Kamis, 25 Agustus 2011

Pojok Kata - Namaku Kitab Yang Terlupakan


Aku telah menjadi saksi sejak kau lahir; Sebuah lembaran - lembaran Kalamulloh yang terajut sempurna.

Aku teringat dahulu saat kau timang aku, lalu kau pelajari aku.

Mungkin saat itu umurmu juga masih dini; Namun kau begitu bangga, saat kau mampu mengkhatam aku. Dan kau ceritakan pada orang tuamu, gurumu bahkan teman - temanmu, bahwa kau bisa mengenalku lebih dalam.

Hampir tiap malam kau baca aku, walau mungkin hanya beberapa potong & aku senang.

Kini engkau telah beranjak dewasa; yang penuh kesibukan seiring menyusutnya usiamu.

Mungkin kini aku hanya sebagai penghias rak - rak bukumu.

Atau mungkin terselip kertas- kertas tugasmu yang terkadang berlumur debu.

Saat kau pulang, peranti selulermu sudah kau genggam dah kau lintasi aku sambil lalu.

Hingar bingar TV, mesin bergambar yang siap kau ketik menggantikan merdu suaramu saat kau baca aku.

Akankah kau sempatkan waktu untuk menyentuh & membacaku dengan santun merdumu?

Jangan biarkan aku lusuh tak tersentuh.

Karena aku adalah penjagamu yang abadi sampai kau mati.

Bacalah aku, karena aku bisa menjadi penuntunmu di kala tak ada daya yang mampu menolongmu.

Bacalah aku, karena aku mampu menenangkan kegalauanmu.

Aku hanya bisa mengingatkan selagi aku belum terlalu lusuh.

Sebelum tutup usiamu; Hingga aku menjadi saksi bahwa kau pembaca setiaku,"Al-Qur'annul Kariim"

Ullifna T (Jakarta,07082011)

Rabu, 24 Agustus 2011

NUSANTARA - Lebah Terpanjang di Dunia Ada di Sulawesi

Jakarta, LP - Majalah ilmu pengetahuan NewScientist memberitakan kabar ditemukan jenis lebah di Sulawesi yang bisa dikategorikan sebagai salah satu lebah terpanjang di dunia. Panjangnya hampir empat sentimeter.

Menurut para peneliti, rahangnya begitu besar. Kaki depan lebah lebih panjang sehingga sulit untuk memahami cara mereka bisa berjalan.

Lynn Kimsey dari University of California menemukan serangga besar tersebut sewaktu ekspedisi terakhir ke Pegunungan Mekongga Sulawesi. Dia berencana menamakan lebah ini "Garuda" seperti tokoh mitologi Indonesia yang sebagian manusia sebagian elang.

Kimsey menyatakan, tawon ini kelihatannya bukan spesies umum. Ia hanya menemukan enam lebah dalam tiga tahun penyelidikan. ''Rencana menggali sebuah tambang nikel baru di Pegunungan Mekongga akan menjadi berita buruk bagi sang tawon,'' kata Kimsey.

Anehnya, mereka tidak dinobatkan sebagai lebah terbesar di dunia. Penghargaan ini diberikan kepada sejenis lebah beranama "tarantula elang" yang panjangnya mencapai lebih dari 6 cm. Seperti namanya, lebah ini sangat senang berburu tarantula. (tams/REP)

Rabu, 20 Juli 2011

Nasional -- Mistani Nenek Yang Tinggal di Gubuk Reot Bersama Tujuh Bebek

Jakarta, LP — Mistani (90), warga Dusun Soloh Timur, Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, memaksanya tinggal di gubuk reot berukuran 3 x 2 meter. Nenek renta ini tidak tinggal sendiri, tetapi ditemani tujuh ekor bebek piaraannya.

Memang sungguh miris mengetahui keadaan Mistani yang hidup dibawah garis kemiskinan, apalagi jika dibandingkan dengan kasus - kasus yang sedang terjadi di negeri ini, yang mana beberapa elit parpol yang sibuk berkonflik.

Rumah tinggalnya sekaligus berfungsi sebagai kandang bebeknya. Bau amis menyeruak di dalam rumahnya. Sebab, kotoran bebek dan kotoran Mistani bercampur menjadi satu. Di rumah itu, memang tidak dilengkapi tempat mandi cuci dan kakus (MCK) yang memadai.

Berdasarkan penuturan Mistani, setelah suaminya, Sumo, dan anaknya, Asmo, meninggal dunia beberapa tahun silam, dirinya tinggal sebatang kara. Tak ada sanak familinya yang membantunya. "Suami dan anak saya menjadi sandaran satu-satunya. Namun, keduanya sudah meninggal," katanya, Rabu (20/7/2011), dengan nada terbata-bata.

Rumah yang ia tempati saat ini bukanlah miliknya, melainkan tempat tinggal yang dibuatkan oleh para tetangga Mistani. Munawar (45), tetangga Mistani, mengatakan, setelah ditinggal suaminya, Mistani tidak punya tempat tinggal sehingga masyarakat bertekad untuk membuatkan gubuk sederhana.

Selama tinggal di gubuk reot tersebut, kebutuhan makan Mistani hanya menunggu belas kasihan para tetangganya. Selama ini yang rajin memberi makan Mistani adalah Wati. "Saya tidak tega melihat dia karena sudah tua renta dan tidak bisa bekerja mencari nafkah lagi," tutur Wati.

Satu-satunya kekayaan Mistani adalah tujuh bebeknya. Untuk memenuhi pakan ketujuh bebeknya, Mistani selalu menyisihkan makanan dari hasil pemberian para tetangganya. "Kalau bebeknya bertelur saya jual," imbuhnya.

Melihat penderitaan Mistani, Pemerintah Daerah Pamekasan pun tergerak untuk membantunya. Mistani harusnya masih bisa bernapas lega. Pasalnya, kini ia memperoleh santunan uang sebesar Rp 2 juta. Santunan tersebut menurut Bupati Pamekasan Kholilurrahman untuk biaya hidup sehari-hari. "Sementara itu yang bisa kami bantu. Selanjutnya akan kami upayakan pembangunan tempat tinggal yang lebih layak sekaligus dengan biaya hidupnya," kata Bupati Kholil. (tams/ tribun)

Internasional -- Lima Bahasa di Dunia Yang Sulit Dipelajari

Jakarta, LP - Mempelajari bahasa asing memang bukan hal yang mudah. Ada huruf yang berbeda, susunan kata yang tidak biasa, sampai pengucapan kata yang asing di lidah.

Menurut penelitian, seseorang paling mudah mempelajari bahasa dengan susunan kata dan pengucapan yang mirip dengan bahasa sehari-harinya. Masing-masing bahasa mempunya tingkat kesulitan yang berbeda. Berikut lima bahasa yang paling sulit dipelajari seperti dikutip dari thirdage.

1. China
Bahasa China dianggap sulit dipelajari karena sangat menekankan pada intonasi. Penekanan intonasi yang berbeda bisa membuat arti kata yang diucapkan sangat berbeda. Tak hanya itu, ribuan huruf China yang sulit dan rumit membuat bahasa yang cukup populer di dunia tersebut makin susah untuk dipelajari.

2. Arab
Untuk orang Eropa, bahasa Arab memiliki kemiripan yang sangat sedikit dengan bahasa mereka. Membaca tulisan dalam bahasa Arab juga dianggap agak sulit karena pengucapan vokal yang agak berbeda dengan bahasa Inggris. Sama seperti bahasa Cina, huruf-huruf Arab juga menjadi salah satu kesulitan jika ingin cepat mempelajari bahasa ini. Perubahan bentuk huruf dalam kalimat yang berbeda ketika suatu huruf digabungkan juga membuat belajar bahasa Arab lebih menantang.

3. Jepang
Lagi-lagi bahasa dengan huruf yang rumit masuk dalam daftar ini. Jepang, seperti sudah banyak diketahui memiliki ribuan karakter dengan sifat yang berbeda. Selain ribuan karakter, ada tiga cara penulisan dan dua jenis daftar suku kata membuat orang harus memiliki ingatan yang kuat ketika mempelajari bahasa Jepang.

4. Korea
Struktur kata, pemahaman kalimat, dan konjugasi kata kerja yang berbeda membuat bahasa Korea bukan bahasa yang mudah diserap. Selain struktur penggunaan kata, huruf-huruf Korea yang tak kalah rumit juga membuat bahasa asal bintang K-Pop tersebut sulit dipelajari dengan cepat.

5. Hungaria
Bahasa Hungaria dianggap sulit dipelajari karena tidak memiliki kemiripan atau rumpun yang sama dengan bahasa apapun. Tidak seperti bahasa Indonesia yang memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Malaysia, bahasa Hungaria tidak mirip dengan bahasa apapun. Karena itu seseorang harus mulai dari nol untuk mempelajarinya.

Kesulitan lain ketika mempelajari bahasa Hungaria adalah bahasa ini memiliki sifat kata untuk penyebutan feminin, maskulin, dan netral gender. Selain itu, 7 konjugasi yang berbeda juga membuat bahasa negara yang terletak di benua Eropa tersebut makin rumit untuk segera dipahami. (tams/ detik)

Kamis, 09 Juni 2011

Contoh Pidato Rekreatif: NASIONALISME MUSIK INDONESIA

NASIONALISME MUSIK INDONESIA

Assalamualaikum. Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Puji Syukur ke hadirat Alloh SWT yang telah memberikan Rahmat-Nya kepada kita dan mampu mengumpulkan kita di kesempatan yang baik ini.

Kepada Yth. Ibu Rektor IISIP, Ir. Maslina W. Hoetasoehoet beserta staf kampus yang saya hormati.

Kepada rekan – rekan dari Lovely Crew yang saya banggakan karena acara pagelaran musik bisa terselenggara.

Kepada peserta band dan teman – teman yang saya cintai, karena kita berada di Kampus Tercinta IISIP Jakarta.

Perkenankan saya Ullifna Tamama sebagai ketua panitia Pagelaran Musik Disini Kita Berjumpa memberi beberapa patah kata.

Di pagi yang cukup cerah ini saya yakin di antara teman – teman yang hadir bisa memainkan alat musik.

Jika tidak, semuanya yang hadir disini pasti suka mendengarkan musik.

Bicara soal musik, pasti banyak aliran musik yang teman – teman ketahui. Atau bahkan di antara kalian pasti juga memiliki aliran musik tersendiri a/l: Brit Pop, Pop, Punk, Hip hop, Hardcore atau bahkan dangdut.

Teman – teman sekalian yang saya cintai, adakah di antara kalian bisa memainkan satu alat musik?

Hmmm, sungguh senang ya jika kita bisa memainkannya. Kalau saya sendiri tidak bisa memainkan alat musik, seandainya bisa saya juga tidak bisa memainkannya secara baik.

Pernah saya didatangi teman, yang kebetulan mendapati saya sedang memegang gitar. Lalu ia bertanya pada saya,”Tam, kamu bisa nggitar. Ajarin main gitar dong?” Spontan saya jawab,”Waduuh, aku ngga bisa main gitar lokal kaya gini. Aku biasa mainin gitar Inggris karena kuncinya ngga seperti gitar yang kaya gini. Kalau yang ini kan kuncinya dari A – G, kalau gitar Inggris kan bisa pakai kunci Inggris 11, 13, 14,” jawab saya.

Seperti contoh bermain gitar, hakikatnya semua dari kita bisa memainkannya. Ucapan ini saya petik dari lagu Radiohead yang berjudul ’Anyone Can Play Guitar’. Di dalam lagu ini Jonny Greenwood sang gitaris Radiohead meyakinkan bahwa sesungguhnya kita semua bisa memainkan gitar. Lihat saja saat Jonny Greenwood beraksi, tidak selamanya ia memainkan gitar dengan kunci – kunci yang lazim. Terkadang ia menggunakan koin untuk digesekan pada senar gitarnya, atau kadang ia memukul – mukul gitarnya. Bahkan ia pernah menggesekan alat gesekan biola pada gitarnya di lagunya yang berjudul ‘Pyramid Song’. Dari semua itu bertujuan agar mendapatkan suara yang unik dari gitar tersebut.

Di pagi yang penuh semangat ini saya yakin, Indonesia memiliki bakat musik yang menarik. Apalagi saya tidak meragukan kemampuan teman – teman yang hadir di kesempatan pagelaran musik kali ini.

Apalagi Indonesia yang memiliki banyak suku dan budaya, dan saya tidak meragukan kemampuan musik orang – orang Indonesia. Karena saya juga yakin setiap suku memiliki alat musik tersendiri.

Namun ada yang saya sayangkan, dimana nasionalisme kita dalam bermusik? Kita ini negara yang kaya yang penuh peradaban dalam bermusik, tetapi kenapa gaya bermusik kita belum nampak rasa nasionalisme kita. Dan yang ada pola kita masih kebarat – baratan.

Asal teman – teman tahu, budaya musik kita telah dilirik musisi – musisi asing, bahkan yang tenar sekaligus. Saya ambil contoh bagaimana band Inggris memainkan musik dengan instrumen yang mirip bahkan persis dengan budaya kita, kalian pernah mendengar nama Cold Play dan Radiohead?

Ada sebuah lagu dari Cold Play yang berjudul ‘ Strawberry Swing’ yang instrumennya mirip dengan musik Dayak di Kalimantan. Ada juga Radiohead dengan lagunya yang berjudul ‘Let Down’ dan ‘Go Slowly’ yang di dalam lagu itu juga mirip dengan musik atau sebuah langgam dari Jawa Tengah.

Belum lagi cerita dua band hardcore dari Rusia yang mengambil nama ‘SUMATERA’ dan ‘INDONESIA’.

Lantas ada juga seoang gitaris Yeah Yeah Yeahs yang notabenenya berasal dari Amerika yang rela menempelkan stiker bergambar bendera Indonesia yang bertuliskan ’50 Tahun’ dan di sisi atasnya tertempel stiker yang bertuliskan ‘I Love INDONESIA’. Padahal kalian tahu sendiri terutama bagi seorang gitaris bahwa menempelkan stiker di gitar bukan hal sembarang melainkan memiliki pesan makna tersendiri. Lantas apa kata Nick Zinner gitaris Yeah Yeah Yeahs yang menempelkan stiker Indonesia di gitarnya,"I truly feel Indonesia is one of the most amazing places in the world, and even though politically its pretty fucked up, the culture and people are really inspiring,” katanya. Yang dalam Bahasa Indonesia berarti, "Saya benar-benar merasa Indonesia adalah salah satu tempat paling menakjubkan di dunia, dan meskipun politik yang sangat kacau, budaya dan orang-orang yang benar-benar inspiratif," ujar Nick.

Kalian bisa mengerti teman – teman? Lihat saja musisi – musisi dari luar negeri itu saja tertarik kepada budaya kita, lantas kenapa kita harus malu membudidayakan budaya kita dalam bermusik seperti ‘Bondan and Fade To Black’ yang juga telah memasukan unsur keroncong dalam musiknya? Kapan kalian akan beraksi menampilkan budaya musik negara kalian di kancah internasional?

Di akhir pidato ini, saya hanya berpesan kepada teman – teman, terutama musisi – musisi yang hadir di kesempatan ini. Kita boleh memiliki aliran musik tersendiri yang mungkin juga mengadopsi dari luar negeri, tetapi masukanlah sedikit atau lebih juga lebih baik unsur – unsur budaya kita dalam hal bermusik.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih, mohon maaf jika ada kekurangan. Dan jangan lupa, ‘Mari kita iramakan dunia dengan Musik Indonesia’.

Wassalam. Wr. Wb

Internasional-- Bahasa Indonesia Diminati di Norwegia

Jakarta, LP - Bahasa Indonesia direspons positif warga asing, khususnya di Norwegia. Duta Besar RI untuk Oslo, Norwegia, Esti Andayani mengatakan Bahasa Indonesia banyak digemari warga Oslo. Kondisi ini mampu mempererat hubungan Indonesia dan Norwegia.

Respons positif itu terlihat dalam acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional sekaligus gathering para peserta dan alumni kursus. Acara dihadiri warga Norwegia yang mengikuti kursus Bahasa Indonesia di KBRI. Sekretaris Tiga KBRI Oslo Febby Fahrani mengatakan, Kamis (26/5), Bahasa Indonesia memiliki arti penting dalam memperkokoh semangat kebangsaan. Antara lain yang dirintis sejak Budi Utomo pada 1908 yang diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional hingga Sumpah Pemuda pada 1928.

Gathering ditutup dengan pemutaran video pariwisata Indonesia dan jamuan makan malam dengan sajian hidangan khas Indonesia berupa bihun goreng, bakwan sayur, lumpia, rempeyek, keripik pisang dan es teler. Diharapkan membuat masyarakat Norwegia semakin memahami Indonesia. (ANT/tams)

Senin, 06 Juni 2011

Pojok Sajak >> Mati Kuyup Di antara Dongeng Cabul Yang Cebol

Keramaian itu beranak pinak, bukan di depan mata; tapi terselip di balik ketiak. Akupun terhimpit di antara lalu lalang semut di ruang sempit.

Matahari tak pandang bulu, menyoroti langkah mahluk penyendawa di antara rasanya yg ingin tahu. Sesekali Tuhan mengedip padaku, di antara langkahku yang terbentar pada mighrab sajadah lusuh & kaku. Lantas mana komat-kamit doa yang terpanjat?

Ooo, aku lupa belum cebok, belum sikat gigi, belum cuci muka & raga. Lantas kemana air tobat itu; di kamar mandiku hanya tersisa satu gayung saja.

Ya, sepertinya aku butuh tukang ledeng yg berotak ulama, bukan ulama berotak tukang ledeng. Agar pastinya bukan hanya 'becek' tapi berilmu.

Pungkasan, oh pungkasan. Dimana awal cerita ini, aku ingin segera mengakhiri di antara lirikan mata yang mematai.

Lekaslah purnatugaskan wahai tukang ledeng. Ingin aku cebokkan dan basuhkan, agar aku bisa menikmati candu tiap tetesnya.

Basahi lalu sujudkan dan di antara hikayat paripurna hidup aku berhenti menekan 'QWERTY' di antara dongeng cabul yang pernah kudengar dalam hati.

(tams)