghdad kurang diakui oleh Negara Tulip tersebut.

5. Megawati Soekarnoputri
Satu-satunya presiden wanita di Indonesia ini merupakan mahasiswi Universitas Padjajaran (Bandung) dalam bidang pertanian. Namun, karena kondisi politik saat itu tidak kondusif, maka keluarga presiden (Soekarno) harus diungsikan. Hal ini mengakibatkan pendidikan wanita kelahiran Yogyakarta, 23 Januari 1947 ini terpaksa terhenti.

Megawati pun kembali melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia (UI) dengan mengambil jurusan Psikologi. Namun, pendidikannya kali ini pun juga tidak selesai.

6. Susilo Bambang Yudoyono (SBY)
Pria kelahiran Pacitan, 9 September 1949 ini memiliki latar belakang pendidikan yang cukup panjang mulai dari dalam maupun luar nageri, yakni :

- Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
- American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
- Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
- Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
- On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
- Jungle Warfare School, Panama, 1983
- Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
- Kursus Komando Batalyon, 1985
- Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
- Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
- Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
- Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004 (tams/okz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar