Selasa, 17 Juli 2012

PENDIDIKAN - Siswa Salah Satu SMP di Bengkulu Bawa Kursi Sendiri Untuk Belajar

Masa Orientasi Siswa di sekolah (Ullifna. T/LP)
Jakarta, LP - Siswa baru di SMP 13 Kecamatan XIV Kota, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, swadaya membawa kursi plastik dari rumah masing-masing agar bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu.

"Ada sekitar empat ruang belajar di sekolah itu belum memiliki kursi dan meja jadi siswa yang baru diterima di SMP 13 terpaksa membawa kursi sendiri dari rumah mereka," kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Mukomuko, Mujiono di Mukomuko, Senin (16/7).

Namun pihak sekolah, kata wakil rakyat yang tinggal di dekat dengan sekolah tersebut, tidak mewajibkan siswa baru tersebut membawa kursi dari rumah, hanya saja kesadaran dari mereka yang diterima di sekolah tersebut agar bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM).

"Memang tidak ada kewajiban bagi siswa harus membawa kursi dari rumah namun dengan kondisi ruang belajar sekolah yang tidak mungkin siswa duduk di lantai," ujarnya menambahkan.

Kondisi serupa siswa baru membawa kursi dari rumah juga terjadi terhadap siswa SMP itu tahun 2011.

"Tahun 2011 siswa juga membawa kursi dari rumah karena pihak sekolah tidak bisa menyiapkan fasilitas itu bagi siswanya," kata dia.



"Ada sekitar empat ruang belajar di sekolah itu belum memiliki kursi dan meja jadi siswa yang baru diterima di SMP 13 terpaksa membawa kursi sendiri dari rumah mereka."

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Mukomuko Nurhasni mengatakan, tahun ini telah dialokasikan dana sebesar Rp652 juta untuk pembelian kursi dan meja bagi 11 ruang belajar SD, 11 ruang belajar SMP dan dengan jumlah yang sama untuk SMA.

Sedangkan sekolah-sekolah yang menjadi sasaran bantuan kursi dan meja itu, kata dia, pihak sekolah yang telah mengajukan proposal selain penilaian berdasarkan survei serta jumlah grafik siswa di sekolah tersebut.

Ia menerangkan, kegiatan pengadaan kursi dan meja untuk sekolah di daerah itu baru tahun ini dilakukan setelah kurang lebih tiga hingga empat tahun tidak ada kegiatan tersebut.

"Saya masuk di dinas pendidikan sejak 2010 hingga sekarang dan selama itu belum ada kegiatan pengadaan kursi dan meja," ujarnya.

Ia mengakui, setiap tahun terus terjadi penyusutan kursi dan meja sebanyak 15 persen namun setiap sekolah punya anggaran untuk melakukan rehab ringan seperti dana bantuan operasional sekolah untuk tingkat SD dan SMP sedangkan tingkat SMA dari sumbangan komite. (tams/ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar